Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Mei 2013

Sejarah Martir Otranto Di Roma

17 Mei 2013
Sumber : Wiki





Paus Francis pada hari Minggu kemarin melakukan ritual suci dalam memperingati ratusan martir abad ke-15 yang dipenggal kepalanya karena menolak masuk Islam sebagai bagian dari upacara kanonisasi pertamanya di Lapangan Santo Petrus.

"Martir Otranto" adalah suatu kejadian pembantaian 813 orang Italia yang tewas di kota Italia selatan pada tahun 1480 karena menentang tuntutan penjajah Turki yang menyerbu benteng untuk meninggalkan keKristenan mereka.

Paus Francis mengatakan kepada orang banyak bahwa martir adalah sumber inspirasi, utama bagi "begitu banyak orang Kristen, yang, disaat ini dan di banyak bagian dunia, masih mengalami tindak kekerasan." Dia berdoa agar mereka menerima "keberanian loyalitas dan untuk menanggapi kejahatan dengan kebaikan. "

Di bawah ini akan diceritakan sekilas sejarah Martir Otranto, latar belakang hingga dampak dari kejadian ini.



Pada tanggal 14 Agustus 1480, suatu pembantaian terjadi di atas sebuah bukit di luar kota Otranto, Itali Selatan. Lebih dari 800 orang laki-laki diambil dari kota itu dan dibawa ke sbuah tempat yang bernama Bukit Minerva, dan satu persatu dipenggal kepalanya di hadapan seluruh tawanan. Tempat itu dikenal sebagai Bukit Martir.



Dalam perang abad pertengahan sesudah masehi, eksekusi berdarah dari suatu populasi kota sudah menjadi kebiasaan, akan tetapi apa yang terjadi di Otranto adalah unik. Korban-korban tersebut dibunuh bukan karena musuh politik atau bahkan menolak menyerahkan kotanya. Mereka mati karena menolak meninggalkan Kristen dan menganut Islam. 800 orang Otranto itu menjadi martir, korban-korban awal atas penguasaan Itali dan keKristenan oleh pasukan Kekaisaran Ottoman. Karena pengorbanan mereka, invasi Ottoman menjadi lambat dan Roma terhindar nasib yang sama yang menimpa Konstantinopel 27 tahun sebelumnya.

Mehmet Si Penakluk

Pada 29 Mei 1453, kota Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantin sejak ditemukan oleh Konstantin di abad 4, jatuh ke tangan 250 ribu pasukan Turki Ottoman di bawah komando Sultan Mehmet II yang masih berusia 21 tahun. Dengan gelar el-Fatih (sang penakluk), Mehmet melengkapi perang berkepanjangan melawan Bizantin dan merubah kota Kristen itu menjadi ibukota baru bagi kekaisaran Islamnya dan meluncurkan rencana-rencana terbarunya untuk mendominasi negara-negara Barat.

Pasukan Ottoman melakukan pergerakan menuju jantung Eropa. Mehmet mengepung kota Belgrade, tapi pasukannya dilawan orang-orang Hungaria. Meskipun demikian, kampanye itu berakhir dengan penaklukan Serbia dan secara strategis berpengaruh terhadap sisa negara-negara Balkan, termasuk Wallchia (Rumania) dan Moldavia. 

Mehmet tetap tidak berhenti di situ. Dikalahkan di tahun 1475 oleh Stephen sang pembesar Moldavia di Perang Vaslui, Sultan Mehmet II menunggu hingga tahun berikutnya untuk melancarkan serangan balasan. Saat itu ia menghancurkan Moldavia di Perang Valea Alba. 

Mehmet berencana untuk menyelesaikan misinya yang ia tetapkan di tahun 1453. Setelah jatuhnya Konstantinopel, Mehmet menamai dirinya (selain el-Fatih) Kaysen -i Rum (Kaisar Roma) dengan dasar bahwa ia adalah penerus kesuksesan mahkota Kekaisaran Bizantin dan juga seorang keturunan dari Theodora Kantakouzenos (putri dari Kaisar Bizantin John VI Kantakouzenos) yang menikah dengan Sultan Orhan I (1326-1359). Mehmet menyerukan maksudnya untuk menginvasi Itali, menaklukan Roma dan membawa serta kedua Kekaisaran Roma tersebut.

Kampanye itu juga menandai kekalah final dari orang Kristen di Eropa dengan konversi kota yang dikenal sebagai kota para Paus.
St. Peter Basilica pun digunakan sebagai markas pasukan berkuda Ottoman.

Rencana-Rencana Sultan Untuk Itali

Mehmet menghentikan pengepungan Rhodes - secara brilian dipertahankan terus oleh Pasukan Ksatria Rhodes - dan memerintah pasukan darat dan laut Turki untuk berlayar ke semenanjung Itali. Inisial targetnya adalah kota Brindisi, di Puglia (atau Apulia), ujung tenggara dari semenanjung sepanjang Laut Adriatic.

Cuaca di Adriatic tidak bersahabat, meskipun begitu angin memaksa armada lautnya berlabuh bukan di Brindisi namun 50 mil arah selatan, di Roca, dekat kota Otranto. Kota ini berada di lokasi tepi laut timur dari sub-semenanjung Salento. Di tahun 1480, area itu adlaah Neapolitan/Aragonese, artinya berada dibawah kontrol United Kingdoms of Naples dan Aragon.

Pagi hari tanggal 29 Juli, sebuah pandangan yang tidak menyenangkan terlihat dari dinding-dinding kota Otranto. Armada Ottoman berlabuh tidak jauh dari kota. Ribuan pasukan dan pelaut berbaris ke arah kota, dimana pasukan garnisun kota hanya berjumlah 400 orang.
Benteng kota tidak memiliki meriam, dan pemimpin pasukan kota Francesco Largo menyadari limit persediaan dan air. Menyerah adalah sebuah pilihan yang mungkin, karena tidak akan mungkin bertahan dalam keadaan dikepung. 

Keadaan Tragis Akibat Menyerah

Bagi penduduk Otranto, kekalahan Konstantinopel masih dalam benak mereka. Ketika di tahun 1453 pasukan Ottoman bergerak ke sebuah gereja termasyur yaitu Hagia Sophia di Turki. Setelah merobohkan pintu gerbang gereja, pasukan Turki itu menemukan gerombolan orang yang sedang berdoa berharap suatu mukzijat datang. Orang-orang Kristen itu ditangkap dan dipisah berdasarkan usia dan jenis kelamin. Bayi-bayi dan orang-orang tua secara brutal langsung dibunuh, laki-laki diangkut dengan gerobak kereta ke pasar budak, dan para wanita dan anak gadis diambil para prajurit atau dijadikan budak.

Di Otranto, syarat-syarat yang diajukan Pasha untuk menyerah ditolak mentah-mentah oleh sisa orang-orang Kristen Otranto yang masih bertahan di benteng. Dengan hanya menggunakan panah serta air dan minyak panas yang dituangkan dari atas benteng, mereka terus bertahan melawan 18 ribu pasukan Ottoman yang terus berusaha memanjat dinding benteng. 

Usaha itu akhirnya berakhir pada tanggal 12 Agustus setelah terus berjuang selama 2 minggu. Orang-orang Ottoman berhasil menghancurkan satu sisi dari dinding benteng dengan meriamnya dan kemudian dengan membabi buta masuk ke dalam kota dan membunuh setiap orang yang ada di hadapan mereka. 

Pembantaian Dan Perbudakan 

Di saat kejatuhan Konstantinopel di tahun 1453, di dalam gereja Hagia Sophia, pasukan Ottoman memerintah uskup besar Stefano Agricoli untuk membuang salibnya, menyangkal imannya dan memeluk Islam. Ketika ia menolak, kepalanya langsung dipenggal di hadapan jemaat gereja yang saat itu sedang bersama-sama berdoa. Demikian juga yang terjadi dengan uskup Pendinelli dan Count Largo (disinyalir dipotong menjadi dua). Sesudah seluruh pendeta dibunuh katedral dibersihkan dari seluruh unsur Kristiani, dan dirubah menjadi kandang kuda.

Nasib orang-orang Otranto hampir sama dengan yang dialami orang-orang Konstantinopel. Semua laki-laki diatas usia 50 tahun dibantai, para wanita dan anak-anak dibawah usia 15 tahun juga ikut dibunuh atau dibuang ke Albania menjadi budak. Berdasarkan sumber-sumber yang ada, total yang mati diatas 12 ribu orang, dan yang dijadikan budak hingga 5 ribu orang.

Kematian Akibat Kemurtadan

Pasha Ahmet memerintahkan orang-orang Otranto - yaitu 800 orang yang sudah kelelahan, orang-orang yang dipukuli dan orang-orang yang masih hidup sesudah pertempuran - dibawa kedepannya. Pasha memberitahukan mereka bahwa hanya ada satu pilihan, yaitu mati atau mengkonversi ke Islam. Untuk meyakinkan mereka, ia menginstruksikan seorang pendeta Itali yang murtaad bernama Giovanni untuk berkotbah. Pendeta itu menyerukan demi kelangsungan hidup orang Otranto untuk meninggalkan iman Kristiani mereka, menolak gereja, dan menjadi Muslim. Sebagai imbalan, Pasha akan menghormati mereka dan menjanjikan banyak keuntungan.

Salah seorang dari orang-orang Otranto, seorang tukang pakaian bernama Antonio Primaldi (atau Antonio Pezzulla) maju ke depan dan berbicara kepada seluruh orang yang selamat. Ia berseru bahwa ia siap seribu kali untuk mati bagi Kristus. Ia berkata, "Saudara-saudaraku, hingga hari ini kita telah berjuang untuk bangsa kita, menyelamatkan nyawa kita, dan untuk Tuhan kita; kini tiba saatnya bahwa kita berperang untuk menyelamatkan roh kita untuk Tuhan, yang mati di kayu salib untuk kita, hal yang baik bahwa kita mati untuk Dia, tetap teguh dan konstan dalam iman, dan dengan kematian awal ini kita sudah seharusnya memenangkan hidup abadi dan glory untuk martir." (Historia della guerra di Otranto del 1480)

Orang-orang Otranto pun menangis dengan tetap memegang teguh iman mereka. Kemarahan Pasha berakibat keputusan final : mati.

Pagi harinya, tanggal 14 Agustus, 800 tahanan dikumpulkan bersama dan diikat dengan tali dan digiring ke Bukit Minerva. Mereka terus mengulangi janji mereka untuk beriman kepada Kristus. Pilihan eksekusi pertama jatuh kepada Antonio Primaldi.

Si tukang pakaian itu menyerukan peringatan akhirnya kepada teman-temannya dan berlutut di hadapan eksekutor. Darah tertumpah dan kepalanya terpenggal. Namun berdasarkan penulis kronik Saverio de Marco (Compendiosa istoria degli ottocento martiri otrantini - The Brief History of the 800 Martyrs of Otranto), badan tanpa kepala itu tetap tegak. Mayat itu sudah seharusnya tidak bergerak, dan memang tetap dalam posisi yang sama selama eksekusi terjadi. Kejadian yang dianggap mukjizat ini membuat salah seorang eksekutor justru tertegun dan malah mengkonversi dirinya sendiri, dan tanpa ampun ia pun ikut dibunuh. Mayat-mayat itu dikumpulkan dalam kuburan massal, dan orang-orang Turki bersiap untuk memulai barisan mereka bergerak ke semenanjung menuju Roma. Otranto pun hening, populasinya hilang, laki-lakinya mati dan dibuang di parit, seakan terlupakan.

Pengorbanan Yang Menyelamatkan Itali

Pada tanggal 3 Mei 1481, tiba-tiba Sultan Mehmet II mati di usianya yang ke 49 di markas besarnya di Gebze ketika sedang mempersiapkan rencana perang berikutnya. Disinyalir ia diracun oleh orang Venesia.

Setelah Pasha Ahmed pun akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Adrianopel, ambisi Ottoman di Itali berakhir. Jika saja Otranto menyerah kepada orang Turki, sejarah Itali mungkin bisa jadi lain, karena pembantaian ini adalah alarm bagi seluruh Itali sehingga membuat kota-kota di seluruh Itali mempersiapkan pasukan sucinya melawan Turki, bahkan Hungaria dan Perancis juga ikut bergabung. Namun kepahlawanan orang-orang Otranto lebih dari sebuah pendirian yang tegas. Apa yang membuat pengorbanan Otranto begitu hebatnya adalah kerelaan untuk mati untuk mempertahankan iman daripada menolak Kristus.

Martir Otranto tidak dilupakan orang-orang yang pulang ke Apulia sesudah perang berakhir. Tulang-tulang dari para martir dikumpulkan dalam kotak penyimpanan dan ditempatkan di dalam kapel tepat di depan altar utama di dalam katedral setempat. Beberapa peninggalan juga dikirim ke gereja Santa Caterinadi Formello di Naples.

Kamis, 02 Mei 2013

Tuhan Dan Hitler : Sebuah Pembelajaran Sejarah Yang Tak Boleh Terulang Kembali

2 Mei 2013
Sumber : cbn.com


Pidato-pidatonya berisi dengan harapan, "Saya akan merestorasi kejayaan".Masih banyak yang percaya Holocaust terjadi atas nama "Kristiani". Namun adakah relasi antara Tuhan dengan dia?







Dalam pidato-pidatonya ia menantang orang-orang untuk mencintai tetangganya, peduli terhadap yang sakit dan miskin hingga berdiri menentang kekerasan dan kejahatan. Ia pernah berkata, "Saya percaya bahwa saya bertindak sesuai kehendak Tuhan."

Di hadapan publik, Hitler sering mengaku dirinya adalah pengikut Kristus. Dan hingga saat ini masih banyak yang mempercayai Holocaust terjadi dalam nama Kristiani.



Sebelum Menjadi Pemimpin

Sewaktu kecil, Adolf Hitler dibabtis di sebuah Gereja Katolik. Ia seorang anak yang sering berubah-ubah. Bahkan suatu kali ia ingin menjadi seorang pendeta, tapi sejarah menunjukkan bahwa seorang jemaat gereja dan seorang Kristiani adalah 2 hal yang berbeda.

Di awal karir politiknya, Hitler suka menyapa dan mencium anak-anak kecil. Perilaku semacam itu masih dilakukan para politisi saat ini. Jika anda ingin dipandang baik bagi politisi-politisi lain anda perlu mengutip sesekali ayat-ayat dalam kitab agama anda, atau berpoto bersama dengan pemimpin-pemimpin agama di depan gedung ibadah bahkan bicara tentang Tuhan, maka agenda politik anda akan berjalan lancar. 

Dari pidato yang ia sampaikan pertama kali, Hitler melibatkan Tuhan, suatu tindakan jitu di negara Kristiani Jerman. 
Salah satu show publiknya berkaitan solidaritas dengan gereja adalah penandatanganan "Nazi Vatican Concorde" atau "Reichskonkordat" pada 20 juli 1933 oleh Sekretaris Negara Eugenio Pacelli (yang kemudian menjadi Paus Pius XII) dan wakil Kanselir Franz von Papen, yang isinya menjamin hak-hak Gereja Roman Katolik di Jerman, dan sang Fuhrer pun mendukung kebebasan beragama.

Semua orang tahu diktator Jerman Adolf Hitler membenci orang Yahudi dan mencoba memusnahkan mereka, membunuh sekitar 6 juta yang ditengarai sebagai salah satu strategi iblis pengeksekusian sebuah ras manusia.

Di tahun 1933 Hitler berkata yang indah-indah tentang Kristen, bahkan membenci atheisme dan ingin membuangnya dari Jerman.
Hitler adalah orang yang paling keji, jahat dan penuh kebencian sepanjang sejarah peradaban modern. Bagi orang yang berkata bahwa Hitler seorang kristen adalah orang yang bodoh atau tidak jujur.

Jika ia seorang Kristen, mengapa ia melakukan hal-hal yang tidak terpuji untuk mendapat dukungan gereja?
Seorang penulis berkata, "Hitler tahu orang Kristen akan mencampuri urusannya, dan mereka harus dikelabui!"

WND author Ray Comfort menulis, "Apa yang kita pelajari dari buku-buku sejarah, Hitler ingin membersihkan dan melenyapkan etnik Yahudi dari Eropa, tapi yang kita tidak tahu bahwa ia juga ingin melenyapkan Kristen dari bumi Eropa."

Pemimpin pemuda Jerman, Balder von Shira mengakui, bahwa "Pemusnahan Kristen secara eksplisit diakui sebagai sebuah rencana dari Gerakan Nasional Sosialis."
Pemimpin Partai Nazi, Dr. Alfred Rosenberg di Kongres Nuremberg 1938 berkata, "Saya secara absolut jelas dalam pikiran saya, bahwa gereja Katolik dan Protestan harus dilenyapkan dari kehidupan rakyat kita."

Di tahun 1933 ekonomi Jerman sedang runtuh, dengan pengangguran di atas 30%. Dalam keadaan semacam ini dibutuhkan seorang juru selamat, dan Hitler menyatakan bahwa ia yang akan mengisi posisi itu. 
Ketika kekuasaannya semakin kuat, toleransi agamanya malah hilang. Ia berusaha mengganti Kristen dengan sebuah gereja benar yang baru, suatu agama baru dimana tidak ada Tuhan selain Hitler.

Dr. AR Santoro dari Christopher Newport University berpendapat, "Sesudah beberapa waktu, Hitler percaya dengan Hitler, yaitu dirinya sendiri."

Hitler membuat sistem anti-Christ, menyamar sebagai seorang Kristen. Ini justru membuat orang-orang Jerman begitu senangnya dengan kehadiran seorang mesias Jerman.

Menteri Propaganda Jerman, Joseph Goebbels berkata, "Pemimpin kita adalah perantara antara rakyatnya dan takhta Tuhan. Apa yang ia ucapkan adalah yang paling religius diantara semuanya."

Sejak setiap agama butuh sebuah gedung ibadah, Hitler membangun suatu 30-pokok rencana untuk "Gereja Reich" yang baru, diterbitkan The New York Times di tahun 1942. 
Diantaranya adalah :
  • Tidak ada pendeta atau pastor atau pemimpin agama diijinkan berbicara di gereja, hanya orator Reich Nasional yang bicara.
  • Semua Alkitab dan gambar-gambar nabi-nabi di altar-altar gereja-gereja diganti dengan salinan kopi Mein Kampf.
  • Salib diganti dengan Swastika.
  • Satu dari yang paling kontroversi dari aturan-aturan Gereja Reich mengikutsertakan unsur Alkitab.

Mengutip Kalimat-Kalimat Dari Alkitab 

Walaupun Hitler mengutip ayat-ayat Alkitab di kebanyakan pidato-pidato awalnya, ia kemudian menghubungkan itu dengan "suatu cerita dongeng yang dibuat orang Yahudi".
Di tahun 1942 peredaran maupun penggunaan Alkitab dilarang di Jerman.

Dalam Alkitab Hitler, semua kata-kata Ibrani seperti Halleluya dibuang. Ia juga mengganti 10 Perintah Tuhan dengan 12 perintahnya sendiri.
Beberapa diantaranya :
  • Pertahankan kemurnian darahmu dan kesucian kehormatanmu
  • Jaga dana perbanyaklah warisan nenek moyangmu
  • Bergembiralah melayani satu dari yang lain dengan kerja dan pengorbanan
  • Hormati Fuhrer mu (Hitler) dan tuanmu

Hitler juga menulis versi sendiri Doa Bapa Kami, untuk dibacakan oleh Pemuda Hitler:
"Adolf Hitler, Anda Fuhrer besar kami. Nama-Mu membuat gentar musuh. Third Reich Mu datang, jadilah kehendakMu sendiri di atas bumi. Biarlah kami mendengar suara-Mu setiap hari, dan memerintah kami dengan kepemimpinan Mu, karena kami akan taat sampai akhir, bahkan dengan hidup kami. Kami memuji Engkau, terpuji Hitler Fuhrer Oh Fuhrerku, dikirimkan oleh Tuhan. Melindungi dan melestarikan hidup saya untuk waktu lama. Kau menyelamatkan Jerman pada saat dibutuhkan, saya berterima kasih untuk makanan sehari-hari saya,. Bersamaku untuk waktu yang lama, jangan tinggalkan aku, Fuhrer Oh Fuhrerku, imanku, cahayaku - terpuji, Fuhrerku."

Hitler memiliki gereja sendiri, Alkitab sendiri dan bahkan himne sendiri, dinyanyikan setiap hari di sekolah Jerman:
"Adolf Hitler adalah penyelamat kami, pahlawan kita. Dia adalah makhluk paling mulia di seluruh dunia. Untuk Hitler, kita hidup. Untuk Hitler, kita mati. Hitler kita adalah Tuhan kita, yang memerintah sebuah dunia baru yang berani."

Di Zeppelinfeld Stadium di Nuremberg, dimana Partai Nazi kerap melakukan pertemuan akbarnya, Hitler menginstruksikan arsiteknya Albert Speer untuk membangun Tribun Zeppelinfeld dengan Altar Pergamon sebagai modelnya. Sering pertemuan itu dilakukan pada malam hari, karena konstruksi tribun yang menggunakan 150 lampu sorot di sekelilingnya. Lampu sorot itu mengarah jauh ke angkasa, menampakkan kemegahan yang luar biasa (Chatedral of Light), persis yang diinginkan Hitler dalam pengakuannya, "Pertemuan penutup di Nuremberg harus benar-benar sama hikmat dan resminya seperti pelayanan dalam gereja Katolik."

Di malam 15 September 1935, Hitler mendeklarasikan "Nuremberg Law", yang isinya memarjinalisasi orang-orang Yahudi atau menarik status kependudukan orang Yahudi.
Dengan alasan bahwa banyak komplain atas sikap-sikap provokatif orang-orang Yahudi, maka Hitler memaklumatkan Hitler's Final Solution (Solusi Akhir Hitler). Solusi inilah yang dikenal dengan nama Holocaust, yang dalam bahasa Yunani artinya "pengorbanan hewan korban yang terbakar seluruhnya." Ia meneriakkan Solusi Akhirnya di atas podium Zeppelinfeld, replika Altar Pergamon, altar yang pada jaman romawi dulu digunakan untuk menghukum pelaku kriminal dengan cara dibuang dari atas altar ke kolam api pembakaran.


Harga Yang Harus Dibayar

Pada tahun 2002, seorang mahasiswa hukum Yahudi menemukan sebuah laporan 120 halaman dari tahun 1940-an. Dokumen itu dikumpulkan oleh anggota OSS, agen mata-mata Amerika dalam Perang Dunia II. Laporan ini disebut Rencana Induk Nazi: Persekusi gereja Kristen. Dokumen tersebut menggambarkan rencana langkah demi langkah untuk
men-dekristenkan Jerman, 
  • Mengambil alih gereja dari dalam, menggunakan simpatisan partai.
  • Mendiskredit, penjara atau membunuh para pemimpin Kristen.
  • Re-indoktrinasi jemaat.
  • Beri mereka iman yang baru di Jerman Third Reich 
Jadi di mana orang-orang Kristen Jerman saat itu? Sebagian besar dari mereka terlalu takut untuk protes, tapi sisa-sisa kecil orang Kristen memang berdiri melawan Gereja Reich. Sekelompok 3.000 Protestan yang dikenal sebagai "Gereja Pengakuan" terbuka menantang Hitler dan membayar harganya. 
Kata Hitler, "Aku akan membuat pendeta-pendeta terkutuk itu merasakan kekuasaan negara dengan cara yang mereka tidak pernah percaya mungkin. Jika saya punya kecurigaan sedikit saja mereka semakin berbahaya, saya akan menembak sebagian besar dari mereka."
Tujuh ratus pendeta dari Gereja Pengakuan. Banyak dari mereka dibunuh atau dikirim ke kamp-kamp konsentrasi.

"Ada hal-hal seperti kejahatan, dalam penilaian saya, dan orang ini adalah jahat," kata Santoro. "Hitler tidak memiliki loyalitas permanen. Jika Anda melewati dia, Anda akan mati. "

Aspek yang paling penting dari kekristenan yang Hitler abaikan adalah keyakinan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Tuhan dan Juruselamat dunia. Itulah peran yang ia pilih untuk dirinya sendiri. Dan bahkan ketika dia menyebutkan Yesus, itu bukan Yesus dari Alkitab. Misalnya, ia menolak untuk mengakui fakta bahwa Yesus adalah seorang Yahudi.

Selasa, 30 April 2013

Lambang Kebaikan Dan Kehidupan Itu Kini Jadi Tabu

29 April 2013
Sumber : wnd.com



Bendera adalah lambang dari suatu negara, lambang jatidiri dan integritas, perlambang kejayaan, kemakmuran dan kebanggaan rakyatnya. Kebanyakan orang percaya bahwa corak dan bentuk sebuah bendera dibentuk atau dibuat tidak secara kebetulan. Demikian juga Merah Putih, yang walaupun berawal dari bendera Belanda, adalah perlambang bangsa yang berani, tidak pantang mundur, gigih namun tetap dilandasi hati yang tulus. Namun ada juga bendera yang menjadi lambang kenistaan, ketabuan sekaligus saksi bisu kekejaman seorang pemimpin: Swastika! Simbol dari Partai Nazi di tahun 1920. 



Sejarah Awal

Bukti awal arkeologi menyatakan ornamen bentuk swastika berawal pada  peradaban Indus Valley juga pada zaman purbakala klasik Mediteran. Swastika juga digunakan di peradaban kuno lainnya termasuk Cina, Jepang, India dan Eropa Selatan. Namun tetap digunakan dalam agama India, secara spesifik di Hindu, Buddha dan Jainisme, utamanya sebagai sebuah simbol tantra untuk membangkitkan shakti atau simbol keramat dari kesuburan atau kesejahteraan. 

Kata "swastika" datang dari Sanskrit svastika - "su" artinya "baik" atau "sejahtera/subur", "asti" artinya "menjadi", dan "ka" sebagai tambahan. Arti harfiahnya adalah "menjadi baik". Atau translasi lain dapat diuraikan: "swa" adalah "diri yang lebih tinggi", "asti" artinya "menjadi", dan "ka" sebagai tambahan, jadi artinya dapat diinterpretasi "menjadi diri yang lebih tinggi".

Di era 1800-an, negara-negara di sekitar Jerman tumbuh lebih besar, membentuk kerajaan, namun Jerman bukanlah negara bersatu hingga tahun 1871. Untuk mengatasi perasaan kerentanan dan stigma pemuda, nasionalis Jerman di pertengahan abad kesembilan belas mulai menggunakan swastika, karena memiliki asal usul kuno Aryan/India  untuk mewakili sejarah panjang Jermanik.

Pada akhir abad kesembilan belas, swastika dapat ditemukan pada majalah nasionalis Jerman völkisch  dan merupakan lambang resmi dari Liga Pesenam Jerman.
Pada awal abad kedua puluh, swastika adalah simbol umum nasionalisme Jerman dan dapat ditemukan di banyak tempat seperti lambang untuk Wandervogel, sebuah gerakan pemuda Jerman, pada Joerg Lanz von Liebenfels' majalah antisemitisme Ostara; pada berbagai unit Freikorps, dan sebagai lambang Thule Society.


Arti Warna Pada Swastika Ditinjau Dari Kosmologi

Menurut Profesor Jean Haudry, tiga fungsi atau sistem kasta dari Arya kuno diwakili oleh tiga warna yang menonjol di antara berbagai bangsa Indo-Eropa. Ketiga warna kosmik ini adalah putih, merah dan hitam atau biru. Putih mewakili imam atau pemimpin rohani, merah mewakili prajurit dan hitam atau biru produsen. Kasta di Indian Kuno dinamai varna dan Avestic pistra, keduanya berarti warna.

Secara signifikan, bendera-bendera nasional dari bangsa-bangsa Eropa saat ini menggabungkan skema ini, yaitu Kroasia, Republik Ceko, Perancis, Islandia, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Negara Federasi Rusia, Serbia (meskipun mahkota emas ditumpangkan), Slovakia, Slovenia, Inggris, Mordovia (bagian dari Rusia), Piedmont (bagian dari Italia), Udmurtia (bagian dari Rusia dan merah, putih dan hitam), Kepulauan Faroe (milik Norwegia), Republik Srpska, Sealand (merah, putih dan hitam). 

Secara historis tentu saja bendera Konfederasi Jerman Utara (1866-1871), First Reich (1871-1918) dan Third Reich (1933-1945) adalah merah, putih dan hitam.

Sesudah Perang Dunia Pertama, munculnya Weimar Republik (1919-1933) dan Bundesrepublik (1945-seterusnya) tentu saja mendistorsi skema warna ini disaat kesadaran rasial yang nyata dari orang-orang Jerman telah terdistorsi dan dikorupsi. Beberapa orang percaya bahwa skema ini hanya kebetulan semata atau hanya dipilih untuk alasan estetika. Akan tetapi jelas warna-warna ini berada dan menempati tempat yang penting dalam Kesadaran Kolektif dari orang-orang Aryan Eropa. 

Profesor Haudry menyatakan bahwa ketiga warna tersebut juga menyimbolkan tiga dunia yang nyata atau utama, putih untuk langit, merah untuk dunia tengah (Midgaard) dan hitam untuk dunia bawah (neraka?). Haudry juga mengatakan dalam The Indo-Europeans: "Pembagian ini mungkin hasil dari penempatan tiga dunia itu dalam relasi dengan ketiga fungsi tersebut, tapi jika dasar naturalistik sudah seharusnya ada, anggapan tersebut mungkin dijustifikasi dengan kosmologi sesuai kearah mana tiga langit itu berotasi mengelilingi bumi, dengan hari-langit, "embun-putih, malam-langit hitam, dan diantaranya sebuah senja-langit merah. Yang terakhir ini menjadi acuan awal dari istilah "reg-os: the root "reg-berarti mewarnai merah", Ved rajyati." Sebagai bagian dari Woden's Maennerbund kami memasukkan tiga warna dalam simbolisme kami dan tentu saja setiap hari dengan memakai warna hitam mendominasi kebiasaan berpakaian saya. Seperti Arya dan prajurit Wodenic yang terbangun, kita menggabungkan semua tiga warna, semua ketiga fungsi-fungsi itu kedalam bangsa Aryan Bersatu kami secara kolektif dan dalam diri kami secara individu."

Cukup menarik membaca pekerjaan Haudry, dimana Ormadzd atau Ahura Mazda berdasarkan Zend Avesta memakai pakaian putih imam, merah pada prajurit dan biru pada pria menikah ketika menciptakan dunia. Dalam dunia Jermanik kita dinformasikan oleh Tacitus dalam Germanianya bahwa masyarakat Jermanik memiliki tiga divisi; Ingaevenes, Hermiones dan Istvaeones. 

Dalam bukunya "Mein Kampf" tentang pentingnya skema warna di bendera Swastika, Hitler berkata: "Dan Simbol itu benar-benar ada! Tidak hanya suatu warna-warna yang unik, dimana kita semua begitu mencintai dan menggapai begitu banyak kehormatan untuk orang Jerman, membuktikan penghormatan kita untuk masa yang lalu, mereka juga adalah perwujudan dari keinginan suatu gerakan. Sebagai Nasional Sosialis, kita melihat program kita dalam bendera kita. Dalam warna merah kita melihat ide sosial gerakan, dalam putih ide nasionalistis, di swastika misi perjuangan untuk kemenangan orang Aryan."  


Konflik Arti Swastika

Terjadi debat sengit saat ini apakah arti swastika sekarang. Selama 3000 tahun, swastika berarti positif, kehidupan dan keberuntungan. Namun karena Nazi artinya berubah menjadi kematian dan kebencian.
Konflik ini justru dirasakan langsung oleh orang beragama Buddha dan Hindhu. Buat mereka swastika adalah simbol religius yang sering digunakan. Chirag Badlani pernah bercerita, suatu saat ketika ia pergi membuat potokopi untuk kepentingan kuilnya. Ketika berdiri mengantri, beberapa orang berdiri di belakangnya dan melihat sati dari gambar-gambar yang akan dikopi berbentuk swastika. Serentak ia disebut seorang Nazi.

Sayangnya, para Nazi dulu begitu efektif menggunakan simbol swastika, dimana banyak orang tidak tahu arti sesungguhnya dari swastika.
Dapatkah dua arti yang mutlak berbeda untuk satu simbol?



Senin, 22 Agustus 2011

Gulungan Kitab, Firman Tuhan dan Juru Selamat

By. Peter Colon
21 Agustus 2011
IMG




Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku. (Yoh. 5:39)
  Disimpan di Gedung Museum Rockefeller di Yerusalem terdapat sebuah dokumen yang aneh mengarah sebagai 4QMMT*. Itu adalah bagaian dari koleksi Gulungan Kitab Laut Mati. Dalam satu seksi dari text tersebut, seorang penulis jaman dahulu (mungkin seorang pendeta),
mengajak seseorang untuk belajar Firman dengan hati-hati. "(dan) kami telah menulis kepadamu bahwa kamu harus menguji buku-buku Musa, dan kata-kata dari para Nabi dan Daud."

  Ketika Yesus muncul di antara pengikutNya sesudah kebangkitanNya, Ia berkata, "Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Luk. 24:44). Peringatan Tuhan itu dan yang ada di 4QMMT* memuji kelayakan dari Firman Tuhan.

  Gulungan Kitab Laut Mati berisi koleksi lama dari tulisan asli Perjanjian Lama. Sebelum penemuan mereka di tahun 1940an dan 1950an, dokumen Perjanjian Lama itu adalah Text Masoretic**  pada abad 9-11 A.D. Gulungan Kitab Laut Mati itu berusia ribuan tahun, mendahului Septuagint*** . Sejak original teks dari buku Alkitab tersedia, gulungan Kitab itu membantu ahli-ahli agama, jika dibandingkan saat ini teks Alkitab dengan penulisan kuno. Bagian dari analisis literal ini dinamakan kritisme tekstual.

  Di antara sobekan gulungan-gulungan itu kebanyakan adalah buku-buku yang di Perjanjian Baru sering diungkapkan: Ulangan, Yesaya dan Mazmur. Lebih dari itu gulungan-gulungan itu ditemukan di gua-gua, meyakini kepercayaan akan Firman Tuhan dan Yesus.

Hukum-Hukum Musa

  Ulangan adalah buku kelima dari 5 Buku Musa. Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan dikenali sebagai Taurat (Hukum). Rabi-rabi jaman dulu menganggap Ulangan sebagai Mishnah Torah, artinya "Pengulangan Taurat", karena meninjau ulang atau mengulangi hukum-hukum itu yang mana disebutkan sebelumnya di Keluaran, Imamat dan Bilangan.

  Satu dari nubuatan utama Ulangan adalah pasal 18:18-19, yang berbicara akan Mesias yang, seperti Musa, akan mendapat otoritas penuh dari Tuhan, Terjemahan Inggris dari Gulungan Kitab Laut Mati di teks berisi, "[I will raise up for them a prophet like you from among their brothers; I will put my words in] his mouth, and he will speak to them [all that I command him. And whoever does not listen to my words which] he will speak in my name, I [will hold] accountable." Sang penerjemah menggunakan tutupkurung untuk mengindikasikan susunan kata-kata atau ucapan yang rusak. Jelas tidak ada perbedaan antara teks kuno dan Alkitab modern.

  Di Kisah Para Rasul 3:22-23, Rasul Petrus mengutip nubuatan Ulangan di kotbahnya. Seorang profesor senior di Alkitab Eksposisi, Dr.Thomas Constable berkata di sela-sela Seminar Theology di Dallas,
Musa memprediksi bahwa Tuhan akan menyediakan nabi yang mirip dengan dia yang mana melalui dia lah Ia akan menyatakan kehendakNya diketahui oleh anak-anakNya. (Ul. 18:15-19; Im 23:29). Seiring waktu berlalu, orang Yahudi melihat bahwa nubuat ini mengarah ke satu nabi yang akan muncul dan mirip seperti Musa. Ia akan membebaskan dan menghakimi anak-anakNya. Maka orang percaya kepada 'Peter's Day' menganggap kalimat ini sebagai nubuatan mesias (Yoh. 1:21b, 25; 7:40). Petrus menguatkan pendapatnya bahwa Yesus  adalah Mesias dan menganjurkan para pembacanya untuk menerima Dia atau menghadapi kehancuran (ayat 23).

Para Nabi

  Gulungan kitab Yesaya menjelaskan sebuah contoh dari transmisi terjemahan yang akurat. Naskah luar biasa ini sebenarnya besar. Ditulis dalam 17 lembaran kulit perkamen, kira-kira 24 kaki panjangnya dan 11 inci lebarnya, dan memiliki 54 teks kolom. Dapat dibayangkan, Israel mempertimbangkan lembaran kulit perkamen tua ini sebagai harta nasional. Sejak 1965, copy dari lembaran itu dipajang di museum tempat suci Kitab di yerusalem.


  Kalimat yang sering dikutip di Perjanjian Baru adalah nubuatan dari Yesaya 52:13--53:12. Tidak ada yang meragukan kebenaran dari nubuatan tersebut menyinggung akan penderitaan Mesias.
Victor Buksbazen (1903-1974), eksekutif direktur pertama The Friends of ISrael Gospel Ministry, menulis di eksposisinya tentang Yesaya 53,
Umumnya, ada perbedaan kecil antara terjemahan Yahudi dan Kristiani akan kalimat Yesaya, diluar dari beberapa kata dari kepentingan sekunder. Meskipun demikian, ada perbedaan dalam dan mendasar di interpretasi teks. Selama beberapa abad, tradisi Yahudi kuno melihat Yesaya 53 sebagai potret dari pelayan Tuhan yang menderita, si Kristiani Mesias, merunut tradisi Yahudi kuno, tetap memelihara bahwa  Yesaya 53 berbicara akan Mesias. Konsekuensinya, mereka melihat itu sebagai sebuah nubuat yang luar biasa berkenaan dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Yoh. 1:29).

Mazmur

  Buku Mazmur adalah yang paling banyak dicopi dari semua buku-buku Alkitab yang ditemukan dalam Gulungan Kitab Laut Mati itu. Tampaknya, fakta ini menunjukkan pentingnya hal ini bagi tujuan liturgis dan studi. Kata Ibrani untuk 'mazmur' adalah tehillim, artinya "lagu pujian." Di Perjanjian Baru, hanya buku Yesaya lebih mendominasi dibandingkan Mazmur. Gulungan Mazmur adalah koleksi yang terbesar diantara dokumen-dokumen Laut Mati yang ditemukan di tahun 1956, dibuka di tahun 1961.

  Raja Daud menulis hampir semua Mazmur. Diantara koleksi ada teks yang menarik tentang Daud, ditemukan di 11QPs**** Psalter (Komposisi-Komposisi Daud), Daud seorang yang bijak dan terpelajar. Dan totalnya (dari mazmur dan lagu-lagunya/pujian) sebanyak 4050. Semua ini ia komposisikan melalui nubuatan dimana diberikan kepadanya dari Sang Maha Kuasa.

  Sejujurnya, Alkitab adalah naskah satu-satunya yang dinspirasikan oleh Tuhan dan bermanfaat (2 Tim. 3:16). Itu adalah pilihan Tuhan untuk menggerakkan penulis dengan Roh Kudusnya untuk menghasilkan Tulisan Alkitab: "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."

  Walaupun beberapa kerusakan karena ulat-ulat gua, pasal-pasal dan bagian-bagiannya yang dapat terbaca adalah sama dengan yang tertulis di terjemahan asli. Ini juga benar walaupun ditemukan gulungan-gulungan lain. "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya."(2 Sam. 22:31)

  Firman Tuhan selamanya akan tetap ada, tetapi fokus utamanya seharusnya tidak diabaikan. Seorang pendeta Inggris G. Campbell Morgan (1863-1945) meletakkannya dengan cara: "Tidak ada kehidupan di Firman Allah, tetapi jika kita mengikuti kemana kita diarahkan, Firman itu akan membawa kita kepadaNya, dan kita menemukan kehidupan, bukan di Firmannya, tetapi di dalam Dia melalui Firman."
 supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 2:12)

Tuhan Yesus Memberkati



*4QMMT (atau MMT), juga dikenal sebagai Surat halachic, adalah salah satu dari Gulungan Laut Mati yang ditemukan di Qumran di West Bank. Naskah ini terutama berkaitan dengan isu kemurnian aliran cairan, menjadi bahan perdebatan besar antara orang-orang Farisi dan Saduki dalam teks rabi.**berkenaan dengan kumpulan catatan kritis dan penjelasan tentang teks Ibrani dari Perjanjian Lama, yang disusun dari abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi dan secara tradisional diterima sebagai panduan tafsiran otoritatif, terutama dalam hal pengucapan dan tata bahasa.***terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama yang diproduksi di Mesir di abad 3 dan 4 B.C.****bernama juga 11Q5, gulungan abad pertama A.D. ditemukan pada tahun 1956.

Kamis, 11 Agustus 2011

Hidup Daniel


By. Herb Hirt
10 Agustus 2011
IMG



   Nabi Yahudi Daniel, lahir dalam lingkungan kaum bangsawan Judea, mungkin selama masa reformasi Raja Yosia (621 B.C.). Ketika masih anak-anak, ia memikul kematian tragis Yosia di tangan Firaun Neco (609 B.C.) dan penaklukan Mesir dari Yehoaikim.
  Di saat orang Babylon mengalahkan koalisi Mesir-Siria di Carchemish di tahun 605 B.C., Raja Nebukadnezar datang ke Yerusalem untuk memperoleh kesetiaan Yehoaikim dengan cara merampas martabat keturunan Yahudi, dimana Danieal adalah keturunan mereka juga (2 Raj. 23:28--24:1; Dan. 1:1-7). Ini adalah deportasi atau pembuangan Yudea pertama dari orang Babylon.
  Yang kedua terjadi di tahun 597 B.C., sesudah Yehoaikim memberontak tegadap Babylon. Nebukadnezar datang kembali dan menangkap Raja Yehoiaichin, menahan 10000 orang dan menempatkan Zedekia di tahta kerajaan Daud (2 Raj. 24:2-20).
  Ketika Raja Zedekia memberontak, Nebukadnezar berkunjung sekali ke Yerusalem (587-586 B.C.). Ia menangkap raja dan keluarganya, mengambil alih kota dan membakar Bait, serta membuang orang-orang ke Yudea, sehingga mengakhiri kekuasaan kerajaan Daud dari Yerusalem yang telah 400 tahun berkuasa (25:1-12).
  Dalam pembuangan, Daniel cepat berpengaruh di administrasi Nebukadnezar, bukan hanya karena kebijaksanaan dan keahlian dia, namun juga karena Tuhan memampukan dia untuk menyatakan arti dari mimpi-mimpi dan penglihatan itu mengenai orang-orang non Yahudi dan masa depan Israel (Dan. 1:20-21; 2:19-24). Apa yang dinyatakan kepada Daniel adalah kekuasan Tuhan terhadap Israel melalui empat kerajaan non Yahudi yang diawali Babylon hingga kedatangan Kerajaan Tuhan melalui manusia, yaitu Mesias.
  Di Babylon, Daniel melihat dan mengalami langsung penggenapan dari transisi pertama ini dari kerajaan-kerajaan tersebut hingga Medo-Persia menaklukkan kota itu pada 29 Oktober 539 B.C. (5:30-31). Daniel kemudian melayani orang-orang Persia di tahun-tahun akhir hidupnya (6:1-3,28), menerima visi terakhirnya dari Tuhan di tahun 535 B.C. (pasal 10-12).
  Mungkin di saat sebelum mati dalam pembuangan hampir 70 tahun, yaitu mendekati usia 90, Daniel menyusun memorinya dalam Buku Daniel.

Tuhan Yesus Memberkati

Minggu, 07 Agustus 2011

Keyahudian Dari Bait Tuhan


By. Randall Price
6 Agustus 2011
IGM



Para pengunjung akan disambut ke dalam sebuah ruangan besar dengan meja-meja konferensi dan rak-rak buku yang terisi dengan buku-buku  Hukum Islam. Tergantung di salah satu dinding foto Yasser Arafat. Saya berada di sana untuk mewawancarai seorang Islam cleric untuk dokumentasi tentang "Haram". Ketika pertanyaan saya mengarah ke isu tentang Haram menjadi Bait Allah Yahudi, seorang grand mufti Palestina yang saya ajak interview, Ikrima Sabri, berubah menjadi gelisah. "Tidak ada Bait semacam itu di sini!" kata dia. Sebagai bukti, ia berargumen: "Apabila pernah ada sebuah bait eksis di Haram, Allah tidak akan memerintah untuk membangun sebuah Mesjid di sini." Lalu ia berkata, "Tidak ada satu batu pun ada  di seluruh kota ini membuktikan keberadaan Yahudi di Yerusalem.
  Pernyataan ia merefleksikan reivisi Palestina akan sejarah yang telah menjadi sejarah resmi bagi orang-orang Palestina. Di tiap sekolah cerita tersebut diajari pada semua tingkat dan dikotbahkan dari mimbar mesjid setiap jumat oleh muslim cleric. Bait Allah dan isu akan perombakan Bait tersebut menjadi dasar konflik Israel-Palestina.
  Banyak orang-orang Israel tidak secara serius memandang intensitas perasaan muslim terhadap prospek Bait Allah ketiga. Dari pemicuan akan mesjid al-Aqsa oleh turis 'Kristiani' di tahun 1969 hingga pembukaan akan pintu keluar ke terowongan Western Wall (dinding ratapan) di tahun 1995 hingga rekonstruksi dari tempat berjalan atau gang menuju Mughrabi Gate di tahun 2006 hingga rekonstruksi dari Sinagoge Hurva  di Jewish Quarter tahun lalu, para penguasa Islam menginterpretasi setiap aksi (Haram al-Sharif) sebagai satu usaha yang disengaja untuk menghancurkan tempat kudus Muslim dan membangun Bait Yahudi.
  Banyak rupa hasil dari aksi Muslim propaganda ini yang menolak keberadaan Bait kuno tersebut dimana orang-orang barat meragukan sejarah Bait tersebut, demikian juga argumen akan lokasi di mana Islam Haram terletak.

Apa yang tertulis di Alkitab

  Alkitab menyimpan secara samar eksistensi sejarah dan lokasi topografi dari dua Bait Yahudi dimana, melalui sejarah Yahudi, telah diletakkan di atas Bukit Muria (Mount Moriah). Lokasi tersebut diawali ketika Tuhan memerintahkan Abraham untuk mengorbankan anaknya Ishak di atas sebuah bukit di tanah Muria (Kej.22:2).
  Kemudian Tuhan mengesahkan bangsa Israel di tanah Israel (2 Sam.7:10) dan berkata kepada Raja Daud,"Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya."  Tuhan menegaskan pilihanNya akan letak Bait tersebut ketika Ia memerintah Daud untuk membiayai mezbah di tempat pengirikan Ornan orang Yebus dan mendirikan altar untuk mempersembahkan korban bakaran (1 Taw.21:18-29). Daud mendeklarasikan, "Lalu berkatalah Daud: "Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel" (22:1).
  Tempat tersebut adalah Bukit Muria: "Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu" (2 Taw.3:1).
  Ketika orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari Babylon dibawah maklumat Raja Koresy (36:22-23), mereka membangun  Bait kedua tepat di mana Bait pertama dibangun: "Biarkanlah pekerjaan membangun rumah Allah itu. Bupati dan para tua-tua orang Yahudi boleh membangun rumah Allah itu di tempatnya yang semula" (Ezra 6:7). Mereka mewajibkan untuk membangunnya "di tempat semula", artinya di pondasi awal dibangun (2:68). Secara theologis, kemungkinan saat itu tidak ada lokasi lain untuk Bait kedua dibandingkan yang pertama disucikan oleh keesaan Tuhan.
  Dedikasi Bait pertama, Kemuliaan Tuhan (Shekinah) mengisi Bait dari Kudus Dari Segala Yang Kudus (1 Raja2 8:10-12), membuat Bait Allah tinggal selamanya (ayat 13). Jadi, Tuhan menunjukkan nabi Yehezkiel bahwa kemuliaan ini, dimana telah hilang sebelum penghancuran dari Bait pertama, akan kembali seperti bagaimana kemuliaan tersebut pergi menghilang (Yeh.9:3; 10:4; 18-19; 11:22-23; 43:1-7). Konsekuensinya, daerah Bait itu harus tetap tidak berubah hingga final restorasi Israel di tanah mereka, di saat kehadiran Tuhan akan tinggal di dalam Bait selamanya (37:22-28).

Apa kata para Arkeolog

  Penggalian para arkeolog juga dengan sepakat mengkonfirmasi bahwa Haram berada di Bukit Moria dan pernah sekali dibangun Bait Yahudi. Walaupun abad ke-10 B.C. (sebelum Kristus lahir), Kerajaan Daud dan Salomo diperselisihkan, saat ini penemuan arkeolog menguatkan keotentikan sejarah mereka. Di Khirbet Qeiyafa, kota provinsi di region Elah Valley, arkeolog membongkar kubu pertahanan impresif dari periode ini. Sebagai tambahan, sebuah Ostracon (pecahan prasasti yang terbuat dari tanah) di Ibrani dari periode yang sama telah ditemukan di salah satu bangunan. Hal itu menyatakan sebuah tingkatan dari kultur tertulis yang secara tidak langsung menyatakan eksistensi dari penyimpanan dokumen-dokumennya. Daerah tersebut mungkin  dulunya sebuah pusat administrasi yang sekarang bernama Netaim sebab kedekatannya dengan daerah berdasarkan Alkitab dari Gedera (1 Taw.4:23).
  Arkeolog juga telah membongkar kota kuno Daud, yang dulu menggunakan kubu pertahanan dan sistem pengairan orang Kanaan dan Yebus. Di daerah selatan Yerusalem, dekat lembah Kidron, penggalian-penggalian telah menyatakan sebuah masif struktur batu bertingkat dari abad ke-13 B.C. di atas  dimana Daud memulai membangun kotanya (Lihat 2 Sam.5:9). Mungkin itu tembok bertahan, dinding penopang dari Benteng Sion, sejak penemuan akhir dari bangunan-bangunan monumental di atas diinterpretasikan sebagai istana Daud. Daerah tersebut adalah perpanjangan bertingkat dari pegunungan di atas istana ini (Ophel) dimana  Bukit Moria terletak dan Bait pertama dibangun Raja Salomo, keturunan Daud.
  Di tahun 2010 sebuah dinding kota dengan rumah gerbang yang dibuat akhir abad 10 B.C. juga telah ditemukan di Ophel. Hal itu menunjukkan bahwa keahlian teknik sudah eksis sejak dahulu di kota itu. Prasasti  terpisah di Ibrani kuno di dalam satu dari beberapa buli-buli besar yang ditemukan dari penggalian di area komplek penggalian mengindikasikan bahwa itu milik pejabat tinggi pemerintah. Cetakan-cetakan segel  juga berhubungan dengan suasana kerajaan. Penemuan ini cocok dengan dokumen alkitabiah dari konstruksi kerajaan yang saat itu memperkerjakan arsitek-arsitek Phoenic (orang-orang jaman dahulu di tanah Kanaan) dan ahli teknik untuk membangun Bait pertama (1 Raj.7:13-14).
  Dalam Alkitab tertulis, Salomo "menyelesaikan pembangunan rumahnya sendiri, dan rumah Tuhan, dan dinding sekeliling Yerusalem" (3:1). Berdasarkan Eilat Mazar, arkeolog yang menggali area tersebut, dinding tersebut mungkin menghubungkan dengan kota Daud dan "terlihat seirama dengan deskripsi dalam Alkitab tentang Raja Salomo membangun garis benteng pertahanan sekeliling konstruksi saat ini (Yerusalem), dimana mengartikan bait itu dan istana kerajaan raja Salomo.
  Biji-biji dari bullae tanah liat (segel kecil dicap dengan nama pengirim dan dilampirkan untuk dokumentasi) ditemukan di dalam sebuah ruangan di kota Daud yang telah terbakar ketika orang-orang Babylon menghancurkan Bait pertama di tahun 586 B.C. Banyak nama-nama dalam buku-buku Yeremia dan Tawarikh ditemukan, termasuk Azarya anak dari Hilkiah yang adalah famili dari imam-imam di periode Bait pertama (1 Taw.9:11).
  Saksi bisu dari Bait kuno adalah Western Wall (dinding ratapan), sebuah  bagian yang masih ada dari dinding Bait kedua yang ke arahnya orang-orang Yahudi berdoa. Dinding ini memanjang 50 kaki di atas plaza modern, tapi juga 50 kaki kebawahnya. Pengunjung dapat berjalan sepanjang paling tidak 1000 kaki dari dinding ini melalui terowongan Western Wall.
  Sebagai tambahan, terdapat Lengkungan Robinson. Dari tahun 1968 hingga 1978 arkeolog Israel Benjamin Mazar menggali banyak struktur yang berhubungan dengan Bait kedua, termasuk tangga rumah yang dikenal dengan nama Lengkungan Robingson, digunakan oleh para imam untuk memasuki Bait. Struktur monumental ini mulai digunakan di kolam Siloam di lembah Kidron dan membawa orang Yahudi (termasuk Yesus dan murid-muridNya) naik melalui Gerbang Huldah dan masuk ke Bait Allah, demikian juga miqva'ot (kolam ritual pembabtisan) yang digunakan oleh Yahudi untuk menyucikan diri sebelum masuk ke halaman Bait.
  Dari tahun 1996 sampai 1998 Ronny Reich menggali di area ini. Penemuannya termasuk sebuah garus jalan kuno dengan toko-toko, dimana orang-orang Yahudi membeli hewan-hewan korban untuk Bait; jejak Lengkungan Robinson; lebih banyak miqva'ot; dan sebuah batu pahatan yang menginstruksikan para imam di mana harus berdiri, meniup trumpet sebagai signal dimulainya Sabat.
  Juga terletak di jalan kuno ini berton-ton batu-batu bangunan dari area Western dari komplek Bait. Mereka dulu dibuang ke bawah dari atas oleh prajurit Roma ketika penyerangan mereka di Bait Allah di tahun ke-9 Av di tahun A.D. 70 (tahun 70 sesudah Kristus). Batu-batu ini  dengan jelas adalah saksi dari penghancuran Bait Allah seperti yang Yesus sebelumnya katakan (Lukas 21:20-24).
  Dalam konteks dari struktur arsitek ini ditemukan kekayaan artifak yang mendemonstrasikan kehidupan sehari-hari orang Yahudi di sekitar Bait. Bukti arkeolog dalam jumlah besar  memverifikasi eksistensi dari Bait Yahudi dan lamanya orang-orang Yahudi tinggal di Yerusalem dan di Bait Allah. Ironisnya, jaman dahulu, turis diberi beberapa dari bukti-bukti ini oleh (siapa lagi) penguasa Muslim.

Apa yang terjadi?

  Cita-cita Islam untuk mendominasi region itu dan menempatkan sebuah ibukota Palestina di Yerusalem telah menuntut penulisan kembali fakta-fakta sejarah (rewriting the facts). Islam harus menghancurkan klaim Yahudi terhadap Yerusalem dan tempat-tempat suci Muslim. Jika orang Palestina mendukung klaim Yahudi, disaat permohonan Israel selama negoisasi perdamaian, akan serupa dengan pendurhakaan dan akan dihukum mati di seluruh dunia Islam.
  Oleh sebab itu, hal itu tidak dapat dipahami seandainya orang Palestina berkompromi akan tuntutan mereka untuk menguasai secara total seluruh Yerusalem atau mengakui eksistensi dari Bait Yahudi. Hal itu tetap untuk mereka yang tahu fakta-faktanya untuk mengatakan kebenaran dan berdiri mendukung 'State of Israel' dalam perang propaganda ini, yang mana lebih jahat dan mematikan daripada senjata di tangan seorang laki-laki.

Rabu, 03 Agustus 2011

Mengapa beberapa orang Arab menamakan dirinya Palestinian?


By. Josua Sihotang
31 Juli 2011

  Tidak pernah ada dulunya bangsa yang menguasai negara bagian bernama "Palestina".
Roma menguasai Israel dan memberi nama area Palestina dengan unsur nama dari musuh Israel.
Dulu tanah itu tidak dikuasai dan tidak ada orang Arab di sana.
Setelahnya daerah itu adalah bagian dari Byzantium dan kemudain berganti-ganti kekuasaan hingga menjadi bagian dari Ottoman Empire.
Di bawah ini sumber-sumber dari WIKI:
  Sesudah kejatuhan Kerajaan kuno Judah, kekuasaan politik dipegang oleh :
  • 586-539 BC: Kekaisaran Babylon
  • 539-332 BC: Kekaisaran Persia
  • 332-305 BC: Kekuasaan Alexander The Great
  • 305-198 BC: Dinasti Ptolemaic
  • 198-141 BC: Kerajaan Seleucid
  • 141-37 BC: Kerajaan Hasmonean di Israel disahkan oleh Maccabees, sesudah 63 BC dibawah supremasi Roma
  • 37 BC-70 AD: Dinasti Herodes menguasai Judea dibawah supremasi Roma (37 BC-6 AD dan 41-44 AD), bertukar kekuasaan langsung dengan kekuasaan Roma (6-41 CE dan 44-66 AD). Hal ini berakhir pada saat Pemberontakan Yahudi pertama 66-73 AD, dimana Bait Allah dihancurkan pada 70 AD.
  • 6 AD Quirinius Sensus dan pengesahan Provinsi Iudaea Roma
  • 70-395: provinsi dari Kekaisaran Roma pertama dinamakan Judea, setelah tahun 135 dinamakan Palestina oleh Roma untuk membuat jengkel bangsa Yahudi akibat Pemberontakan Yahudi kedua (The Bar Kokhba Revolt). Di tahun 395 kekuasaan Roma terbagi atas Daerah Barat dan Daerah Timur.
  • 395-638: Roma bagian Timur atau Kekuasaan Byzantine
  • 638-1099: Khalifa Arab dan penguasa-penguasanya
  • 1099-1187: kekuasaan Crusader, khususnya Kerajaan Yerusalem
  • 1187-1260: dominasi Mesir Ayyubids dan Damaskus ( http://en.wikipedia.org/wiki/Ayyubid_dynasty )
  • 1260-1516: dominasi Mesir Mamluks ( http://en.wikipedia.org/wiki/Mamluks#In_Egypt )
  • 1918-1948: Mandat Inggris atas Palestina dibawah League of Nations, kemudian dibawah penerusnya yaitu PBB; Trans-Yordania Emirat dibagi dari sisa daerah Palestina di tahun 1922, dan Kerajaan Hashemite Yordania menjadi merdeka dibawah berakhirnya Mandat League of Nations di tahun 1946.
Dari tahun 638-1009 bangsa Arab tidak menamakan diri mereka Palestina dan tidak memberi nama daerah Palestina.
Kekaisaran Ottoman sejak dahulu tidak pernah menamakannya Palestina dan juga tidak pernah memanggil orang-orang yang tinggal di sana dengan panggilan 'orang Palestina', karena memang tidak ada orang Palestina atau bahasa Palestina bahkan budaya Palestina.

Di bawah ini peta Ottoman:

Ketika Kekaisaran Ottoman kalah di Perang Dunia 1, Kerajaan Inggris merampasnya dan menamakannya Palestina Inggris.
Saat itu, hanya penduduk Yahudi yang menamakan diri mereka orang Palestina; Arab menamakan diri mereka orang Arab - dan merasa bahwa mereka adalah bagian dari Ummah, bukan dari kerajaan lain.

Jadi, mengapa beberapa orang-orang Arab sekarang lebih memilih menjadi orang Palestina, yang adalah subyek dari sebuah koloni!?

Itu adalah sebuah cerita bohong terbesar. Hanya Marxisme dan Anthropogenic Global Warming adalah kebohongan kedua.
Mereka menamakan diri mereka demikian sehingga seakan-akan tanah tersebut adalah milik mereka.