Kamis, 11 Agustus 2011

Hidup Daniel


By. Herb Hirt
10 Agustus 2011
IMG



   Nabi Yahudi Daniel, lahir dalam lingkungan kaum bangsawan Judea, mungkin selama masa reformasi Raja Yosia (621 B.C.). Ketika masih anak-anak, ia memikul kematian tragis Yosia di tangan Firaun Neco (609 B.C.) dan penaklukan Mesir dari Yehoaikim.
  Di saat orang Babylon mengalahkan koalisi Mesir-Siria di Carchemish di tahun 605 B.C., Raja Nebukadnezar datang ke Yerusalem untuk memperoleh kesetiaan Yehoaikim dengan cara merampas martabat keturunan Yahudi, dimana Danieal adalah keturunan mereka juga (2 Raj. 23:28--24:1; Dan. 1:1-7). Ini adalah deportasi atau pembuangan Yudea pertama dari orang Babylon.
  Yang kedua terjadi di tahun 597 B.C., sesudah Yehoaikim memberontak tegadap Babylon. Nebukadnezar datang kembali dan menangkap Raja Yehoiaichin, menahan 10000 orang dan menempatkan Zedekia di tahta kerajaan Daud (2 Raj. 24:2-20).
  Ketika Raja Zedekia memberontak, Nebukadnezar berkunjung sekali ke Yerusalem (587-586 B.C.). Ia menangkap raja dan keluarganya, mengambil alih kota dan membakar Bait, serta membuang orang-orang ke Yudea, sehingga mengakhiri kekuasaan kerajaan Daud dari Yerusalem yang telah 400 tahun berkuasa (25:1-12).
  Dalam pembuangan, Daniel cepat berpengaruh di administrasi Nebukadnezar, bukan hanya karena kebijaksanaan dan keahlian dia, namun juga karena Tuhan memampukan dia untuk menyatakan arti dari mimpi-mimpi dan penglihatan itu mengenai orang-orang non Yahudi dan masa depan Israel (Dan. 1:20-21; 2:19-24). Apa yang dinyatakan kepada Daniel adalah kekuasan Tuhan terhadap Israel melalui empat kerajaan non Yahudi yang diawali Babylon hingga kedatangan Kerajaan Tuhan melalui manusia, yaitu Mesias.
  Di Babylon, Daniel melihat dan mengalami langsung penggenapan dari transisi pertama ini dari kerajaan-kerajaan tersebut hingga Medo-Persia menaklukkan kota itu pada 29 Oktober 539 B.C. (5:30-31). Daniel kemudian melayani orang-orang Persia di tahun-tahun akhir hidupnya (6:1-3,28), menerima visi terakhirnya dari Tuhan di tahun 535 B.C. (pasal 10-12).
  Mungkin di saat sebelum mati dalam pembuangan hampir 70 tahun, yaitu mendekati usia 90, Daniel menyusun memorinya dalam Buku Daniel.

Tuhan Yesus Memberkati

Rabu, 10 Agustus 2011

Daniel atau Denial?


By. Steve Herzig
9 Agustus 2011
IMG



  Walaupun text dari buku Daniel sama buat Kristiani dan Yahudi, perbedaan mendalam eksis dalam interpretasinya. Jika dimengerti secara harfiah dan historis, buku tersebut mudah dipahami. Jika tidak, kekuasaan Tuhan akan dunia hanya berupa dongeng belaka.

  Ceritanya simpel: Sekitar abad ke-6 B.C., Raja Nebukadnezar dan orang Babylon mengambil orang-orang Yahudi sebagai tahanan. Adalah seorang anak mudah bernama Daniel yang tetap teguh berdiri dan beriman kepada Tuhan ayahnya. Kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya untuk memberitahu dan menginterpretasi mimpi, ia gunakan bagi Nebukadnezar dan ia dipromosikan ke posisi tinggi dan berkuasa di pemerintahan. Ia berotoritas di seluruh kerajaan Babylon dan kemudian Persia.
  Daniel juga menerima visi kewahyuan dari Tuhan, memberi pengertian akan Mesias Israel, sejarah dunia dan Kerajaan seribu tahun yang akan datang.

  Sebagai Kristiani, kita menerima anggapan, melihat Daniel sebagai seorang nabi seperti Yesaya, Yeremia dan Yehezkiel. Kita percaya buku tersebut adalah krusial untuk mengerti Yesus dan kedatanganNya yang kedua kali, dan kita melihat hal itu sebagai kunci pengertian akan buku Wahyu.

  Interpretasi Yahudi agak berbeda. Komentar yang diakui (Midrash) lebih penting daripada text itu sendiri. Karena porsi kewahyuan dari text tersebut diasosiasikan dengan ajaran Kristiani, interpreter Yahudi membuang implikasi kewahyuannya.: "Daniel dianggap sebagai seorang nabi di Qumran dan dimanapun di awal Yudaisme (Josephus, Antiquities 10.266-68), tetapi karena penggambaran lebih dahulu dari kebangkitan Kristus dan Kristen terlihat di Daniel oleh gereja mula-mula, tradisi kerabian ragu-ragu untuk meyakini visi Daniel.

  Penempatan Daniel di Alkitab Yahudi juga digunakan untuk menjustifikasi interpretasi non harfiah. Skript Yahudi dibagi menjadi 3 bagian: Taurat (Hukum), Neviyim (Nabi), dan Ketuvim (Penulisan). Ketuvim terdiri atas Mazmur, Kidung Agung, Ruth, Ester, Ezra, Nehemiah, 1 dan 2 Tawarikh dan Daniel. Kebanyakan Yahudi memandang penulisan itu kurang inspirasi dibandingkan Hukum atau atau Nabi-Nabi. Konsekuensinya, Ruth, Ester dan Daniel dianggap fiktif.

  Ahli-ahli Yahudi yang menganggap Daniel sebagai pewahyu percaya bahwa buku itu ditulis selama periode Maccabi, bukan di tahun 537 B.C., kira-kira 375 tahun lebih awal, yang dipercayai ahli-ahli evangelis. Pada tahun tersebut mustahil terjadi bagi Daniel untuk menulis buku tersebut dan meramal tentang Antiochus IV (Dan. 11:21-35) ke sejarah masa silam. Alkitab Pelajaran Yahudi bicara tentang penulis anonim.

  Dalam usaha untuk menjelaskan pengertian yang sulit dari text itu, pasal 1 hingga 6 dianggap "legenda" dari "perjalanan dari pahlawan Yahudi", padahal pasal 7 hingga 12 bicara tentang visi kewahyuan, "Wahyu dari kejadian-kejadian itu yang mengarah ke akhir perubahan besar dan sejarah transformasi."
Asumsinya terlihat seperti, Daniel berbuat bak seorang nabi; tetapi karena ia tidak dapat menjadi seorang nabi, isi dari buku harus dijelaskan dengan cara lain.

  Sebagai respon dari kurangnya pengetahuan dari inspirasi keilahian akan Firman, seorang wanita Yahudi bertanya, "Apa gunanya membaca Alkitab jika kitab itu sama dengan kitab lain?" Sebuah pertanyaan fair. Kefrustasiannya adalah dengan penolakan Yahudi akan keotentikan text.

  Firman Tuhan tidak terukur waktu dalam aplikasi personalnya. Itu karena: Firman yang datang dari Tuhan. Kita seharusnya membiarkan firman menyesuaikan kita dan kita harus sesuai dengan itu, bukan menyesuaikan text untuk menyesuaikan diri dengan kita.

Tuhan Yesus Memberkati

Selasa, 09 Agustus 2011

Hamas, Pembenci Israel

By. David Dolan
8 Agustus 2011
IMG



  Pergolakan Palestina pertama dimulai di bulan Desember 1987. Kekerasan meledak di Gaza Strip dan dengan cepat merebak ke bagian Arab dari Yerusalem, Yudea dan Samaria. Intensitas kerusuhan dan reaksi pasukan Israel secara instant menjadi liputan utama di seluruh dunia.

  Kota kecil Betlehem merayakan tradisional Natal tahun itu dan di saat bersamaan konflik menyebar dengan cepat. Ribuan pengunjung Kristiani yang sedang berlibur, bersamaan dengan beberapa orang Yahudi yang datang untuk merayakan Hanukkah, terjebak dalam keadaan bahaya. Kota tua bersejarah Yerusalem, menjadi terlarang bagi sebagian besar pengunjung ketika toko-toko Arab tutup untuk mengamati pemogokan umum berkepanjangan yang diperintahkan oleh Yasser Arafat.
  Namun itu bukan PLO Arafat yang memimpin pemberontakan, tetapi kelompok yang relatif baru yang disebut gerakan perlawanan Islam yang akronim dalam Arab yaitu Hamas. Dalam bahasa Semitic kuno, hamas artinya "kegiatan yang antusias"; akan tetapi dalam bahasa Ibrani adalah satu dari beberapa kata-kata yang menunjukkan animasi kekerasan, terutama penjarahan musuh yang takluk.
  Hamas sebenarnya hanyalah sebuah versi baru dari satu dari grup-grup politis Islam fundamental tua, Gerakan Muslim Brotherhood yang berbasis di Kairo, Mesir. Walaupun dilarang di Mesir selama beberapa dekade, Muslim Brotherhood masih dapat mengatur secara sembunyi-sembunyi. Hamas adalah ranting Palestina.
  Dua Muslim cleric terkemuka yang tinggal di Gaza Strip, Sheik Ahmed Yassin dan Muhammad Taha, adalah aktor dibalik pembentukan Hamas 1987, dan aksi pemberontakan melawan pasukan Israel yang berkuasa di Gaza Strip dan West Bank. Mereka berkata bahwa hanya gerakan Palestina yang berbasis Islam yang dapat sukses dalam pengusiran "Zionis" dari tanah Muslim Arab, dengan restu Allah.
  Arafat yang saat itu semakin menua terlihat menerima kehadiran pemeran baru dalam panggung politik Palestina itu. Meskipun begitu, ia takut jika gerakan ekstrimis akan berkembang populer dan berujung menentang otoritas politiknya juga kekuasaan Israel tentunya, dimana ia mengakui dirinya sebagai "bapak bangsa Palestina".

Merancang Cara

  Agustus 1988, Hamas berusaha menyamai PLO dengan cara mempublikasikan "piagam pendirian". Dokumen tersebut menggema dalam kerangka fundamental Muslim. Piagam itu menyerukan seluruh orang Palestina untuk bersiap menjadi shahids, atau martir, demi menghancurkan Israel dan menggantinya dengan satu negara Arab berbasis semata-mata pada ajaran Qur'an.
Di bawah ini beberapa pokok-pokok dari  piagam Hamas:
  • Artikel 6 jelas berbunyi bahwa misi utama grup adalah tidak lain dari penghancuran Israel dan menggantinya dengan negara fundamental Arab-Muslim. Dengan bangga Hamas akan "membentangkan bendera Allah di setiap sentimeter Palestina."
  • Artikel 7 mengutip satu dari anti Yahudi yang paling dikenal, pemusnahan total, ayat-ayat wahyu dariHadith, atau tradisi dari mulut ke mulut, yang serupa dengan Qur'an dalam iman Muslim: "Harinya akan datang ketika para Muslim akan berperang melawan Yahudi dan membunuh mereka, hingga Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, dimana batu dan pohon itu akan berseru kepada Muslim dan berkata, 'Oh Pelayan Allah, seorang Yahudi sedang bersembunyi di belakangku. Datang dan habisi ia!'
  • Artikel 11 melarang setiap negoisasi damai Palestina atau perjanjian dengan Israel: "Palestina adalah tanah Islam yang diserahkan untuk Muslim hingga akhir jaman. Mungkin saja itu tidak ditolak atau diakui semuanya atau sebagian.
  • Artikel 13 menegaskan, pernyataan tidak adanya "solusi bagi masalah Palestina kecuali melalui jihad."
  • Artikel 14 hingga 19 bersikeras bahwa para pendidik dan orangtua Muslim wajib menginstruksikan masa Palestina terutama anak-anak untuk berjihad.
  • Artikel 22 adalah yang paling mirip dengan gema Hitler untuk melebih-lebihkan kekuatan Israel internasional serta mengutuknya secara bersamaan. Isinya, "Musuh telah mengumpulkan kekayaan luar biasa dan berpengaruh, yang telah dimanfaatkan untuk menguasai media dunia, kantor berita, pers penyiaran stasiun, dll." Mereka terus mengklaim bahwa yahudi jahat berada 'di balik revolusi Perancis dan Komunis' dan telah mendirikan 'organisasi rahasia untuk menghancurkan masyarakat dan melayani kepentingan Zionisme.' Beberapa grup berkata mengikutsertakan 'Freemasons (aliran/golongan tersembunyi di Amerika), Rotary dan Lion's Club.'
  Seiring kebencian berlanjut, Piagam Hamas tidak secara serius menghiraukan para offisial Israel, yang diyakini gerakan  baru tidak akan berbahaya. Tentu saja, offisial dan komentator-komentator Timur Tengah beranggapan bahwa grup-grup Sunni Muslim yang jaringan klinik-klinik kesehatan dan sekolah-sekolahnya semakin berkembang adalah satu tanda melunaknya Hamas.
  Lebih dari itu, Hamas mengutip beberapa dari ajaran-ajaran anti Yahudi yang terdapat di Qur'an dan Hadith, dimana akan menjadi justifikasi pada akhirnya. Pembunuhan Presiden Anwar Sadat justru melanggar prinsip keramat Islam dengan berdamai dengan Zionis. Jika Arafat melakukan hal yang sama (yang mana kemudian ia lakukan juga, walaupun di atas kertas), ia akan menjadi makanan empuk mesin propaganda Hamas, dan memang demikian akhirnya.

Penggulingan Arafat

  Hamas sedikit bermasalah ketika membalikkan persetujuan Arafat di tahun 1993 dalam perjanjian perdamaian Oslo yang disponsori oleh Amerika dimana secara rahasia dinegoisasikan dengan offisial Israel di Norway. Hamas melakukan teror berseri terhadap bus-bus publik dan target-target sipil lainnya, yang diawali di bulan April 1994. Saat itu Benjamin Netanyahu adalah perdana menteri Israel di bulan Mei 1996, perjanjian tersebut tidak efektif berjalan meskipun Israel menyerahkan sebagian besar Gaza Strip dan beberapa kota Palestina di Yudea dan Samaria ke tangan Arafat.
  Lonceng final proses perdamaian berbunyi di Januari 2006 ketika Hamas berhasil menang dalam Pemilu Palestina--ironisnya berdasarkan persetujuan Oslo keberadaan grup teroris ditolak. Hamas kemudian merespon penarikan mundur Israel dari Gaza Strip di tahun 2005 dengan mementaskan kudeta mendadak di bulan Juni 2007 terhadap PLO-blok pasukan keamanan Otoritas Palestina yang ditempatkan di zona pesisir kecil.
  Apa yang akan datang kemudian adalah dugaan orang. Tetapi satu yang pasti: gerakan radikal Hamas--sekarang bergabung dan didukung oleh Shiah Iran, bergabung dengan gerakan Hesbollah Libanon, Suriah dan al-Qaida Osama bin Laden dan juga  grup-grup yang mirip dengan Arab Sunni Muslim serta yang agak mengejutkan bergabung dengan Fatah di bulan April thn ini--tidak akan segera lenyap. Artinya Israel tanpa pilihan lain akan terus berperang melawan penjarah-penjarah yang bekerja hari dan malam untuk menghapus bangsa Yahudi dari dunia.

Minggu, 07 Agustus 2011

Keyahudian Dari Bait Tuhan


By. Randall Price
6 Agustus 2011
IGM



Para pengunjung akan disambut ke dalam sebuah ruangan besar dengan meja-meja konferensi dan rak-rak buku yang terisi dengan buku-buku  Hukum Islam. Tergantung di salah satu dinding foto Yasser Arafat. Saya berada di sana untuk mewawancarai seorang Islam cleric untuk dokumentasi tentang "Haram". Ketika pertanyaan saya mengarah ke isu tentang Haram menjadi Bait Allah Yahudi, seorang grand mufti Palestina yang saya ajak interview, Ikrima Sabri, berubah menjadi gelisah. "Tidak ada Bait semacam itu di sini!" kata dia. Sebagai bukti, ia berargumen: "Apabila pernah ada sebuah bait eksis di Haram, Allah tidak akan memerintah untuk membangun sebuah Mesjid di sini." Lalu ia berkata, "Tidak ada satu batu pun ada  di seluruh kota ini membuktikan keberadaan Yahudi di Yerusalem.
  Pernyataan ia merefleksikan reivisi Palestina akan sejarah yang telah menjadi sejarah resmi bagi orang-orang Palestina. Di tiap sekolah cerita tersebut diajari pada semua tingkat dan dikotbahkan dari mimbar mesjid setiap jumat oleh muslim cleric. Bait Allah dan isu akan perombakan Bait tersebut menjadi dasar konflik Israel-Palestina.
  Banyak orang-orang Israel tidak secara serius memandang intensitas perasaan muslim terhadap prospek Bait Allah ketiga. Dari pemicuan akan mesjid al-Aqsa oleh turis 'Kristiani' di tahun 1969 hingga pembukaan akan pintu keluar ke terowongan Western Wall (dinding ratapan) di tahun 1995 hingga rekonstruksi dari tempat berjalan atau gang menuju Mughrabi Gate di tahun 2006 hingga rekonstruksi dari Sinagoge Hurva  di Jewish Quarter tahun lalu, para penguasa Islam menginterpretasi setiap aksi (Haram al-Sharif) sebagai satu usaha yang disengaja untuk menghancurkan tempat kudus Muslim dan membangun Bait Yahudi.
  Banyak rupa hasil dari aksi Muslim propaganda ini yang menolak keberadaan Bait kuno tersebut dimana orang-orang barat meragukan sejarah Bait tersebut, demikian juga argumen akan lokasi di mana Islam Haram terletak.

Apa yang tertulis di Alkitab

  Alkitab menyimpan secara samar eksistensi sejarah dan lokasi topografi dari dua Bait Yahudi dimana, melalui sejarah Yahudi, telah diletakkan di atas Bukit Muria (Mount Moriah). Lokasi tersebut diawali ketika Tuhan memerintahkan Abraham untuk mengorbankan anaknya Ishak di atas sebuah bukit di tanah Muria (Kej.22:2).
  Kemudian Tuhan mengesahkan bangsa Israel di tanah Israel (2 Sam.7:10) dan berkata kepada Raja Daud,"Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya."  Tuhan menegaskan pilihanNya akan letak Bait tersebut ketika Ia memerintah Daud untuk membiayai mezbah di tempat pengirikan Ornan orang Yebus dan mendirikan altar untuk mempersembahkan korban bakaran (1 Taw.21:18-29). Daud mendeklarasikan, "Lalu berkatalah Daud: "Di sinilah rumah TUHAN, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel" (22:1).
  Tempat tersebut adalah Bukit Muria: "Salomo mulai mendirikan rumah TUHAN di Yerusalem di gunung Moria, di mana TUHAN menampakkan diri kepada Daud, ayahnya, di tempat yang ditetapkan Daud, yakni di tempat pengirikan Ornan, orang Yebus itu" (2 Taw.3:1).
  Ketika orang-orang Yahudi kembali ke Yerusalem dari Babylon dibawah maklumat Raja Koresy (36:22-23), mereka membangun  Bait kedua tepat di mana Bait pertama dibangun: "Biarkanlah pekerjaan membangun rumah Allah itu. Bupati dan para tua-tua orang Yahudi boleh membangun rumah Allah itu di tempatnya yang semula" (Ezra 6:7). Mereka mewajibkan untuk membangunnya "di tempat semula", artinya di pondasi awal dibangun (2:68). Secara theologis, kemungkinan saat itu tidak ada lokasi lain untuk Bait kedua dibandingkan yang pertama disucikan oleh keesaan Tuhan.
  Dedikasi Bait pertama, Kemuliaan Tuhan (Shekinah) mengisi Bait dari Kudus Dari Segala Yang Kudus (1 Raja2 8:10-12), membuat Bait Allah tinggal selamanya (ayat 13). Jadi, Tuhan menunjukkan nabi Yehezkiel bahwa kemuliaan ini, dimana telah hilang sebelum penghancuran dari Bait pertama, akan kembali seperti bagaimana kemuliaan tersebut pergi menghilang (Yeh.9:3; 10:4; 18-19; 11:22-23; 43:1-7). Konsekuensinya, daerah Bait itu harus tetap tidak berubah hingga final restorasi Israel di tanah mereka, di saat kehadiran Tuhan akan tinggal di dalam Bait selamanya (37:22-28).

Apa kata para Arkeolog

  Penggalian para arkeolog juga dengan sepakat mengkonfirmasi bahwa Haram berada di Bukit Moria dan pernah sekali dibangun Bait Yahudi. Walaupun abad ke-10 B.C. (sebelum Kristus lahir), Kerajaan Daud dan Salomo diperselisihkan, saat ini penemuan arkeolog menguatkan keotentikan sejarah mereka. Di Khirbet Qeiyafa, kota provinsi di region Elah Valley, arkeolog membongkar kubu pertahanan impresif dari periode ini. Sebagai tambahan, sebuah Ostracon (pecahan prasasti yang terbuat dari tanah) di Ibrani dari periode yang sama telah ditemukan di salah satu bangunan. Hal itu menyatakan sebuah tingkatan dari kultur tertulis yang secara tidak langsung menyatakan eksistensi dari penyimpanan dokumen-dokumennya. Daerah tersebut mungkin  dulunya sebuah pusat administrasi yang sekarang bernama Netaim sebab kedekatannya dengan daerah berdasarkan Alkitab dari Gedera (1 Taw.4:23).
  Arkeolog juga telah membongkar kota kuno Daud, yang dulu menggunakan kubu pertahanan dan sistem pengairan orang Kanaan dan Yebus. Di daerah selatan Yerusalem, dekat lembah Kidron, penggalian-penggalian telah menyatakan sebuah masif struktur batu bertingkat dari abad ke-13 B.C. di atas  dimana Daud memulai membangun kotanya (Lihat 2 Sam.5:9). Mungkin itu tembok bertahan, dinding penopang dari Benteng Sion, sejak penemuan akhir dari bangunan-bangunan monumental di atas diinterpretasikan sebagai istana Daud. Daerah tersebut adalah perpanjangan bertingkat dari pegunungan di atas istana ini (Ophel) dimana  Bukit Moria terletak dan Bait pertama dibangun Raja Salomo, keturunan Daud.
  Di tahun 2010 sebuah dinding kota dengan rumah gerbang yang dibuat akhir abad 10 B.C. juga telah ditemukan di Ophel. Hal itu menunjukkan bahwa keahlian teknik sudah eksis sejak dahulu di kota itu. Prasasti  terpisah di Ibrani kuno di dalam satu dari beberapa buli-buli besar yang ditemukan dari penggalian di area komplek penggalian mengindikasikan bahwa itu milik pejabat tinggi pemerintah. Cetakan-cetakan segel  juga berhubungan dengan suasana kerajaan. Penemuan ini cocok dengan dokumen alkitabiah dari konstruksi kerajaan yang saat itu memperkerjakan arsitek-arsitek Phoenic (orang-orang jaman dahulu di tanah Kanaan) dan ahli teknik untuk membangun Bait pertama (1 Raj.7:13-14).
  Dalam Alkitab tertulis, Salomo "menyelesaikan pembangunan rumahnya sendiri, dan rumah Tuhan, dan dinding sekeliling Yerusalem" (3:1). Berdasarkan Eilat Mazar, arkeolog yang menggali area tersebut, dinding tersebut mungkin menghubungkan dengan kota Daud dan "terlihat seirama dengan deskripsi dalam Alkitab tentang Raja Salomo membangun garis benteng pertahanan sekeliling konstruksi saat ini (Yerusalem), dimana mengartikan bait itu dan istana kerajaan raja Salomo.
  Biji-biji dari bullae tanah liat (segel kecil dicap dengan nama pengirim dan dilampirkan untuk dokumentasi) ditemukan di dalam sebuah ruangan di kota Daud yang telah terbakar ketika orang-orang Babylon menghancurkan Bait pertama di tahun 586 B.C. Banyak nama-nama dalam buku-buku Yeremia dan Tawarikh ditemukan, termasuk Azarya anak dari Hilkiah yang adalah famili dari imam-imam di periode Bait pertama (1 Taw.9:11).
  Saksi bisu dari Bait kuno adalah Western Wall (dinding ratapan), sebuah  bagian yang masih ada dari dinding Bait kedua yang ke arahnya orang-orang Yahudi berdoa. Dinding ini memanjang 50 kaki di atas plaza modern, tapi juga 50 kaki kebawahnya. Pengunjung dapat berjalan sepanjang paling tidak 1000 kaki dari dinding ini melalui terowongan Western Wall.
  Sebagai tambahan, terdapat Lengkungan Robinson. Dari tahun 1968 hingga 1978 arkeolog Israel Benjamin Mazar menggali banyak struktur yang berhubungan dengan Bait kedua, termasuk tangga rumah yang dikenal dengan nama Lengkungan Robingson, digunakan oleh para imam untuk memasuki Bait. Struktur monumental ini mulai digunakan di kolam Siloam di lembah Kidron dan membawa orang Yahudi (termasuk Yesus dan murid-muridNya) naik melalui Gerbang Huldah dan masuk ke Bait Allah, demikian juga miqva'ot (kolam ritual pembabtisan) yang digunakan oleh Yahudi untuk menyucikan diri sebelum masuk ke halaman Bait.
  Dari tahun 1996 sampai 1998 Ronny Reich menggali di area ini. Penemuannya termasuk sebuah garus jalan kuno dengan toko-toko, dimana orang-orang Yahudi membeli hewan-hewan korban untuk Bait; jejak Lengkungan Robinson; lebih banyak miqva'ot; dan sebuah batu pahatan yang menginstruksikan para imam di mana harus berdiri, meniup trumpet sebagai signal dimulainya Sabat.
  Juga terletak di jalan kuno ini berton-ton batu-batu bangunan dari area Western dari komplek Bait. Mereka dulu dibuang ke bawah dari atas oleh prajurit Roma ketika penyerangan mereka di Bait Allah di tahun ke-9 Av di tahun A.D. 70 (tahun 70 sesudah Kristus). Batu-batu ini  dengan jelas adalah saksi dari penghancuran Bait Allah seperti yang Yesus sebelumnya katakan (Lukas 21:20-24).
  Dalam konteks dari struktur arsitek ini ditemukan kekayaan artifak yang mendemonstrasikan kehidupan sehari-hari orang Yahudi di sekitar Bait. Bukti arkeolog dalam jumlah besar  memverifikasi eksistensi dari Bait Yahudi dan lamanya orang-orang Yahudi tinggal di Yerusalem dan di Bait Allah. Ironisnya, jaman dahulu, turis diberi beberapa dari bukti-bukti ini oleh (siapa lagi) penguasa Muslim.

Apa yang terjadi?

  Cita-cita Islam untuk mendominasi region itu dan menempatkan sebuah ibukota Palestina di Yerusalem telah menuntut penulisan kembali fakta-fakta sejarah (rewriting the facts). Islam harus menghancurkan klaim Yahudi terhadap Yerusalem dan tempat-tempat suci Muslim. Jika orang Palestina mendukung klaim Yahudi, disaat permohonan Israel selama negoisasi perdamaian, akan serupa dengan pendurhakaan dan akan dihukum mati di seluruh dunia Islam.
  Oleh sebab itu, hal itu tidak dapat dipahami seandainya orang Palestina berkompromi akan tuntutan mereka untuk menguasai secara total seluruh Yerusalem atau mengakui eksistensi dari Bait Yahudi. Hal itu tetap untuk mereka yang tahu fakta-faktanya untuk mengatakan kebenaran dan berdiri mendukung 'State of Israel' dalam perang propaganda ini, yang mana lebih jahat dan mematikan daripada senjata di tangan seorang laki-laki.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Ketika Tuhan Seakan Diam


By Paul Golden
IMG
5 Agustus 2011



Angkat, angkat!" anda berteriak ke arah telpon di saat seseorang yang anda kasihi tergelatak tak berdaya di lantai. Anda berusaha menghubungi rumah sakit. Terus berdering, namun tak ada jawaban. Berapa lama ya Tuhan, berapa lama hingga mereka menjawab? Sunyi.
  Bayangkan desperasi anda. Detik berubah menjadi menit, tapi tetap tak ada respon. Anda mencoba mencari bantuan namun hanya kesunyian yang ada.
Pernahkah anda memanggil Tuhan dan tidak ada respon? Pernahkah anda merasa Tuhan seperti tuli terhadap anda? Raja Daud pernah. Di Mazmur 13, Daud menyimpan kefrustasiannya terhadap Tuhan selama masa kesukaran dan memberi kita sebuah model berdoa ketika kita merasakan hal yang sama yang dialami Daud.
Yang menarik, Daud tidak melengkapi secara rinci panggilan daruratnya kepada Tuhan, jadi kita tidak tahu apakah itu karena penyakit atau kesulitan lain. Kita tidak tahu apakah ketidakresponsifan Tuhan membuat sangat menderita. Salah satu penulis berkomentar, "Waktu yang akan menjadi  sebuah tekanan destruktif, memakai kemampuan laki-laki untuk bertahan dan meningkatkan penderitaan hingga batas non manusiawi".

Ratapan

Mazmur 13 adalah individual ratapan, "gaya dari pemazmur dimana pemdengar mendefinisikan suatu krisis dan melibatkan Tuhan sebagai pertolongan". Hal itu tersimpulkan dalam sebuah catatan akan harapan dan kepercayaan. Daud memercayakan keadaan sulitnya dalam Tuhan, dan pemazmur dengan tulus dan sungguh-sungguh menggarisbawahi reaksi Daud kepada ketidakresponsifan Tuhan. Pertama, Daud menyatakan masalahnya--dimana malah menjadi ketidakresponsifan dari Tuhan sendiri. (ayat 1&2)
Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?
  Daud mengadakan pembelaan terhadap Tuhan sebanyak 4 kali, bertanya "Berapa lama?" Anda dapat merasakan intensitas dari emosi tersebut dalam pertanyaan retorik Daud. Ia merasa diabaikan dan dilupakan oleh Tuhan--terasingkan, sendiri dengan pikirannya. Seperti penelpon di atas, Daud amat merasa susah.
  Ia kemudian mengungkapkan dengan kata-kata kesusahannya seperti ia sedang bergulat dengan masalah yang tak pernah berhenti  dan amat banyak. Emosi Daud  mungkin tidak sama dengan beberapa pembaca. Meskipun demikian, Kenneth Barker dan Waylon Bailey mencatat,
  Tuhan adalah teman bagi orang ragu yang jujur yang berani berbicara kepada Tuhan daripada berbicara kepada dirinya sendiri. Seorang pendoa yang mengikutsertakan sebuah elemen dari 'bertanya pada Tuhan' mungkin adalah sebuah arti dari imannya yang bertumbuh. Mengekpresikan keraguan dan menangisi ketidakadilan situasinya menunjukkan satu iman percaya dalam Tuhan dan satu kepercayaan  bahwa Tuhan punya jawaban terhadap masalah manusia yang tidak terpecahkan.
  Ketika anda berhadapan dengan kefrustasian anda dengan Tuhan, katakan sejujurnya di dalam Dia--seperti Daud--mengekspresikan kesulitan dan susah payah anda.

Permohonan

  Daud kemudian mentransisi dari 'bertanya pada Tuhan' ke 'berdoa pada Tuhan'. Ia memohon akan sebuah respon (ayat 3&4): 
Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya TUHAN, Allahku! Buatlah mataku bercahaya, supaya jangan aku tertidur dan mati,supaya musuhku jangan berkata: "Aku telah mengalahkan dia," dan lawan-lawanku bersorak-sorak, apabila aku goyah.
Pemazmur menggunakan tiga tingkatan doa (melihat, menjawab, dan memberi cahaya) untuk memohon dengan sangat kepada Tuhan. Ia mencari sebuah jawaban--terutama respon positif dari berkat dan kemurahan Tuhan.
  Daud kemudian berseru pada Tuhan dan reputasiNya (ayat 4). Seorang komentator menulis: "Sebelum masalah lain datang, dan sebelum pihak yang tak bertuhan punya alasan untuk bersukacita akan kemenangan mereka, Tuhan harus bertindak untuk menjaga kemuliaanNya. Daud memohon pada Tuhan, secara esensial, "Tolong berikan aku sesuatu untuk bersukacita, Jika tidak, tolong jangan berikan musuhku alasan untuk bersukacita. Seperti Daud, kita harus berdoa pada Tuhan di tengah-tengah keadaan yang sulit dan bertanya akan sebuah respon.

Pujian

  Sesudah Daud mengekspresikan masalahnya dan berdoa, ia memuji Tuhan akan kebaikanNya dan berkat-berkatNya (ayat 5&6):
Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu.Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku.
Sebuah hal yang kontras dari awal seruan emosional Daud pada Tuhan (ayat 1&2) dibandingkan ayat ini yang berisi kepercayaan pada Tuhan. Daud menggambarkan pilihannya untuk percaya dalam Tuhan daripada melihat kesulitan keadaannya. Ia mengekspresikan kepercayaannya pada Kasih Tuhan yang tak putus-putusnya--memutuskan untuk bersukacita dan bernyanyi untuk Tuhan sebab "Ia baik padaku".
 Telah dikatakan Daud, "Walau ia telah mengalami putus asa, pemazmur tidak menyerah...Ia berpegang pada janji Tuhan." Daud tidak dibanjiri dengan kesulitannya; dalam situasinya yg menantang, ia berkata, "Aku percaya." Martin Luther pernah berkata, "Pengharapan menghilangkan harapan namun kehilangan harapan memberi harapan."
  Hal lain yang menarik, semua keluh kesah Mazmur (pengecualian pasal 88) berakhir dengan pujian kepada Tuhan karena pelepasan dan kesetiaanNya. Claus Westermann mendeskripsikan hasil dari kepercayaan Daud: "Orang yang menaruh ratapannya kepada Tuhan tidak akan tetap selamanya dalam ratapannya. Daud dengan tegas menaruh kepercayaannya dalam kuasa Tuhan. Ia menetapkan untuk menaruh kepercayaannya pada apa yang ia tahu benar adanya akan karakter dan kesetiaan Tuhan daripada terus berada dalam perasaan yang kecewa dan hilang semangat.
  Dr. Mark McGinniss berkata, "Sikap diam Tuhan tidak berarti keabsenan Tuhan." Daud memutuskan untuk percaya bahwa Tuhan yang kuasa, dimana kepada Dia ia melayani, bekerja di balik layar meskipun Ia tak terlihat.
  Berapa lama, ya Tuhan, aku harus hidup terus dalam penyakit kronis ini? Berapa lama, ya Tuhan, sebelum Engkau membawa kembali cucuku yang suka melawan? Berapa lama, ya Tuhan, aku akan terus menganggur? Berapa lama, ya Tuhan, sebelum Engkau memberi kami anak? Jika kita, seperti Daud, dihadapi dengan apa yang sepertinya menjadi kesunyian yang tidak responsif dari Tuhan--tidak ada jawaban dari rumah sakit padahal kita berseru dalam NamaNya--kita seharusnya mengikuti contoh Daud: Tumpahkan seluruh keluh kesahmu pada Tuhan; berdoa, memohon sebuah respon; dan memuji Dia karena Ia adalah Tuhan, daripada terus berada pada gejolak kesusahan kita.
  Tuhan punya maksud akan semua hal, bahkan di saat Tuhan seperti diam. Ia berjanji, Ia tidak akan meninggalkan kita bahkan mengabaikan kita (Ibr 13:5). Memanggil namanya adalah sebuah panggilan Urgensi.

Tuhan Yesus Memberkati

Rabu, 03 Agustus 2011

Sejarah West Bank

By. Josua Sihotang
02 Agustus 2011



   Sering kita mendengar di media  'occupied Territories''1967 borders', dan 'illegal settlement', dan cerita yang kita dengar sangat sederhana. Saat perang 6 Hari (Six Days War), Israel merebut West Bank dari Palestina, menolak tuntutan PBB untuk mundur dan secara ilegal membangun perumahan Israel. Apakah demikian cerita sebenarnya? Mari kita berusaha sedikit mengerti keadaan yang sebenarnya. Kita awali dari pertanyaan sederhana; "dari siapa Israel merebut West Bank?"

  Di tahun 1967, tidak ada bangsa Arab atau negara bagian Arab yang bernama Palestina. Israel merebut West Bank dari Yordania dalam aksinya untuk mempertahankan diri, karena Yordania ikut bergabung dengan Mesir dan Siria untuk menghancurkan Israel.
Di tahun tersebut PBB berulang kali menolak pernyataan negara-negara Arab dan Soviet bahwa Israel adalah "Agresor".
Security Council Revolution 242 tidak menuntut penarikan Israel secar unilateral, akan tetapi PBB menyerukan solusi melalui negoisasi yang membiarkan Israel pada keadaan aman dan pengakuan atas batas-batas Israel atau batas-batas dimana Israel dapat mempertahankan diri.

  Lalu apa maksud Yordania menguasai West Bank pada awalnya?Tidak ada justifikasi legal. Yordania menduduki West Bank sebagai usaha untuk menghancurkan keabsahan negara Israel yang diakui di tahun 1948, merubah nama Judea Samaria menjadi West Bank. Hal ini tidak meyakinkan banyak orang dan bahkan tidak ada yang menyatakan okupasi atau pendudukan oleh Yordania, demikian juga negara-negara Arab lainnya.

  Jadi, jika Yordania tidak berha mengklaim tanah tersebut dan disamping itu Palestina tidak eksis, teritori siapakah tanah itu? Mari kita kembali ke belakang.

  Hingga tahun 1917, kekaisaran Ottoman menguasai tanah tersebut. Setelah 500 tahun Ottoman menyerahkannya kepada Inggris dan Perancis akibat kekalahan Perang Dunia 1. Kedua sekutu tersebut membagi daerah kekuasaan Ottoman menjadi beberapa negara bagian.
  Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Lord Balfour, mengakui tanah tersebut menjadi milik bangsa Yahudi atas dasar sejarah. Inggris menerima mandat ini dari League of Nations untuk mempromosikan pengesahan kampung halaman Yahudi ini. Tanah ini tidak hanya termasuk West Bank, tapi juga East Bank dari area sungai Yordan. (lihat gbr. 1&2)



Setelah pengakuan oleh League of Nations, PBB juga mengakuinya setelah Perang Dunia 2.
Setelah mandat Inggris (British Mandate) berakhir, Resolusi General Assembly PBB 181 merekomendasikan pengakuan 2 negara bagian atau partisi (2 states solution), yang satu Yahudi yang lain Arab. Orang Yahudi setuju dan berencana untuk mengesahkan menjadi bagian negara Israel. Sebaliknya orang Arab menolak berkompromi bahkan meluncurkan perang sebagai aksi penolakan akan pengesahan milik Yahudi ini.
  Di tahun 1949, Garis Armistice terbentuk, dimana ditetapkan tidak adanya hal-hal yang bersifat politik.
 (lihat gbr. 3).


 Walaupun garis ini bukan dibuat pada tahun 1967 dan bukan batas internasional. Ini menjelaskan adanya perselisihan teritorial, bukan didefinisikan sebagai okupasi atau pendudukan. Maka, solusi atas pertikaian ini diharapkan berdasar pada fakta sejarah.
  Keberadaan Israel di West Bank adalah sebagai akibat dari aksi mempertahankan diri. West Bank seharusnya tidak dianggap sebagai pendudukan sebab tidak ada kekuasaan yang sah sebelumnya, maka seharusnya West Bank didefinisikan sebagai teritori yang diperselisihkan.
1947 Partition Plan tidak berdiri dengan sah, dan Israel mengklaim tanah tersebut yang diakui komite internasional. Itu sebabnya keberadaan dan pembangunan perkampungan perumahan Israel seharusnya tidak dianggap sebagai ilegal.

Sumber : D. Ayalon

Mengapa beberapa orang Arab menamakan dirinya Palestinian?


By. Josua Sihotang
31 Juli 2011

  Tidak pernah ada dulunya bangsa yang menguasai negara bagian bernama "Palestina".
Roma menguasai Israel dan memberi nama area Palestina dengan unsur nama dari musuh Israel.
Dulu tanah itu tidak dikuasai dan tidak ada orang Arab di sana.
Setelahnya daerah itu adalah bagian dari Byzantium dan kemudain berganti-ganti kekuasaan hingga menjadi bagian dari Ottoman Empire.
Di bawah ini sumber-sumber dari WIKI:
  Sesudah kejatuhan Kerajaan kuno Judah, kekuasaan politik dipegang oleh :
  • 586-539 BC: Kekaisaran Babylon
  • 539-332 BC: Kekaisaran Persia
  • 332-305 BC: Kekuasaan Alexander The Great
  • 305-198 BC: Dinasti Ptolemaic
  • 198-141 BC: Kerajaan Seleucid
  • 141-37 BC: Kerajaan Hasmonean di Israel disahkan oleh Maccabees, sesudah 63 BC dibawah supremasi Roma
  • 37 BC-70 AD: Dinasti Herodes menguasai Judea dibawah supremasi Roma (37 BC-6 AD dan 41-44 AD), bertukar kekuasaan langsung dengan kekuasaan Roma (6-41 CE dan 44-66 AD). Hal ini berakhir pada saat Pemberontakan Yahudi pertama 66-73 AD, dimana Bait Allah dihancurkan pada 70 AD.
  • 6 AD Quirinius Sensus dan pengesahan Provinsi Iudaea Roma
  • 70-395: provinsi dari Kekaisaran Roma pertama dinamakan Judea, setelah tahun 135 dinamakan Palestina oleh Roma untuk membuat jengkel bangsa Yahudi akibat Pemberontakan Yahudi kedua (The Bar Kokhba Revolt). Di tahun 395 kekuasaan Roma terbagi atas Daerah Barat dan Daerah Timur.
  • 395-638: Roma bagian Timur atau Kekuasaan Byzantine
  • 638-1099: Khalifa Arab dan penguasa-penguasanya
  • 1099-1187: kekuasaan Crusader, khususnya Kerajaan Yerusalem
  • 1187-1260: dominasi Mesir Ayyubids dan Damaskus ( http://en.wikipedia.org/wiki/Ayyubid_dynasty )
  • 1260-1516: dominasi Mesir Mamluks ( http://en.wikipedia.org/wiki/Mamluks#In_Egypt )
  • 1918-1948: Mandat Inggris atas Palestina dibawah League of Nations, kemudian dibawah penerusnya yaitu PBB; Trans-Yordania Emirat dibagi dari sisa daerah Palestina di tahun 1922, dan Kerajaan Hashemite Yordania menjadi merdeka dibawah berakhirnya Mandat League of Nations di tahun 1946.
Dari tahun 638-1009 bangsa Arab tidak menamakan diri mereka Palestina dan tidak memberi nama daerah Palestina.
Kekaisaran Ottoman sejak dahulu tidak pernah menamakannya Palestina dan juga tidak pernah memanggil orang-orang yang tinggal di sana dengan panggilan 'orang Palestina', karena memang tidak ada orang Palestina atau bahasa Palestina bahkan budaya Palestina.

Di bawah ini peta Ottoman:

Ketika Kekaisaran Ottoman kalah di Perang Dunia 1, Kerajaan Inggris merampasnya dan menamakannya Palestina Inggris.
Saat itu, hanya penduduk Yahudi yang menamakan diri mereka orang Palestina; Arab menamakan diri mereka orang Arab - dan merasa bahwa mereka adalah bagian dari Ummah, bukan dari kerajaan lain.

Jadi, mengapa beberapa orang-orang Arab sekarang lebih memilih menjadi orang Palestina, yang adalah subyek dari sebuah koloni!?

Itu adalah sebuah cerita bohong terbesar. Hanya Marxisme dan Anthropogenic Global Warming adalah kebohongan kedua.
Mereka menamakan diri mereka demikian sehingga seakan-akan tanah tersebut adalah milik mereka.