Selasa, 30 April 2013

Lambang Kebaikan Dan Kehidupan Itu Kini Jadi Tabu

29 April 2013
Sumber : wnd.com



Bendera adalah lambang dari suatu negara, lambang jatidiri dan integritas, perlambang kejayaan, kemakmuran dan kebanggaan rakyatnya. Kebanyakan orang percaya bahwa corak dan bentuk sebuah bendera dibentuk atau dibuat tidak secara kebetulan. Demikian juga Merah Putih, yang walaupun berawal dari bendera Belanda, adalah perlambang bangsa yang berani, tidak pantang mundur, gigih namun tetap dilandasi hati yang tulus. Namun ada juga bendera yang menjadi lambang kenistaan, ketabuan sekaligus saksi bisu kekejaman seorang pemimpin: Swastika! Simbol dari Partai Nazi di tahun 1920. 



Sejarah Awal

Bukti awal arkeologi menyatakan ornamen bentuk swastika berawal pada  peradaban Indus Valley juga pada zaman purbakala klasik Mediteran. Swastika juga digunakan di peradaban kuno lainnya termasuk Cina, Jepang, India dan Eropa Selatan. Namun tetap digunakan dalam agama India, secara spesifik di Hindu, Buddha dan Jainisme, utamanya sebagai sebuah simbol tantra untuk membangkitkan shakti atau simbol keramat dari kesuburan atau kesejahteraan. 

Kata "swastika" datang dari Sanskrit svastika - "su" artinya "baik" atau "sejahtera/subur", "asti" artinya "menjadi", dan "ka" sebagai tambahan. Arti harfiahnya adalah "menjadi baik". Atau translasi lain dapat diuraikan: "swa" adalah "diri yang lebih tinggi", "asti" artinya "menjadi", dan "ka" sebagai tambahan, jadi artinya dapat diinterpretasi "menjadi diri yang lebih tinggi".

Di era 1800-an, negara-negara di sekitar Jerman tumbuh lebih besar, membentuk kerajaan, namun Jerman bukanlah negara bersatu hingga tahun 1871. Untuk mengatasi perasaan kerentanan dan stigma pemuda, nasionalis Jerman di pertengahan abad kesembilan belas mulai menggunakan swastika, karena memiliki asal usul kuno Aryan/India  untuk mewakili sejarah panjang Jermanik.

Pada akhir abad kesembilan belas, swastika dapat ditemukan pada majalah nasionalis Jerman völkisch  dan merupakan lambang resmi dari Liga Pesenam Jerman.
Pada awal abad kedua puluh, swastika adalah simbol umum nasionalisme Jerman dan dapat ditemukan di banyak tempat seperti lambang untuk Wandervogel, sebuah gerakan pemuda Jerman, pada Joerg Lanz von Liebenfels' majalah antisemitisme Ostara; pada berbagai unit Freikorps, dan sebagai lambang Thule Society.


Arti Warna Pada Swastika Ditinjau Dari Kosmologi

Menurut Profesor Jean Haudry, tiga fungsi atau sistem kasta dari Arya kuno diwakili oleh tiga warna yang menonjol di antara berbagai bangsa Indo-Eropa. Ketiga warna kosmik ini adalah putih, merah dan hitam atau biru. Putih mewakili imam atau pemimpin rohani, merah mewakili prajurit dan hitam atau biru produsen. Kasta di Indian Kuno dinamai varna dan Avestic pistra, keduanya berarti warna.

Secara signifikan, bendera-bendera nasional dari bangsa-bangsa Eropa saat ini menggabungkan skema ini, yaitu Kroasia, Republik Ceko, Perancis, Islandia, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Negara Federasi Rusia, Serbia (meskipun mahkota emas ditumpangkan), Slovakia, Slovenia, Inggris, Mordovia (bagian dari Rusia), Piedmont (bagian dari Italia), Udmurtia (bagian dari Rusia dan merah, putih dan hitam), Kepulauan Faroe (milik Norwegia), Republik Srpska, Sealand (merah, putih dan hitam). 

Secara historis tentu saja bendera Konfederasi Jerman Utara (1866-1871), First Reich (1871-1918) dan Third Reich (1933-1945) adalah merah, putih dan hitam.

Sesudah Perang Dunia Pertama, munculnya Weimar Republik (1919-1933) dan Bundesrepublik (1945-seterusnya) tentu saja mendistorsi skema warna ini disaat kesadaran rasial yang nyata dari orang-orang Jerman telah terdistorsi dan dikorupsi. Beberapa orang percaya bahwa skema ini hanya kebetulan semata atau hanya dipilih untuk alasan estetika. Akan tetapi jelas warna-warna ini berada dan menempati tempat yang penting dalam Kesadaran Kolektif dari orang-orang Aryan Eropa. 

Profesor Haudry menyatakan bahwa ketiga warna tersebut juga menyimbolkan tiga dunia yang nyata atau utama, putih untuk langit, merah untuk dunia tengah (Midgaard) dan hitam untuk dunia bawah (neraka?). Haudry juga mengatakan dalam The Indo-Europeans: "Pembagian ini mungkin hasil dari penempatan tiga dunia itu dalam relasi dengan ketiga fungsi tersebut, tapi jika dasar naturalistik sudah seharusnya ada, anggapan tersebut mungkin dijustifikasi dengan kosmologi sesuai kearah mana tiga langit itu berotasi mengelilingi bumi, dengan hari-langit, "embun-putih, malam-langit hitam, dan diantaranya sebuah senja-langit merah. Yang terakhir ini menjadi acuan awal dari istilah "reg-os: the root "reg-berarti mewarnai merah", Ved rajyati." Sebagai bagian dari Woden's Maennerbund kami memasukkan tiga warna dalam simbolisme kami dan tentu saja setiap hari dengan memakai warna hitam mendominasi kebiasaan berpakaian saya. Seperti Arya dan prajurit Wodenic yang terbangun, kita menggabungkan semua tiga warna, semua ketiga fungsi-fungsi itu kedalam bangsa Aryan Bersatu kami secara kolektif dan dalam diri kami secara individu."

Cukup menarik membaca pekerjaan Haudry, dimana Ormadzd atau Ahura Mazda berdasarkan Zend Avesta memakai pakaian putih imam, merah pada prajurit dan biru pada pria menikah ketika menciptakan dunia. Dalam dunia Jermanik kita dinformasikan oleh Tacitus dalam Germanianya bahwa masyarakat Jermanik memiliki tiga divisi; Ingaevenes, Hermiones dan Istvaeones. 

Dalam bukunya "Mein Kampf" tentang pentingnya skema warna di bendera Swastika, Hitler berkata: "Dan Simbol itu benar-benar ada! Tidak hanya suatu warna-warna yang unik, dimana kita semua begitu mencintai dan menggapai begitu banyak kehormatan untuk orang Jerman, membuktikan penghormatan kita untuk masa yang lalu, mereka juga adalah perwujudan dari keinginan suatu gerakan. Sebagai Nasional Sosialis, kita melihat program kita dalam bendera kita. Dalam warna merah kita melihat ide sosial gerakan, dalam putih ide nasionalistis, di swastika misi perjuangan untuk kemenangan orang Aryan."  


Konflik Arti Swastika

Terjadi debat sengit saat ini apakah arti swastika sekarang. Selama 3000 tahun, swastika berarti positif, kehidupan dan keberuntungan. Namun karena Nazi artinya berubah menjadi kematian dan kebencian.
Konflik ini justru dirasakan langsung oleh orang beragama Buddha dan Hindhu. Buat mereka swastika adalah simbol religius yang sering digunakan. Chirag Badlani pernah bercerita, suatu saat ketika ia pergi membuat potokopi untuk kepentingan kuilnya. Ketika berdiri mengantri, beberapa orang berdiri di belakangnya dan melihat sati dari gambar-gambar yang akan dikopi berbentuk swastika. Serentak ia disebut seorang Nazi.

Sayangnya, para Nazi dulu begitu efektif menggunakan simbol swastika, dimana banyak orang tidak tahu arti sesungguhnya dari swastika.
Dapatkah dua arti yang mutlak berbeda untuk satu simbol?



Rabu, 24 April 2013

PM Jerman : "Bangsa-Bangsa Uni Eropa Harus Bersiap Menyerahkan Hak-Hak Berdaulatnya"

24 April 2013
Sumber : Reuters


Perdana Menteri Jerman Angela Merkel Senin minggu kemarin berkata, bahwa dalam upaya Uni Eropa untuk mengatasi krisis ekonominya, anggota-anggota zona eropa sebaiknya bersiap untuk "menyerahkan kontrol atas domain kebijakan tertentu ke lembaga-lembaga Eropa," demikian dilansir Reuters (Catatan Editor : Kutipan tersebut adalah kesimpulan apa yang dikatakan Merkel, bukan kata-kata sebenarnya).
"Kita seakan-akan menemukan solusi di saat kita menatap ke jurang," kata Merkel di sela-sela sebuah acara yang dituanrumahi oleh Deutsche Bank di Berlin. "Akan tetapi tepat setelah tekanan berlalu, orang-orang ingin pergi dengan cara mereka sendiri."
"Kita ingin bersiap untuk menerima bahwa Eropa berada pada kondisi genting di beberapa bagian. Jika tidak kita takkan bisa terus membangun Eropa," ia tambahkan.

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, yang juga berbicara pada event itu, memberikan pengecualian dari apa yang disampaikan Merkel. Ia menjelaskan bahwa akan menjadi "berbahaya" jika negara-negara Uni Eropa lain merasa Jerman memaksakan model ekonominya keseluruh blok," dikutip Reuters.

Kanselir Jerman dengan nada datar menyatakan bahwa hal ini tak akan terjadi. Ia juga berkata bahwa masyarakat majemuk Eropa dan kulturnya harus mengorientasikan dirinya kearah "best practices."
"Artinya Jerman  menyetujui suatu single market untuk servis, pasar tenaga kerja umumnya dan sistem-sistem jaminan sosial yang kompatibel lagi, sehingga bangsa Eropa dapat bergerak dari satu negara bagian ke lainnya tanpa kawatir akan pensiunnya," demikian ditambahkan.

Merkel dalam kutipannya juga membela pendekatan Jerman terhadap krisis ekonomi Uni Eropa, dengan argumentasi bahwa kritikannnya jelas salah jika mereka menuduhnya terlalu menekan program rencana penghematan (austeriti).

Merkel berkata, "Eropa harus menemukan cara bagi finansial yang solid dan bertumbuh."
Pemimpin-pemimpin negara-negara Eropa akan bertemu kembali di Brussels Belgia pada bulan Juni untuk mendiskusikan penetapan "fiscal union". Hal itu dipercaya, bahwa pertemuan "fiscal union" itu akan terbukti tidak produktif, umumnya karena perbedaan-perbedaan antara orang-orang Jerman yang pro-austeriti dan pemerintah Sosialis Perancis.
Akhir-akhir ini seringkali chaos terjadi di Eropa. Uni Eropa harus membuat aturan dan negara-negara tersebut seharusnya berlandaskan pada aturan ini. Pernyataan Merkel sepertinya adalah cara taktis untuk meredam pasar obligasi.

Di lain puhak, Inggris dan Belanda protes terhadap pengaruh institusi-institusi Eropa yang masif. Meskipun demikian, kekuatan Eropa tidak begitu mempengaruhi Angela Merkel. Dibutuhkan sebuah pengorbanan besar dari kedaulatan nasional.

Anshu Jain, CEO dari Deutsche Bank
tampaknya berada di luar dunia lain, karena ia justru memuji Merkel hingga ke langit walaupun melihat keadaan chaos yang berlangsung di Eropa: "Jika saat ini saya travel ke Eropa dan Amerika, investor-investor yang skeptis pun mengganggap zona Eropa tidak lagi beresiko bahaya serius. Dan itu hal yang bagus."

Hal ini mungkin bahwa Merkel ingin euro tetap berputar  hingga memunculkan keputusan bahwa Jerman dapat membuat loncatan dari euro sehingga orang lain juga ikut berpartisipasi.
Munculnya Partai anti-euro AFD dapat berguna. Berdasarkan survei terakhir dari Handelsblatt, 19% orang Jerman memilih Partai ini.

Rabu, 17 April 2013

Sukses Namun Tidak Bahagia

By. Josua Sihotang
16 April 2013
Sumber : Suddeutsche



Mereka hidup jauh lebih baik dari kebanyakan anak-anak di seluruh dunia, dengan gizi yang lengkap dan pembinaan sejak usia dini yang terarah, namun masih tidak cukup. Mereka merasa tidak bahagia! Dampak kemajuan teknologi atau tuntutan pergeseran sosio kultur?



Demikian sebuah studi yang disampaikan UNICEF - organisasi PBB untuk anak-anak - pada minggu lalu. Sebuah berita yang cukup miris bagi negara Jerman yang menganggap bahwa situasi yang menyangkut generasi muda terus diawasi dan diperbaiki. Satu dari 7 anak-anak Jerman menilai situasi kehidupan mereka antara biasa-biasa saja hingga negatif. Terdapat gap yang besar antara kondisi hidup eksternal dan kepuasan hidup.

Faktor penilaian terhadap kualitas hidup; seperti kemiskinan, kesehatan atau pendidikan; Jerman berada pada posisi ke-6, naik dari posisi ke-8 di tahun 2010. Jika dinilai dalam 5 parameter utama, yaitu pendidikan, kesehatan dan jaminan hidup, resiko dan perilaku, tempat tinggal, lingkungan, Jerman naik dari peringkat 8 ke peringkat 6. Berdasarkan skor Pisa-Test, anak-anak sekolah di Jerman memiliki penilaian yang lebih baik dibandingkan negara-negara industri lainnya dan lebih sedikit menjadi perokok. Kehamilan usia dini yang biasanya terjadi pada tingkat ekonomi bawah mengalami penurunan ke posisi 11.





Secara keseluruhan, survey yang dilakukan terhadap 176000 anak-anak usia 11-15 tahun yang diambil secara acak dari 29 negara-negara Eropa ini menempatkan Jerman di peringkat 22, jauh menurun dibandingkan tahun 2007 yang berada di posisi ke-12.

Posisi pertama ditempati Belanda dan posisi terakhir Rumania. Yang sangat mengejutkan justru yang dialami oleh negara-negara adidaya seperti Amerika di posisi ke-23. Mungkin saja hal tersebut akibat krisis ekonomi sejak tahun 2008, namun sebaliknya negara Spanyol berada di posisi ke-3 disusul Yunani di posisi ke-5 dan Portugal di tempat ke-21. Seperti diketahui, ketiga negara tersebut mengalami kebangkrutan yang paling parah diantara negara-negara anggota Euro Union. Adakah faktor ekonomi mempengaruhi dilema ini?
Mengapa anak-anak Jerman merasa begitu tidak bahagia padahal secara teknologi saat ini mereka tak akan kehabisan akal untuk memanfaatkan fasilitas yang ada?


Situasi Kritis Bagi Orangtua Tunggal

Kekawatiran ini dilayangkan Hans Bertram, salah seorang anggota Komite Unicef Jerman dan juga seorang Profesor dari Berliner Humboldt-Universitaet: "Anak-anak Jerman menggambarkan situasi mereka sangat buruk, membuat kita harus berpikir keras dan bertanya-tanya. Terus berkonsentrasi pada prestasi dan kesuksesan formal menjadi penyebab utama, sehingga anak-anak dan para remaja merasa terabaikan. Lembaga sumber daya kita jelas gagal untuk memberi harapan dan prospek anak-anak tersebut suatu partisipasi yang layak dan setara."

Penulis dari studi ini memandang masalah ini tidak bisa ditinjau dari prestasi formal saja. Sejumlah besar orang-orang muda merasa tertutup dan tidak ada keinginan untuk membaur dalam suatu komunitas. Dr. Juergen Heraeus, kepala Unicef untuk Jerman berkata, "Studi ini menunjukkan bahwa politik tidak bisa mengabaikan data-data yang ada. Kita harus lebih lagi memperhatikan anak-anak dan memberi kesempatan yang banyak untuk membuka diri."

Sebagai kesimpulan dari analisa tersebut, Kinderhilfswerk (badan publik sosial untuk anak-anak) menuntut pemerintah federal mempromosikan kesehatan yang memadai bagi anak-anak, memperkuat hak-hak untuk anak dan berjuang melawan garis kemiskinan anak. Kebijakan itu secara spesifik harus mendukung keluarga yang lemah ekonominya terutama mereka yang orangtua single.

Akan tetapi, Politik, Media dan Riset Anak-Anak tidak bisa mengevaluasi hanya dari perspektif dari prestasi mereka. Kesejahteraan anak-anak harus ditunjang melalui prinsip dari kebijakan nasional, negara bagian dan organisasi publik, demikian ditulis Hilfswerk di website mereka.


Perbandingan Dengan Negara Eropa Lain

Di lain hal, orangtua di Jerman tidak tahu bagaimana menantang kultur materialis yang mereka lihat di sekitarnya. Kontras dengan keluarga-keluarga di negara Swedia dan Spanyol.
Salah satu alasan prestasi anak-anak di kedua negara ini lebih baik, berdasarkan Studi Unicef di tahun 2011, adalah bahwa kedua negara tersebut "memproteksi waktu keluarga" dan anak-anak "punya waktu aktivitas bersama."
Di Swedia, kebijakan sosialnya mengijinkan waktu keluarga dan kulturnya semakin diperkuat. Di Spanyol, bapak-bapak bekerja sepanjang waktu, akan tetapi keluarga masih tetap sangat penting dan para ibu tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak.

Beberapa laporan berargumen bahwa kombinasi antara tekanan dari lingkungan kerja dan materialismus merusak kondisi mental anak-anak, "mereka ingin atensi kami tetapi kami memberi mereka uang." 
sial dan psikologi Jerman juga angkat bicara. Mereka mendasari masalah ini akibat kurangnya waktu di dalam keluarga. Fasilitas-fasilitas teknologi seperti komputer dan smartphone lebih mendominasi waktu anak-anak yang seharusnya digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga. Ada juga yang menganggap situasi di sekolah membuat mereka tidak puas, karena materi pelajaran dan tugas-tugas rumah yang begitu banyak. Namun ada satu alasan yang menarik yang disampaikan Dr. med. Michael Winterhoff, seorang psikiater anak-anak dan remaja. "Mayoritas anak-anak saat ini berkembang sejak usia dini. Anda bisa mendapatkan semuanya tanpa harus bekerja. Hasilnya, mereka juga belajar untuk merasa puas ketika mereka telah mencapai suatu goal."

Kesimpulannya, sepertinya, adalah bahwa orangtua terlalu sedikit memberi waktu dalam keluarga dan terlalu banyak pada bentuk materi. Unicef menggambarkan sebuah bentuk dari suatu negara yang punya prioritas salah, menukar waktu yang berkualitas dengan anak-anak untuk "laci yang penuh dengan mainan-mainan mahal yang tidak dipakai." 
Para orangtua di Jerman ingin menjadi orangtua yang baik, tapi tidak tahu bagaimana. Mereka merasa tidak punya waktu  dan kadangkala tidak ada pengetahuan mendidik anak, dan bahkan mencoba mengkompensasinya dengan cara membeli barang-barang teknologi dan pakaian.
Dengarkan uraian kebanyakan anak-anak yang diinterview, bahwa barang-barang material tidak membuat mereka bahagia!

Dilema ini juga terjadi di seluruh negara maju, dan bahkan mulai dialami di negara-negara berkembang. Dengan kemajuan peradaban teknologi dan pergeseran nilai-nilai budaya akan mengakibatkan anak-anak generasi sekarang terjebak dalam suatu siklus dari konsumsi kompulsif sebagaimana para orangtua memandikan mereka dengan hadiah-hadiah sebagai ganti waktu yang tersita di pekerjaan.


Anak Adalah Tanggung Jawab Orangtua


Sebagian besar orang percaya bahwa anak-anak dianugerahkan Tuhan kepada kita sebagai harta yang harus dipelihara, sebagai milik pusaka. Kualitas manusia tergantung dari kemampuan orangtua mengembangkan kepribadian sejak kecil. Sikap yang penuh peduli, tanggung jawab, disiplin, murah hati dan respek adalah nilai-nilai yang harus ditanamkan kepada anak-anak dimana hanya orangtua yang bisa melakukannya. Di sini mungkin juga celah permasalahannya. Di Jerman, seorang anak benar-benar dilindungi hak-haknya. Jika ia mengalami tindakan fisik dari orangtua, ia bisa mengadukannya ke Badan Perlindungan Anak (Kindesamt) dan meminta perlindungan penuh dari pemerintah. Sejak itu pemerintah akan mengambil alih peran orangtua. Akan tetapi bisakah tali cinta kasih yang mengalir dalam darah dapat digantikan orang lain? Sebaliknya di Indonesia, akibat tuntutan ekonomi kedua orangtua harus merelakan waktunya di luar rumah, sehingga peran orangtua justru diambil alih oleh nenek atau bahkan pembantu.

Pentingnya orangtua mencurahkan energi dan cinta untuk membesarkan anak-anak mereka sudah pasti diterima oleh seluruh lapisan pemerintah dan seluruh spektrum, akan tetapi memaksimalkan pendapatan dan mendorong konsumsi dianggap sebagai komponen yang juga penting bagi pertumbuhan ekonomi bangsa dan masyarakat. Jika 20 tahun yang lalu seorang pekerja biasa memanfaatkan waktu efektivitas kerjanya selama 8 jam perhari, saat ini bisa mencapai 10 jam, itupun belum dihitung di akhir minggu.
Jadi, siapkah kita menerima pergeseran kultur ini?

Jumat, 05 April 2013

Energi Angin Jauh Amat Mahal Bagi Jerman

By. Josua Sihotang
5 April 2013
Sumber : Niedersaechsische Nachrichten


Usaha untuk mengerem naiknya harga listrik tak dapat direalisasi karena adanya ketidaksepahaman antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sebelum Pemilu. Keragu-raguan muncul, kemana revolusi energi akan mengarah. Ancaman angka kematian akibat tingginya biaya energi angin lepas pantai?


Tuntutan Badan Perlindungan Konsumen Menghentikan Energi Lepas Pantai Atau Export Energi Yang Berlebihan.


Untuk melindungi masyarakat dari naiknya harga listrik, pihak Badan Perlindungan Konsumen Jerman di Berlin menuntut untuk menghentikan proyek-proyek baru yang berkaitan dengan Energi Angin Lepas Pantai. "Konstruksi instalasi kincir angin di lepas pantai ternyata lebih banyak salah arah dan teknologi", demikian analisa yang dijabarkan oleh Perhimpunan Badan Perlindungan Konsumen Jerman.

"Secara internasional angin laut yang paling baik terletak dekat pantai, namun karena di Jerman terdapat area Mudflat* maka hal ini tidak berlaku," demikian ahli energi Holger Krawinkel menulis dalam analisisnya. Semakin cepat penarikan dari pengembangan lepas pantai akan disepakati, semakin rendah konsekuensi negatif berkaitan dengan biaya. Hanya setelah pertemuan puncak energi yang gagal dengan Angela Merkel, harus dipertimbangkan  arah perubahannya.

Adapun tenaga angin lepas pantai pada awal feed-in** tarif sangat tinggi dibayar, diharapkan beban tambahan dapat diantisipasi. Biaya akan dibagi berdasarkan per alokasi 'green electricity'*** terhadap harga listrik nasional. Dalam upaya untuk mempercepat koneksi jaringan di laut, juga awal tahun ini,  mengarah ke penilaian khusus, yaitu biaya rumah tangga rata-rata per tahun naik hampir € 9 orang.

Sementara itu, kemarin dikonfirmasi angka dari awal tahun, dimana Jerman yang semakin memperbesar area lahan untuk energi terbarukan angin dan solar mendapat surplus export listrik sejak tahun 2008. Surplus tersebut sebesar 22,8 Terawatt hour (TWh) hampir 4 kali lebih besar dari tahun 2011, demikian statistik dari pemerintah negara bagian di Wiesbaden. Jerman di tahun 2012 menghasilkan surplus perdagangan listrik hingga 1,4 billion euro - walaupun mereka telah menutup 8 instalasi nuklirnya di tahun 2011.

Dalam beberapa tahun terakhir, hanya di tahun 2006 dan 2008 masing-masing memiliki surplus sebesar 22.9 TWh. Namun yang perlu diperhatikan, bahwa biaya energi listrik terbarukan ini membebani konsumen sebesar 20 milliar euro hanya untuk tahun itu saja - menyusul tekanan untuk memotong mahalnya ekspansi offshore. Sejauh ini, pemerintah federal berencana membangun instalasi di North Sea dan Baltic Sea dengan kapasitas 10000 MW hingga tahun 2020 dan bahkan 25000 MW hingga 2030. Hingga saat ini hanya 200 MW saja.

Di bidang industri saat ini diharapkan hanya antara 6000 hingga 8000 MW saja sampai tahun 2020. Terutama di daerah pesisir pantai banyak perusahaan industri offshore yang tidak independen, disinyalir dapat menghasilkan lapangan pekerjaan yang besar.
Hingga tahun 2030, dibutuhkan sekitar 3880 km untuk menghubungkan area lahan energi angin yang berfungsi untuk mengumpulkan listrik dan mengkonversikannya untuk transportasi.

Perdana Menteri Mecklenburg-Vorpommern Selle Ring (SPD) tidak mengabaikan konstruksi lahan sea-wind tersebut. Ia memperingatkan  akan rencana ekspansi tenaga angin ini, "membangun suatu perbedaan buatan antara onshore dan offshore." Instalasi turbin angin di laut lepas pantai diasosiasikan sebagai gangguan terhadap populasi, namun kebalikannya jika melihat angin semakin kencang dan dapat diandalkan.



Keuntungan Bagi Konsumen

Walaupun 8 instalasi nuklir ditutup, republik federal Jerman justru lebih banyak mengeksport listriknya daripada mengimport, akan tetapi para konsumen tidak mendapat keuntungan atas harga eksport listrik ini. Itu sebabnya eksport listrik ini kontradiksi dengan analisa dari badan perlindungan konsumen tersebut, analisa produksi tenaga angin di lepas pantai yang dijelaskan salah baik secara ekonomi dan teknologi.

Ekspansi tersebut secara keseluruhan tidak mempunyai konsep yang masuk akal, bahwa lahan angin offshore yang dibuat ketika kapasitas jaringan belum sempurna untuk mentransportasikan listrik yang dieksport bagi mereka yang membutuhkan  adalah kesalahan fatal secara ekonomi. Jika revolusi energi ingin sukses, masyarakat juga layak diikutsertakan. Pada akhirnya harga listrik semakin lama akan terus membebani rakyat.

Pendapat ini juga sama dengan  yang diutarakan Profesor Gordon Hughes, seorang Profesor Ekonomi dari universitas Edinburgh terkait isu Global Warming atau Climate Change.

Pada tanggal 6 Agustus tahun lalu di Inggris, Yayasan 'The Global Warming Policy' memperingatkan para pembuat kebijakan bahwa energi angin sangat mahal dan cara yang inefisien untuk mengurangi emisi CO2. Bahkan, kemungkinan jumlah emisi CO2 dapat lebih besar dibawah strategi pemerintah dibandingkan skenario alternatif Gas.

Profesor Hughes, melalui GWPF, juga memperhitungkan dampak dari tenaga angin bagi pengeluaran rumah tangga. Dalam analisisnya, ia menyimpulkan dalam pertemuan dengan Komite House of Commons Energy and Climate Change, bahwa target yang dicapai pemerintah untuk pembangkit energi terbarukan akan menaikkan  rekening listrik rumah tangga sebesar 40-60% hingga tahun 2020.
Investasi bagi skenario angin ini akan berjumlah sekitar £124 billion. Tuntutan listrik yang sama dapat mencapai 21,5 GW yang dikombinasikan dengan pembangkit gas, dengan modal biaya £13 billion. "Rata-rata rekening listrik rumah tangga akan naik sebesar £528 per tahun dengan korelasi harga di tahun 2010 hingga kisaran £730 sampai £840 di tahun 2020 dibawah skenario Mixed Wind (kombinasi angin dengan unsur energi lain). Jumlah ini naik sebesar 38% sampai 58% relatif terhadap batas skenario Gas. Jarak ekuivalen untuk skenario lain adalah 29-46% untuk Onshore Wind (pembangkit tenaga angin di darat), dan 40-62% untuk Offshore Wind (pembangkit tenaga angin di lepas pantai) masa depan," lanjutnya.

"Masalah-masalah inti terhadap kebijakan-kebijakan yang berlaku saat ini bagi tenaga angin adalah simpel. Dibutuhkan suatu komitmen yang besar akan investasi terhadap teknologi dimana bukan 'sangat hijau' (green energy), sebagai tindakan mencegah CO2, akan tetapi tentu saja sangat mahal dan tidak fleksibel. Kecuali pemerintah mempertimbangkan ulang komitmennya terhadap tenaga angin, kebijakannya akan lebih buruk  dan akan menjadi blunder," kata Profesor Hughes.




*daerah pantai yang tertutup lumpur
**kompensasi pemakaian listrik
***energi listrik yang didapat dari energi terbarukan

Rabu, 27 Maret 2013

Afrika dan Siprus Membuka Diri Bagi Imperialisme Modern


By. Josua Sihotang
26 Maret 2013    


     Presiden China Xi Jinping menguraikan ambisinya kemarin pada permulaan tour 3 negaranya dimana terlihat seperti sebuah signal kehausan dari negaranya akan sumber-sumber daya alam. Presiden Xi terbang ke Tanzania kemarin, dan ia berharap untuk menandatangani persetujuan "trade and developments" sebelum memberikan pidato di Dar es Salaam.
Kemudian ia akan bergabung dengan pemimpin-pemimpin dari Brasil, Rusia dan India di Afrika Selatan dalam konferensi di Durban untuk menyampaikan formasi dari suatu bank internasional sebagai rival dari IMF (International Monetery Bank) dan World Bank. 

    Pada hari terakhir, Presiden Xi akan mengunjungi "mineral-rich" Democratic Republic of Congo. Agen berita China Xinhua memberi judul kunjungan ini "China adalah sahabat Afrika sepanjang sejarah." Akan tetapi beberapa grup waspada terhadap hal ini. Mwalimu Mati, kepala Mars Group yang berbasis di Nairobi berkata: "Tidak ada yang berbeda apa yang China lakukan dan Negara Barat lakukan sebelumnya. Tidak ada negara yang menolong negara lain untuk berkembang dengan gratis. Afrika adalah ladang usaha bagi China. Kehadirannya disambut dengan tangan terbuka karena hubungan erat kadang tidak mengikutsertakan percakapan tentang "good governance", korupsi dan "human rights." 
Para analist mengestimasi bahwa China membelanjakan $101 billion di 27 negara Afrika dari tahun 2010 hingga 2012, untuk transportasi jalan dan kereta, pusat-pusat tenaga dan pertambangan.
Namun, kepala Bank Sentral Nigeria Lamido Sanus menulis di Financial Times: "Jadi, China mengambil  barang-barang kami dan menjualnya kembali kepada kami dalam bentuk manufaktur. Ini juga adalah bagian dari kolonialisme. Kini Afrika dengan sukarela membuka diri bagi suatu bentuk baru dari Imperialisme. 


    Di negara bagian lain, hal yang senada juga terjadi. Minggu yang lalu, salah satu anggota Europe Union Siprus mulai memasuki jalur kebangkrutan, setelah sebelumnya Yunani, Portugal dan Spanyol berada pada urutan teratas.

    Sebuah 10billion euro bailout memerlukan 9.9% pajak terhadap semua orang yang memiliki deposit lebih dari 100,000euro, dan 6.75% kurang dari 100,000euro. Nasabah yang kehilangan uang akan dikompensasi dalam bentuk saham di bank-bank komersil, dengan jaminan kembali yaitu pendapatan di masa mendatang yang diharapkan didapat dari penemuan-penemuan sumber natural gas.

    Presiden Siprus dipilih pada awal minggu bulan ini sebab ia menjanjikan tidak ada "wealth tax". Berdasarkan sebuah laporan, IMF dan European Union menuntut 40% wealth tax bagi para nasabah di Siprus. APa yang terjadi di Siprus? Pengangguran hanya setengah dari Yunani dan Spanyol, hutang terhadap GDP 87%. Bandingkan dengan US yang memiliki hutang 100% terhadap GDP.

    Ini lagi-lagi sebuah imperialisme ekonomi, suatu pelanggaran fundamen pada hak-hak properti, mendikte negara-negara kecil oleh kuasa-kuasa asing. Bank Sentral Eropa tidak punya uang, hanya menukar kertas dengan aset-aset. Bank Cypriot mendapat masalah setelah menggunakan 4.5billion euro pada "goverment bond holdings" sesudah pemimpin zona Eropa memutuskan untuk menulis cek bagi Yunani tahun kemarin.
Presidan Siprus berkata, jika ia tidak menyetujui pajak deposit Bank Sentral Eropa akan menghentikan dana emergensi yang akan mengarah runtuhnya sistem perbankan, bangkrutnya ribuan bisnis-bisnis kecil, kehilangan pekerjaan dalam jumlah besar dan akhirnya keluar dari euro.

Senin, 26 November 2012

Surat untuk Pemimpin Legislatif


25 November 2012

Yang saya hormati bapak pemimpin,

Saya sangat terkejut dengan kritikan yang bapak lontarkan pada tanggal 22 november lalu.
Secara pribadi alangkah menyedihkan, sebagai pelajar dan calon penerus bangsa justru menerima kritikan pedas, ironisnya tidak berbasis sama sekali dan terlebih lagi datang dari seorang pemimpin lembaga perwakilan rakyat.
Muncul dalam benak saya, kenapa tidak mengkritik badan yang berfungsi sebagai pembimbing, penasehat dan pelindung proses akademika di luar negri, jika (seandainya) ada hal-hal yang bersinggungan dengan hak-hak kelegislatifan?
Bukankah pada saat acara temu muka dengan anggota-anggota legislatif pada bulan April 2012 dan pertemuan dengan DIN minggu lalu para perwakilan PPI Jerman diperkenankan untuk ikut hadir dan memberikan saran dan kritik?
Sebaliknya, apakah pelajar yang juga rakyat tidak layak untuk mengkritik pemerintahnya bahkan itu seorang presiden pun?
Melalui surat ini, ingin saya berbagi cerita dengan bapak,  minimal bapak akan mengerti bahwa kami bukan maling.

Perlu dipahami, pemikiran selaras yang berorientasi untuk belajar kritis sebagai usaha untuk membangun individual yang kuat dan berpandangan positif ini tidak begitu saja terbentuk. Tersebar di 16 region dan ratusan kota, anggota PPI Jerman dengan latar belakang pendidikan yang berbeda mampu menghimpun dan mempersatukan kembali para pelajar, calon pelajar bahkan mantan pelajar yang sempat terkotak-kotak. Gagasan ini tak lepas dari peran serta para alumni atau katakanlah rakyat Indonesia yang telah lama berdomisili di Jerman. Keterlibatan mereka berperan aktif dalam tatanan organisasi baik langsung maupun tidak langsung.

Seringkali ketika saya berada di tengah-tengah mereka merasa jengkel, karena pertanyaan-pertanyaan yang diajukan selalu sama ; "bagaimana keadaanmu?", "bagaimana kuliahmu?", "berapa lama lagi selesai?", "apa yang bisa dibantu?". Betul, hal ini akan ditemui dimanapun kita sebagai orang Indonesia berada, rasa kekeluargaan dan saling memperhatikan satu dengan yang lain sudah mendarah daging dalam tiap pribadi Indonesia. Akan tetapi, yang menarik justru ketika mereka sisipkan cerita-cerita pengalaman hidup mereka semasa kuliah. Hambatan dan tantangan yang ditemui baik dari pembimbing, profesor atau 'Ordnungsamt' (kantor urusan visa) menjadi kebiasaan tiap tahun. Mereka akui, hal-hal demikian membentuk kepribadian menjadi tangguh dan kreatif serta dinamis. Anehnya, peran organisasi lebih mendominasi setiap langkah yang diambil. Bagaimana mungkin? Seandainya dalam lingkup akademis, seperti memberi asist atau saran atau sejenisnya saya setuju.

Ah...
Jadi saya teringat lelucon orang jawa menyebutkan sila ke-4 Pancasila ; "mangan ora mangan sing penting ngumpul". 
Tak bisa dipungkiri, semua kegiatan PPI baik seminar, pesta perayaan, pesta budaya bersifat klise. Apapun acaranya, apapun makanannya, dimanapun berada yang penting kumpul! Nuansa kebersamaan kadang sering membuat hidup 'lebih berarti', bak perangkat elektronik yang sudah waktunya untuk di-charger kembali.
Secara visual, pernyataan misi dan tujuan organisasi bukan hanya di atas kertas. Para anggota secara konsisten juga dibekali pemahaman untuk mengkader dirinya sendiri, yaitu diberikan wawasan cara berpikir, pengetahuan dan ilmu-ilmu sosialisasi yang tidak dipelajari di bangku akademis.

Disamping itu, keunikan dari proses belajar di jerman memang tak bisa ditemui di bagian negara lain. Para pelajar dididik untuk mandiri dan percaya diri, hal yang kurang dari proses pengembangan kepribadian di tanah air. Apalagi bicara tentang kedisiplinan, pelajar di jerman dapat diuji keefektifan dalam menggunakan waktu. Contohnya, pintu kereta atau trem atau bus akan tertutup ketika waktu telah menunjukan jadwal keberangkatan, tanpa deviasi 1 detikpun! Entah anda seorang presiden pun, aturan tetap berlaku di lapangan.
Waktu adalah hal yang sensitif di jerman, bahkan diakui sebagai pelajar akan lebih takut datang tidak tepat waktu daripada harus membatalkan janji. Belum lagi dalam proses belajar mengajar, anda diharapkan aktif dengan menyampaikan saran atau pendapat di kelas. Pernah suatu kali saya bercakap-cakap dengan pelajar jerman. Mereka menyarankan jika dalam penyampaian pendapat usahakan sekritis  dan sesimple mungkin dan tanpa basa basi. Ah indahnya demokrasi, pikir saya...

Saya kira apakah kritikan itu valid atau tidak bukanlah masalah. Setiap orang bisa saja menjadi alat media selama itu tidak komersial. Ini bukan hal yang baru bagi PPI, meliput suatu berita dan membungkusnya dalam kemasan yang menarik, baik berupa video maupun artikel. Dalam eksistensinya, PPI Jerman bukan tipe organisasi cheerleader yang hanya senang meramaikan dan menyemarakkan kegiatan-kegiatan internal maupun eksternal dan cenderung apatis terhadap isu-isu yang beredar. Wujud tatanan 'social society' di Jerman berdampak kuat terhadap pertumbuhan dan perkembangan karakter individual, sehingga elemen-elemen demokrasi mudah diserap dan diaplikasikan dalam lingkungan sehari-hari. Sudah seharusnya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia adalah tugas dan kewajibannya untuk menyampaikan berita yang transparan semacam ini kepada khalayak di tanah air. Bahkan perlu dihargai hasil kerja keras para pelajar, yang fungsi dan tugasnya dalam belajar masih bisa diimbangi dengan misi di luar pendidikan, terutama yang berhubungan dengan kebangsaan. 


Jika seandainya, bapak menyalahkan kami karena mengikuti dan mengawasi kegiatan anggota legislatif di sini, lalu apa bedanya dengan fotografer atau reporter atau paparazzi? Apakah mereka lebih pantas daripada kami?
Jika seandainya kami sok tahu dengan kinerja para anggota legislatif, lalu bagaimana bisa bapak-bapak bisa berada di tempat yang salah dan berhadapan dengan orang-orang yang bukan bidangnya? Dalam hal ini patut disayangkan sikap DIN yang dengan mudahnya menerima kunjungan anggota-anggota legislatif tanpa persiapan matang.
Jika bapak mengkritik kami yang terlalu kritis, mungkin bapak perlu mempelajari kultur sejarah Jerman dan hidup di antaranya.
Sejarah kelam Weimar Republik diikuti Naziisme merupakan pemicu kebangkitan Jerman di era 1960an hingga saat ini, Salah satunya berkat usaha pemerintahnya membentuk masyarakatnya untuk menjadi individu yang kuat tanpa mengenyampingkan sisi kooperatif namun tidak kompromis. Orang Jerman pun dicap pribadi yang kaku dan intoleran. Tapi tunggu, lihat hasilnya...negara mana yang bisa tetap stabil seperti Jerman saat ini? Di saat US$ ambruk, Jerman masih bisa mem'bail out' tetangganya. Di saat industri-industri di negara Barat bangkrut, Jerman malah mencari 90ribu insinyur hingga periode 2015.
Itu bukan karena mutlak peran pemerintahnya, tapi karena ketangguhan rakyatnya, akan watak karakternya yang terbentuk dari pendidikan dasar hingga lanjut.
Jadi, alangkah adilnya jika bapak melayangkan kritik kepada pemerintah Jerman, yang telah mendidik kami berpandangan kritis!

Perlu bapak ketahui, keputusan untuk sekolah ke Jerman bukan berada di tangan kami. Orang tua kami yang memutuskan untuk menyekolahkan kami, bukan sekedar karena mereka percaya bahwa mereka juga punya kontribusi dalam pemasukan negara, tapi karena semata keinginan untuk mengecap pendidikan dengan kwalitas dan sarana yang baik adalah impian semua orang, apalagi jika bea pendidikan itu murah (bahkan 0).
Pernahkah bapak berpikir, hal yang sama juga dilakukan oleh kolega-kolega bapak ketika memutuskan untuk menyekolahkan anak-anak mereka keluar negri?

Semua pihak pasti percaya, bahwa antara pemerintah dan rakyatnya pasti diinginkan hubungan yang positif dan transparan, dan dalam mewujudkannya satu dengan lainnya dituntut kesediaan untuk mendengar melalui saluran verbal maupun nonverbal, karena masing-masing merasa telah melakukan tugas dan kewajibannya. Tentu saja untuk menentukan nasib bangsa hasil keluaran tersebut adalah bahan baku dasar kesuksesan. 
Ini bagian dari demokrasi, tapi justru membuat saya kawatir, ketika proses-proses demokrasi semacam ini tidak dapat diaplikasikan. Saya kawatir, apabila warna demokrasi berubah menjadi 'Demo-crazy'. Saya kawatir jika demokrasi hanya berupa judul sampul buku semata.

Saya teringat kata-kata dari Thomas Jefferson,
“When the people fear the government there is tyranny, when the government fears the people there is liberty.”
Pada hakekatnya, rakyat berhak dan wajib mengawasi jalannya pemerintahan tanpa perasaan takut apalagi enggan. Saya, bapak dan semua rakyat Indonesia pasti setuju, bahwa peran strategis pelajar ditunggu, dengan kesatuan visi, tekad dan perjuangan untuk kepentingan bangsa menjadi pondasi utamanya. Sekali lagi, kami hanya memaksimalkan fungsi dan peran pelajar yang adalah pilar utama laju demokrasi, sehingga harapan terbesar bagi rakyat Indonesia yaitu sebagai penyambung lidah dapat dipenuhi, yaitu dengan saran dan kritik.

Liebe Gruesse,

J. Sihotang

Sabtu, 07 April 2012

Bagaimana Memiliki Iman

By. Randall Price
6 April 2012
IMG




Apakah itu Iman? Bagaimana anda tahu anda memilikinya? Akankah terjadi apa yang anda harapkan?

Orang melatih imannya setiap hari tanpa menyadarinya. Mereka pergi ke dokter, menerima preskripsi yang tak dapat dimengerti, dan mengambil resep obat yang hanya sedikit diketahui. Bahkan, kebanyakan orang melakukannya tanpa menguji kredensi dokter, bertanya validitas preskripsi atau menginvestigasi efek-efek dari obat. Mereka dapat membunuh diri sendiri, akan tetapi tak terpikirkan kemudian. Mereka hanya percaya bahwa para dokter tahu apa yang mereka lakukan dan obat akan menolong. Inilah Iman!

Meskipun demikian iman yang demikian tidak sesuai ketika menemui keputusan besar dalam hidup: kemana harus melanjutkan studi, karir apa yang dikejar, siapa yang harus dinikahi... Hal-hal ini bukanlah yang diterima begitu saja. Mereka mempelajari keuntungan-keuntungan dari tempat studi, menyiapkan karir dan berpikir panjang dan keras tentang menghabiskan hidup bersama seseorang.

Satu dari kebanyakan keputusan penting yang kita buat akan terjadi di mana kita akan hidup kekal. Namun masih banyak orang tidak pernah bertanya akan iman mereka atau mengevaluasi apa yang mereka percayai. Akan tetapi, jika kita siap untuk membuat keputusan-keputusan secara iman -- keputusan hidup atau mati -- berhubungan dengan waktu dan kekekalan, kita seharusnya yakin dan mengerti iman semacam apa yang Tuhan terima.

Di Perjanjian Baru dijelaskan iman dalam Ibrani 11:1: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat". Iman adalah, yang terutama, sebuah pengertian bahwa apa yang kita percayai adalah nyata dan bukan ilusi, mimpi atau trik.
Itu sebabnya, melalui Perjanjian Baru, para penulisnya menantang orang untuk menguji bukti dari kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Lukas berkata  pada awal kitab Lukas, "Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. (Lukas 1:3-4).


Iman yang nyata adalah iman di dalam segala hal. Dimengerti bahwa yang dilakukan Yesus adalah fakta sejarah, bukan fiksi. Tapi iman alkitabiah adalah lebih dari itu. Ibrani 11:1 menamakannya "substansi atau hakekat". Iman adalah substansi. Itu menunjuk kepada realitas dari sebuah jaminan yang terletak secara aman di dalamnya dari apa yang kita harapkan. Suatu keyakinan dimana fakta-fakta sejarah bukan semata-mata benar secara duniawi seperti yang kita pelajari di sekolah; fakta-fakta itu adalah benar yang Tuhan sudah nyatakan sehingga kita dapat mengenalNya secara pribadi.

Akan tetapi iman yang nyata lebih lagi. Tidak semata-mata diketahui -- bahkan diyakini -- bahwa sesuatu adalah benar; tetapi juga menyertakan penerimaannya adalah benar untuk anda. Bukan untuk gereja, bukan untuk pendeta, bukan untuk orang tua anda, bukan untuk teman anda, tetapi untuk anda.

Di pertengahan tahun 1900an, seorang daredevil (berani mati) terkenal Charles Blondin mempertunjukkan sebuah sensasi kepada para penonton dengan cara berjalan di atas tegangan tali yang digantung di atas derasnya Air Terjun Niagara, dengan menggendong seseorang di pundaknya. Suatu hari, ketika ia mau memulai aksinya, ia bertanya kepada seseorang di antara penonton apakah orang itu percaya Blondin akan sukses.

"YA," katanya. "Anda akan dapat melakukannya!" Blondin kemudian bertanya kepadanya apakah ia sangat yakin akan kemampuan Blondin. "YA, Saya sangat yakin anda dapat melakukannya!"
"Bagus," kata Blondin, "karena orang yang seharusnya saya gendong tidak datang hari ini, dan saya butuh anda naik di pundak saya."
Sekarang baru terlihat orang itu takut menghadapi imannya. Ia berkata ia percaya, akan tetapi apakah ia yakin meletakkan resiko dalam hidupnya?

Anda lihat, iman bukanlah iman hingga hal itu anda alami atau anda pikul langsung. Iman kita hanya terjadi di saat iman ditempatkan. Itu sebabnya mengapa kita harus memastikan  iman ditempatkan di dalam sesuatu yang berguna untuk kita yang telah dijanjikan. Bagaimanapun anda begitu percaya dengan orang tuan anda, agama anda, gereja anda, pemimpin agama anda atau pendeta anda, tidak satupun dari mereka dapat memberi anda hidup yang kekal ketika anda mati. Mereka mungkin menolong anda saat ini, tapi mereka tidak menolong anda sesudahnya, karena mereka juga harus meninggalkan dunia. Masalahnya bukan pada apa yang ingin mereka bantu, tetapi karena mereka tak punya kuasa.

Satu-satunya yang dapat menolong anda adalah Tuhan sendiri yang datang ke dunia sebagai manusia untuk mati menggantikan tempat anda dan membayar penalti untuk dosa-dosa anda. Ia membuktikan diriNya memiliki kuasa untuk memberi anda hidup sesudah kematian karena Ia sendiri mengalahkan maut dan hidup selamanya. Ia melakukan apa yang Tuhan janjikan terjadi; dan kini Ia dapat melakukannya untuk anda apa yang Ia janjikan: hidup yang kekal...jika anda mempercayainya.

Beberapa orang berkata, "Saya tidak tahu jika saya dapat melakukannya. Iman saya tidak cukup kuat." Inilah jawabannya dengan sebuah cerita pendek.

Seorang anak laki-laki menunggu sekian lama akan hari pertama musim dingin sehingga ia dapat bermain ice skatting. Kini salju turun dengan derasnya, ia berlari-lari ke arah tanah landai tertutup timbunan salju ke arah danau yang mengkilap yang baru mengeras menjadi es. Dengan yakin, ia lari di atas es tersebut. Akan tetapi, hanya beberapa langkah tiba-tiba es menjadi pecah dan ia jatuh hingga sebatas pinggang. Apa yang salah? Ia sungguh percaya es itu akan dapat menahannya. Masalahnya tentu saja bukan dengan imannya, tetapi obyek dari imannya.
Beberapa hari kemudian ia kembali ke danau itu akibat desakan kawan-kawannya. Kali ini ia takut untuk percaya akan dirinya sendiri. Ia enggan mengambil resiko, gelisah dan menggigil ketakutan. Tahukah anda? Meskipun imannya bimbang, es di danau itu dapat menopangnya.


Anda lihat, itu bukan kekuatan dari iman kita yang penting akan tetapi kekuatan dari 'terhadap apa iman ditempatkan'. Iman yang lemah dapat saja menerima seorang Penyelamat yang kuat, dimana pengampunan tidak tergantung pada kekuatan kita namun pada Dia.

Sudahkah anda mempercayakan hidup anda pada Tuhan Yesus, yang memegang anda selamanya? Melakukannya, anda harus meninggalkan segala sesuatu yang anda percayai dan mempercayakannya di dalam Dia. Iman dalam Kristus bukan iman yang sementara, Ia memegang tangan anda selamanya hingga kekekalan.

Tuhan Yesus Memberkati