Senin, 23 Januari 2012

Timbunan Harta Tak Ternilai di Israel


By. Josua Sihotang
22 Januari 2012



  Perdana Menteri Israel ke-4 Golda Meir pernah berkata, "Jika saja Musa mengambil langkah ke kanan dan tidak ke kiri disaat ia memimpin bangsa Yahudi di lembah Sinai, bangsa Yahudi akan memiliki sumber minyak; dan bangsa Arab akan hanya punya tanaman jeruk."
  Perkataan humoris itu sebagai reaksi kebutuhan energi Israel, dimana negara-negara tetangga memiliki sumber energi milyaran barrel cadangan minyak seperti: Arab Saudi 262,2 milyar; Iran 136,3 milyar; Irak 115 milyar; Kuwait 101 milyar; Uni Emirat Arab 97,8 milyar; dan Libia 41,5 milyar. Negara-negara ini  secara efektif menggunakan cadangan minyak mereka sebagai senjata mempengaruhi negara-negara Barat untuk melawan Israel. Meskipun demikian, realitanya mungkin akan berubah.

  Selama bertahun-tahun, misi dari Zion Oil & Gas yang berbasis di Texas dipercaya hanya sekedar sebuah mimpi, harapan yang sia-sia  dari ideologi Christian Zionis. Namun Matt Dickerson dari Zion Oil & Gas berkata bahwa satu dari perusahaan pengeboran di Israel memonitor adanya indikasi hidrokarbon, suatu elemen organik yang biasanya muncul di minyak mentah.
  Israel telah berhasil menemukan area  gas alami yang tak ternilai, akan tetapi saat ini dipercaya bahwa kandungan di bawah gas tersebut terdapat minyak. Jauh di dalam lapisan dimana Zion Oil & Gas dan beberapa perusahaan lain saat ini mentargetkan pengeborannya.
  Dedikasi Zion Oil & Gas di Israel telah menjadi kepercayaan pemerintah Israel dalam membantu kebutuhan energi yang masih bergantung kepada Mesir dan Rusia. Zion Oil & Gas beberapa waktu lalu berhasil memenangkan proposal eksplorasi di bagian utara Lembah Yordan, sebuah area seluas 22662 ha. Bersamaan  dengan Lisensi Joseph dan Lisensi Ashermenashe, Lisensi Lembah Yordan kini menjamin Zion Oil & Gas untuk mengebor lebih dari 88221 ha di bagian utara Israel.

  Dr. Ya'akov Mimran, mantan komisioner petroleum Israel menjelaskan di jurnal bisnis Israel "Globes", ia sangat optimis mengenai dua penemuan gas dan minyak tersebut. "Kita dalam di jalur yang benar. Saya  juga yakin Zion Oil & Gas mampu mengebor lapisan terdalam."
  World Energy Council memperkirakan bahwa Israel bisa memproduksi 250 milyar barrel minyak, dimana mendekati cadangan minyak yang dimiliki Arab Saudi.

   Penemuan sumber minyak yang lain yaitu tidak berupa cairan akan tetapi padat, artinya ada di dalam serpihan batu (shale). 30 mil baratdaya dari Yerusalem terletak lembah sungai Shfela, dimana terdapat endapan terbesar kedua di dunia dari shale minyak tersebut. Walaupun Israel telah lama eksis dalam shale minyak, namun belum dapat mengekstrak minyaknya karena biaya dan potensi negatif terhadap lingkungan. Majalah Business Weekly menulis, "Shale minyak melukai banyak hati" karena sulit untuk mengekstrak minyaknya secara aman dan menguntungkan.
  Howard Jonas, seorang dermawan Zionis dan juga penemu IDT Corporation berkata, bahwa ia percaya cadangan minyak di Israel lebih dari Arab Saudi, namun  banyak perusahaan minyak enggan untuk mengeksplorasi bisnis minyak di Israel karena takut  mempengaruhi hubungannya dengan supplier minyak yang dikontrol Muslim. 
Ia menyebutkan beberapa investor dan pengusaha minyak yang enggan walaupun berhubungan erat dengan Israel:
Rupert Murdoch (pemimpin News Corporation Empire), Michael Steinhardt (investor, Zionis dan juga dermawan), Lord Jacob Rothschild (banker dan juga dermawan dimana keluarganya menyuport Zionisme), Eugene Renna (dahulu adalah presiden dan chief operating officer Mobil Corporation dan pensiunan eksekutif Vice President ExxonMobile), Allan Sass (mantan Occidental Oil Shale Presiden, cabang Occidental Petroleum), Dick Cheney (mantan Wakil Presiden US dan mantan Presiden  Halliburton).
   Kemudian Jonas membujuk Dr. Harold Vinegar, pensiunan kepala ilmuwan Royal Dutch Shell, untuk memimpin tim ini. Vinegar merintis  ekstraksi minyak dari batu dan memegang 240 paten. IEI  percaya hal tersebut, dibawah kepemimpinan Vinegar, mengekstrak minyak akan berharga $35 hingga $45 per barrel dan akan menjaga lingkungan tetap aman.
  Para investor Wall street sepertinya setuju. Melalui Israel Energy Initiatives, saham IDT- 66 cent per share- naik hingga $20 per share. Bukan hanya para investor yang memperhatikan hal ini. Negara-negara Asia dan Eropa, konsumen baru Israel semenjak penemuan dan produksi gas alami Israel ditemukan, juga ikut memperhatikan.
  Jika teknologi Israel dapat mengekstrak minyak shale nya sendiri secara aman dan murah, hal itu dapat membantu mengekstrak hingga 2 triliun barrel minyak shale di seluruh dunia. Bayangkan implikasi ramalan akan Israel sebagai world-class produsen minyak. Golda akan tahu: Musa melakukan hal yang benar.

  Kedua penemuan itu merupakan beberapa penemuan selama 3 tahun terakhir di Israel, setelah pada tahun 2010 sebuah timbunan gas besar, bernama Leviathan, ditemukan 139 km pesisir utara Israel. Diestimasi sebesar 450 milyar cm gas, sebuah penemuan yang memiliki potensi membuat Israel sebagai eksportir gas alam, demikian dikatakan presiden Nobel Energy, perusahaan berbasis Houston dibalik penemuan tersebut. Berdasarkan para ahli geologi, Leviathan mungkin bukan hanya satu-satunya timbunan dan lahan lain mungkin juga dapat ditemukan di Eastern Mediterranean hingga daerah barat Siprus Yunani dan hingga daerah utara Siria. Namun penemuan ini tidaklah semudah yang dibayangkan, karena ketika laporan ini dipublikasikan membuat Libanon bereaksi, dengan mengklaim bahwa timbunan itu berada di perbatasan maritim, sehingga menimbulkan masalah eksport gas.

  Melihat apa yang dimiliki Israel saat ini, janji Tuhan sejak Abraham hingga kini semakin nyata. Di Ibrani 6:13-14 tertulis, Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, kata-Nya: "Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak."  Namun sentimen terhadap Israel semakin kental, dari bangsa-bangsa Arab hingga United Nation, dari boikot produk-produk Israel hingga ancaman embargo, semua mengarah kepada nubuatan Alkitab dimana Tuhan tidak akan melanggar perjanjianNya dengan anak-anakNya.

Jumat, 20 Januari 2012

Jurnalis Saudi: Polisi Agama Membiarkan 15 Murid Perempuan Mati Terbakar Karena Tidak Memakai Hijab


19 Jan 2012


Dalam interview yang disiarkan oleh Dream2TV Mesir pada 10 Januari lalu, Jurnalis Saudi Nadin Al-Badir menceritakan kembali perlakuan kejam hingga pembunuhan yang mengerikan - termasuk memaksa lebih dari satu lusin anak-anak perempuan sekolah terbakar hidup karena tidak memakai pakaian resmi tradisional Islam penutup kepala pada saat kejadian - dilakukan oleh polisi agama setempat atau dinamakan "Otoriti Untuk Kebijakan Promosi" (Authority for the Promotion of Virtue). Jurnalis tersebut juga menyatakan bahwa kebanyakan dari polisi-polisi itu adalah mantan pelaku kriminal baik itu pemakai obat-obat terlarang atau pengedar.

Al-Badir menjelaskan, "Bahkan Sheik Abd Al-Muhsen Al-Abikan, penasehat pengadilan negara menyarankan bahwa Otoriti tersebut seharusnya dibubarkan." Ia menambahkan, "Ia berkata bahwa kebanyakan dari mereka dulunya adalah pengedar obat-obat terlarang, juga pemakainya, pencuri dan mantan kriminal jalanan yang telah bertobat secara tiba-tiba dan kini lebih ekstrim kasar. Orang-orang ini, menurut Sheik Al-Abikan, seharusnya tidak diijinkan memiliki akses di setiap otoritas, karena mereka melakukannya dengan cara yang tidak benar."

Di segmen awal, Al-Badir menceritakan kisah 28 tahun Hassan Nabil Hmeid, yang dipukul berkali-kali hingga mati karena membiarkan rambutnya hinga panjang.
"Pada akhirnya, semua hal yang mereka tuju adalah sesuatu yang dangkal." Al-Badir mengatakan, "Yang pasti bahwa hidup laki-laki ini berakhir akibat orang-orang yang sensitif untuk bereaksi, yang ingin membawa jaman ini kembali ke ratusan tahun yang lalu. Saya tidak percaya situasi pada saat itu lebih buruk dari yang mereka inginkan terjadi."

Al-Badir juga mengingatkan akan insiden mengerikan ini ketika kebakaran terjadi di sekolah perempuan Arab Saudi itu, akan tetapi seluruh murid perempuan yang ada di dalam dipaksa untuk tinggal di dalam gedung yang terbakar hingga mereka juga ikut mati terbakar, karena mereka tidak memakai hijab.
"Akan lebih mudah untuk memadamkan api tanpa seorang pun terluka. Tetapi anggota dari Otoriti itu berdiri di depan pintu dan mencegah murid keluar, dikarenakan para murid sedang tidak memakai hijab."
"Bagaimana mereka bisa memakai hijab ketika sekolah sedang dilalap api?" lanjutnya. "Mereka juga mencegah orang tua untuk masuk ke area."
"Akan tetapi adalah sebuah kewajiban untuk menyelamatkan mereka dari kematian. Siapa yang peduli kalau mereka memakai abaya atau tidak? Misi mereka adalah menyelamatkan orang dari api neraka, bukan dari kematian," Al-Badir merespon. "Mereka percaya bahwa anda akan mati secara martir. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka saat itu."Al-Badir melanjutkan:
Saya bicara tentang murid sekolah usia 13 tahun, bukan mahasiswa. Mereka ini murida perempuan. 15 murid mati akibat Polisi Otoriti tersebut, bukan karena api. Mudah saja para murid diselamatkan. Apakah anggota Otoriti itu diadukan ke pengadilan? Tidak yang saya lihat. Departemen Pendidikan untuk Anak Perempuan dianeksasi ke Kementerian Pendidikan, namun Otoriti tidak pernah bertanggung jawab. Menghukum, tapi tidak pernah dihukum sendiri. Anda tidak pernah bisa mendapatkan keadilan. Bahkan jika mereka menusuk atau membunuh Anda, tidak ada yang bisa menahan mereka bertanggung jawab. 
Al-Badir berkata, komplain yang telah diajukan terhadap Otoriti menjadi sia-sia, dimana tidak ada aksi pengadilan telah diambil. Ia juga menggarisbawahi bahwa rata-rata dari "semua bentuk tindakan pelecehan seksual adalah yang tertinggi."
"Otoriti itu adalah musuh masyarakat. Bagaimana bisa mencegah hal itu??

Sumber :

Rabu, 11 Januari 2012

Pengungsi Palestina Akibat Konflik


By. Josua Sihotang
10 Jan 2012



Di bulan Mei 1948 populasi lokal Arab bergabung dengan 7 negara-negara Arab (Lebanon, Siria, Mesir, Yordania, Irak, Arab Saudi dan Irak) sebagai aksi untuk  menghancurkan pendirian kembali negara baru Yahudi.
Negara-negara tersebut menjanjikan kemenangan bagi penduduk lokal Arab tersebut yang pada kenyataannya berakhir dengan kekecewaan. Sekitar 500 ribu penduduk Arab itu mengungsi ke Yordania, Lebanon dan Siria.

Angka itu tidak sebanding dengan jumlah 850 ribu pengungsi Yahudi dari Yaman, Mesir, Iran, Irak, Maroko, Algeria, Tunisia dan Libia yang dipaksa keluar dari rumahnya. Yahudi tidak diakui kewarganegaraannya, hingga milik properti mereka juga ikut disita.

Kebalikannya, 160 ribu penduduk Arab saat itu disaat Israel diakui kedaulatannya di tanah mereka justru diperbolehkan menetap. Angka itu kini telah mencapai 1,25 juta dan memperoleh hak-hak penuh sebagai warganegara yang tinggal di Israel.

Kini justru muncul pertanyaan, pernahkah kita mendengar "kampung pengungsi Yahudi"?
Sepertinya tidak. Karena mereka diterima di negara-negara non Arab seperti USA dan Eropa. Kontras dengan keadaan pengungsi-pengungsi Palestina yang tidak diterima baik di negara-negara Arab lain. Jumlah 500 ribu itu kini membengkak hingga 4,7 juta. Faktanya sangat menyedihkan, misalnya ; tidak menerima status warganegara (kecuali di Yordania), dihalang-halangi untuk bekerja sebagai profesional, restriksi akan kepemilikan properti tanah, restriksi berkendaraan dan penolakan akan pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sir Alexander Galloway (1895-1977), mantan direktur UNRWA (Badan untuk pengungsi Palestina) di Yordania bereaksi keras terhadap diskriminasi ini,
"...bangsa-bangsa Arab tidak ingin menyelesaikan masalah pengungsi Arab. Mereka ingin membiarkannya sebagai 'luka terbuka' sebagai senjata untuk melawan Israel.." (April 1952)
Pernyataan itu semakin diperkuat oleh Presiden Mesir Nasser, yang menganggap penolakan pengungsi-pengungsi Palestina itu akan memaksa mereka kembali ke Israel, sehingga akan menjadi benalu dan merusak Israel dari dalam dengan menanamkan rasa kebencian di setiap generasi pengungsi,
"..jika pengungsi-pengungsi itu kembali ke Israel, Israel akan habis.." (1 Sep 1960)

Lalu apa peran PBB saat itu? Sayangnya nyaris tidak ada. Di saat semua kasus yang berhubungan dengan pengungsi berada di bawah naungan UNHCR, badan khusus untuk pengungsi Palestina UNRWA justru dibentuk. Dengan harapan para pengungsi Palestina mendapat jaminan kehidupan baru dari UNRWA seperti yang dilakukan UNHCR terhadap pengungsi-pengungsi Bosnia atau Sudan malah berujung kekecewaan.
Misalnya;
  • Melalui UNHCR status pengungsi akan berubah menjadi warganegara di negara yang menerima, melalui UNRWA sebaliknya
  • Melalui UNHCR, para pengungsi tidak dapat mewariskan status pengungsi dari generasi ke generasi, melalui UNRWA bisa
  • UNHCR mendukung pengungsi untuk berintegrasi di negara yang baru, UNRWA justru mencegah kebijakan tersebut
Di lain hal, sebelum pembentukan PA(Palestinian Authority), negara-negara Arab menunjuk ke dilema pengungsi Palestina sebagai simbol konflik, menggunakannya sebagai perangkat untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan domestik mereka. Gagasan pengembalian penuh ke rumah mereka telah tertanam dalam jiwa pengungsi Palestina. Hari ini, dengan generasi ketiga dari pengungsi Palestina menuntut pengembalian penuh, masalah ini semakin campur aduk. Sedangkan pada tahun 1950, hanya ada lebih dari 700.000 pengungsi yang terdaftar, sekarang jumlah ini hampir lima juta.

Jika pengembalian penuh itu terjadi, para pengungsi ditambah warga Palestina Israel akan melebihi jumlah Yahudi Israel. Meskipun dalam negosiasi sebelumnya dengan Israel, Palestina menerima kembalinya sejumlah pengungsi di bawah reunifikasi keluarga, mereka tetap dituntut untuk mempertahankan prinsip "hak untuk kembali" dalam setiap perjanjian damai. Khawatir bahwa suatu hari nanti dapat menghidupkan kembali Palestina isu "hak untuk kembali", Israel terus menolak setiap referensi untuk itu untuk memastikan mayoritas Yahudi yang berkelanjutan dan mempertahankan identitas negara Yahudi.

Dengan biaya pengeluaran yang 3 kali lebih besar dari UNHCR, UNRWA praktis tidak menyumbangkan solusi atau kontribusi bagi jutaan pengungsi. Ironis bagi pengungsi-pengungsi Arab abad 20 ini, di saat mereka terjebak antara kepentingan pemimpin-pemimpin Arab yang menolak saudara-saudara mereka sendiri dan UNRWA yang tidak bersandar kepada prinsip universal terhadap para pengungsi.

Inikah keadilan?

Senin, 22 Agustus 2011

Gulungan Kitab, Firman Tuhan dan Juru Selamat

By. Peter Colon
21 Agustus 2011
IMG




Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku. (Yoh. 5:39)
  Disimpan di Gedung Museum Rockefeller di Yerusalem terdapat sebuah dokumen yang aneh mengarah sebagai 4QMMT*. Itu adalah bagaian dari koleksi Gulungan Kitab Laut Mati. Dalam satu seksi dari text tersebut, seorang penulis jaman dahulu (mungkin seorang pendeta),
mengajak seseorang untuk belajar Firman dengan hati-hati. "(dan) kami telah menulis kepadamu bahwa kamu harus menguji buku-buku Musa, dan kata-kata dari para Nabi dan Daud."

  Ketika Yesus muncul di antara pengikutNya sesudah kebangkitanNya, Ia berkata, "Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Luk. 24:44). Peringatan Tuhan itu dan yang ada di 4QMMT* memuji kelayakan dari Firman Tuhan.

  Gulungan Kitab Laut Mati berisi koleksi lama dari tulisan asli Perjanjian Lama. Sebelum penemuan mereka di tahun 1940an dan 1950an, dokumen Perjanjian Lama itu adalah Text Masoretic**  pada abad 9-11 A.D. Gulungan Kitab Laut Mati itu berusia ribuan tahun, mendahului Septuagint*** . Sejak original teks dari buku Alkitab tersedia, gulungan Kitab itu membantu ahli-ahli agama, jika dibandingkan saat ini teks Alkitab dengan penulisan kuno. Bagian dari analisis literal ini dinamakan kritisme tekstual.

  Di antara sobekan gulungan-gulungan itu kebanyakan adalah buku-buku yang di Perjanjian Baru sering diungkapkan: Ulangan, Yesaya dan Mazmur. Lebih dari itu gulungan-gulungan itu ditemukan di gua-gua, meyakini kepercayaan akan Firman Tuhan dan Yesus.

Hukum-Hukum Musa

  Ulangan adalah buku kelima dari 5 Buku Musa. Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan dikenali sebagai Taurat (Hukum). Rabi-rabi jaman dulu menganggap Ulangan sebagai Mishnah Torah, artinya "Pengulangan Taurat", karena meninjau ulang atau mengulangi hukum-hukum itu yang mana disebutkan sebelumnya di Keluaran, Imamat dan Bilangan.

  Satu dari nubuatan utama Ulangan adalah pasal 18:18-19, yang berbicara akan Mesias yang, seperti Musa, akan mendapat otoritas penuh dari Tuhan, Terjemahan Inggris dari Gulungan Kitab Laut Mati di teks berisi, "[I will raise up for them a prophet like you from among their brothers; I will put my words in] his mouth, and he will speak to them [all that I command him. And whoever does not listen to my words which] he will speak in my name, I [will hold] accountable." Sang penerjemah menggunakan tutupkurung untuk mengindikasikan susunan kata-kata atau ucapan yang rusak. Jelas tidak ada perbedaan antara teks kuno dan Alkitab modern.

  Di Kisah Para Rasul 3:22-23, Rasul Petrus mengutip nubuatan Ulangan di kotbahnya. Seorang profesor senior di Alkitab Eksposisi, Dr.Thomas Constable berkata di sela-sela Seminar Theology di Dallas,
Musa memprediksi bahwa Tuhan akan menyediakan nabi yang mirip dengan dia yang mana melalui dia lah Ia akan menyatakan kehendakNya diketahui oleh anak-anakNya. (Ul. 18:15-19; Im 23:29). Seiring waktu berlalu, orang Yahudi melihat bahwa nubuat ini mengarah ke satu nabi yang akan muncul dan mirip seperti Musa. Ia akan membebaskan dan menghakimi anak-anakNya. Maka orang percaya kepada 'Peter's Day' menganggap kalimat ini sebagai nubuatan mesias (Yoh. 1:21b, 25; 7:40). Petrus menguatkan pendapatnya bahwa Yesus  adalah Mesias dan menganjurkan para pembacanya untuk menerima Dia atau menghadapi kehancuran (ayat 23).

Para Nabi

  Gulungan kitab Yesaya menjelaskan sebuah contoh dari transmisi terjemahan yang akurat. Naskah luar biasa ini sebenarnya besar. Ditulis dalam 17 lembaran kulit perkamen, kira-kira 24 kaki panjangnya dan 11 inci lebarnya, dan memiliki 54 teks kolom. Dapat dibayangkan, Israel mempertimbangkan lembaran kulit perkamen tua ini sebagai harta nasional. Sejak 1965, copy dari lembaran itu dipajang di museum tempat suci Kitab di yerusalem.


  Kalimat yang sering dikutip di Perjanjian Baru adalah nubuatan dari Yesaya 52:13--53:12. Tidak ada yang meragukan kebenaran dari nubuatan tersebut menyinggung akan penderitaan Mesias.
Victor Buksbazen (1903-1974), eksekutif direktur pertama The Friends of ISrael Gospel Ministry, menulis di eksposisinya tentang Yesaya 53,
Umumnya, ada perbedaan kecil antara terjemahan Yahudi dan Kristiani akan kalimat Yesaya, diluar dari beberapa kata dari kepentingan sekunder. Meskipun demikian, ada perbedaan dalam dan mendasar di interpretasi teks. Selama beberapa abad, tradisi Yahudi kuno melihat Yesaya 53 sebagai potret dari pelayan Tuhan yang menderita, si Kristiani Mesias, merunut tradisi Yahudi kuno, tetap memelihara bahwa  Yesaya 53 berbicara akan Mesias. Konsekuensinya, mereka melihat itu sebagai sebuah nubuat yang luar biasa berkenaan dengan Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Yoh. 1:29).

Mazmur

  Buku Mazmur adalah yang paling banyak dicopi dari semua buku-buku Alkitab yang ditemukan dalam Gulungan Kitab Laut Mati itu. Tampaknya, fakta ini menunjukkan pentingnya hal ini bagi tujuan liturgis dan studi. Kata Ibrani untuk 'mazmur' adalah tehillim, artinya "lagu pujian." Di Perjanjian Baru, hanya buku Yesaya lebih mendominasi dibandingkan Mazmur. Gulungan Mazmur adalah koleksi yang terbesar diantara dokumen-dokumen Laut Mati yang ditemukan di tahun 1956, dibuka di tahun 1961.

  Raja Daud menulis hampir semua Mazmur. Diantara koleksi ada teks yang menarik tentang Daud, ditemukan di 11QPs**** Psalter (Komposisi-Komposisi Daud), Daud seorang yang bijak dan terpelajar. Dan totalnya (dari mazmur dan lagu-lagunya/pujian) sebanyak 4050. Semua ini ia komposisikan melalui nubuatan dimana diberikan kepadanya dari Sang Maha Kuasa.

  Sejujurnya, Alkitab adalah naskah satu-satunya yang dinspirasikan oleh Tuhan dan bermanfaat (2 Tim. 3:16). Itu adalah pilihan Tuhan untuk menggerakkan penulis dengan Roh Kudusnya untuk menghasilkan Tulisan Alkitab: "Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah."

  Walaupun beberapa kerusakan karena ulat-ulat gua, pasal-pasal dan bagian-bagiannya yang dapat terbaca adalah sama dengan yang tertulis di terjemahan asli. Ini juga benar walaupun ditemukan gulungan-gulungan lain. "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya."(2 Sam. 22:31)

  Firman Tuhan selamanya akan tetap ada, tetapi fokus utamanya seharusnya tidak diabaikan. Seorang pendeta Inggris G. Campbell Morgan (1863-1945) meletakkannya dengan cara: "Tidak ada kehidupan di Firman Allah, tetapi jika kita mengikuti kemana kita diarahkan, Firman itu akan membawa kita kepadaNya, dan kita menemukan kehidupan, bukan di Firmannya, tetapi di dalam Dia melalui Firman."
 supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya! (Mazmur 2:12)

Tuhan Yesus Memberkati



*4QMMT (atau MMT), juga dikenal sebagai Surat halachic, adalah salah satu dari Gulungan Laut Mati yang ditemukan di Qumran di West Bank. Naskah ini terutama berkaitan dengan isu kemurnian aliran cairan, menjadi bahan perdebatan besar antara orang-orang Farisi dan Saduki dalam teks rabi.**berkenaan dengan kumpulan catatan kritis dan penjelasan tentang teks Ibrani dari Perjanjian Lama, yang disusun dari abad ke-7 hingga abad ke-10 Masehi dan secara tradisional diterima sebagai panduan tafsiran otoritatif, terutama dalam hal pengucapan dan tata bahasa.***terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama yang diproduksi di Mesir di abad 3 dan 4 B.C.****bernama juga 11Q5, gulungan abad pertama A.D. ditemukan pada tahun 1956.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Apakah Israel Penganut Apartheid?


By. Josua Sihotang
19 Agustus 2011


  Mantan Presiden US Jimmy Carter pernah berkata, "Tidak diragukan lagi, bahwa Israel menguasai tanah Palestina. Ini adalah satu contoh Apartheid." Hal ini kontradiktif dengan pernyataan dia yang memuji sikap Israel terhadap pengungsi-pengungsi Vietnam di tahun 1977. Berlawanan dengan itu, mari kita dengar komentar Kopral Eleanor Joseph, seorang gadis Kristen Arab yang menjadi pasukan penerjun payung Israel. Katanya, "Jika seseorang berkata pada saya bahwa IDF (Israel Defence Force) membunuhi orang-orang Arab, saya akan mengingatkan mereka bahwa orang Arab yang membunuhi orang Arab." Eleanor lahir di Haifa, walau demikian ia ingat bagaimana pasukan Hezbollah meluncurkan roket ke daerah Arab lainnya. Sebagai catatan, ia adalah wanita Arab pertama yang bergabung di militer Israel. Akan tetapi, bagaimana mungkin? Bukankah Israel dicap sebagai negara Apartheid?

  Dalam parlemen Knesset (cabang legislatif dari pemerintah Israel yang bertugas memilih Presiden dan Perdana Menteri, menyetujui kabinet, menyetujui undang-undang serta supervisi kinerja pemerintah) duduk anggota-anggota parlemen Israel yang berkebangsaan Arab sejak pemilihan pertama tahun 1940an. Hingga kini telah 63 orang Arab yang melayani di parlemen, bahkan ada yang menjadi pembicara Deputi. Ada juga seorang pemuda Ethiopia yang mengaku keturunan Yahudi dan meminta suaka ke Israel karena sikap Zionismenya. Sebut saja Shlomo Mula, besar di kampung Macha, daerah utara Ethiopia. Di bulan Februari 2008 ia dinobatkan menjadi orang Ethiopia kedua yang terpilih duduk di Knesset.

  Lain halnya dengan  Haneen Zoabi, wakil dari partai Balad. Dilantik di tahun 2009, ia menjadi wanita Arab Palestina pertama di Knesset. Walau demikian, ia menolak mengikuti protokol acara pelantikan dengan keluar ruangan sidang ketika lagu nasional Israel 'Hatikva' dikumandangkan. Ia menganggap bahwa Israel tidak mewakili dirinya sebagai seorang Arab Palestina. Dengan gelar Master of Art dari Hebrew University of Jerusalem, ia tidak mencerminkan seorang anggota parlemen Israel. Di tahun 2010, ia ikut berpartisipasi dalam aksi "Gaza Flotilla" dengan ikut bergabung bersama para aktivis dari manca negara di kapal 'Mari Marvara'. Ia dianggap sebagai penghianat oleh anggota parlemen lainnya. Ia mengecam keras aksi razia pasukan Israel terhadap kapal tersebut dengan sebutan 'Operasi Militer Bajak Laut'.

  Contoh-contoh di atas adalah sebagian sikap pemerintah Israel yang mengakui penuh keberadaan orang-orang Arab di Israel maupun di Gaza. Artinya, penduduk Arab (Arab Israel) punya hak untuk ambil bagian dalam pemerintahan, seperti pemilihan umum. Wanita-wanita Arab di Israel juga memiliki kebebasan penuh dibandingkan wanita-wanita di negara Arab lainnya. Mereka boleh memilih bajunya sendiri, boleh mengecam pendidikan hingga tingkat tinggi, boleh menjadi tentara, menjadi politikus, bahkan bebas bersuara walau melawan pemerintah. Orang-orang Palestina juga diijinkan untuk bekerja dan menerima penghasilan yang hampir sama dengan rekan-rekan Yahudi mereka.
Tap bagaimana mungkin. Bukankah Israel adalah negara Apartheid?

  Sesuai definisinya, Apartheid adalah sistem kebijakan dari pemisahan atau diskriminasi berdasar atas ras. Apartheid berlangsung di Afrika Selatan antara tahun 1948 hingga 1991. Melalui sistem ini, hak-hak keturunan asli kulit hitam Afrika Selatan dibatasi dan kekuasaan minoritas  kulit putih dipertahankan. Daerah pemukiman dipisah, bahkan kadang dengan cara paksa. Dari tahun 1970, orang kulit hitam tidak diberi kewarganegaraan penuh, dalam arti mereka tidak dapat mengikuti pemilihan umum. Pemerintah saat itu juga memisahkan pendidikan, perawatan medis, layanan publik lainnya, dan orang kulit hitam diberikan pelayanan yang rendah.
Apakah demikian yang terjadi di Israel??

  Di tahun 2007, pengungsi-pengungsi asal Sudan datang ke perbatasan Israel akibat konflik agama yang berkepanjangan. Sementara seluruh dunia menutup mata akan pembantaian di Darfour Sudan, pemimpin Hamas dan Hezbollah memuji Presiden Sudan (sebelum Sudan Selatan berdiri). Negara Israel yang kecil mengijinkan 25000 pengungsi-pengungsi asal Afrika (termasuk Sudan) untuk mencari suaka. Mayoritas adalah korban pembunuhan besar-besaran oleh muslim. Mereka tidak meminta suaka ke negara muslim tetangga, seperti Mesir atau Libya, karena justru di sana mereka mendapat perlakuan rasis dan bahkan juga dibunuh.
Sebagai bangsa yang selamat dari pembantaian besar-besaran, Israel berempati penuh disaat negara-negara lain diam. Jadi pemerintah Israel mengijinkan mereka masuk dan memohon kepada beberapa organisasi sosial lokal untuk membantu para pengungsi. Kemurahan hati di seluruh pelosok Israel, contohnya Carmel Shelter, dengan suka cita membantu.

  Sebenarnya, anak-anak yang lahir di Israel dari berbagai suku akan selalu menjadi bagian dari Israel. Kita contohkan saja apa yang terjadi di tahun 1977, ketika sebuah perahu yang dipenuhi pengungsi-pengungsi Vietnam ditemukan oleh kapal barang Israel. Keputusasaan dari pengungsi-pengungsi itu diabaikan oleh kapal-kapal lain, seperti kapal Jerman, Norwegia, Jepang, Panama. Tetapi orang Israel tidak ragu untuk mengangkut para pengungsi ke Israel dan mengesahkan mereka menjadi warga negara Israel.
Tapi...bagaimana mungkin? Muslim?Orang Asia Timur?Orang Afrika?
Bukankah Israel Negara Apartheid??

Kamis, 18 Agustus 2011

Mungkinkah Semenanjung Sinai Mesir Menjadi Kubu Al Qaeda Berikutnya?


17 Agustus 2011
Sumber  : TheBlaze



Pasukan Inteligent Mesir menahan beberapa militan di area Sinai kemarin, dan akan terus mengejar kantong-kantong Al Qaeda yang melakukan infiltrasi ke Peninsula setelah pasca revolusi Mesir (http://www.debka.com/article/21209/ ). Dapatkah itu menguap ke masalah yang besar di area Sinai sebagai aksi memerangi teror di seluruh dunia?

Berdasarkan konfirmasi CNN selama weekend kemarin, sumber-sumber di militer Mesir sedang menyiapkan satu operasi di daerah tandus Sinai untuk menghancurkan kantong-kantong Al Qaeda.
Lokasi Sinai yang menghubungkan Mesir ke Israel dan Gaza Strip bernilai strategis sebagai perencanaan dan pelaksanaan aksi teroris melawan Israel. Sebuah jalur pipa natural gas utama melalui Sinai telah dibom untuk kelima kalinya di tahun ini, dan penguasa-penguasa Mesir percaya bahwa pihak terkait Al Qaeda bertanggungjawab dalam hal ini.

Serangan Mesir dapat menjadi langkah awal dalam kampanye anti eksistensi ekstriimis yang merembes masuk Mesir dan sekitarnya, dengan konsekuensi untuk menyeimbangkan keamanan dengan negara-negara tetangga. Segera sesudah pasukan Mesir memasuki Sinai dalam misi anti terorisnya hari Senin yang lalu, Perdana Menteri Netanyahu memperingatkan publik bahwa Mesir cenderung kehilangan kontrol akan keberadaan teroris yang semakin bertambah di Peninsula. Media online Ha’aretz (http://www.haaretz.com/news/international/netanyahu-warns-egypt-losing-control-of-growing-terror-groups-in-sinai-1.364949 ) mengutip, PM Israel berkata bahwa kesulitan saat ini yang dialami Mesir berkenaan dengan daerah kekuasaannya serta hukum yang berlaku telah menciptakansatu lingkungan dimana:
Organisasi teror internasional sedang menyebarkan pengaruhnya di Sinai berkenaan dengan koneksi antara Sinai dan Gaza.
Sementara luas dan peran kemungkinan keberadaan Al Qaeda di Sinai semakin tak menentu, media melaporkan jumlah koneksi bermasalah selama tahun-tahun lalu. Contohnya, terdapat pelaksanaan operasi teroris yang telah lalu, termasuk penyerangan bom di resort Sinai bagian utara oleh Sharm El Sheikh yang membunuh 90 orang di tahun 2005.
Sebagai tambahan, Pasukan Islam, yang berasosiasi dengan grup teroris Al Qaeda, disinyalir beroperasi di Sinai. Grup itu dicurigai menyerang area saluran pipa natural gas tahun lalu, dan sebelumnya berencana melakukan serangkaian operasi penculikan terhadap Israel di area resort Sinai. Sebagai respon, pasukan Israel membunuh pemimpin Pasukan Islam tersebut di Gaza dengan serangan udara di bulan November lalu.

Mengingat kehadiran militer terdekat adalah Israel serta keinginan Mesir untuk terlibat teroris, akan terlihat hanya berupa skenario terburuk bahwa pos-Mubarak semenanjung Sinai suatu hari nanti bisa berubah menjadi tempat yang aman bagi Al Qaeda dan militan-militan lain semacam "Waziristan dari Mediterania, "atau" Yaman di Suez ". Sinai berbagi perbatasan dengan Israel serta Jalur Gaza, yang berarti Pasukan Pertahanan Israel (IDF) akan terus menutup mata pada peristiwa yang ada dan kemungkinan mengambil tindakan jika diperlukan untuk mencegah kehadiran Al Qaeda.
Tetapi seperti telah kita lihat di bagian dunia lain - Barat Laut Pakistan, Yaman, Somalia, dan daerah kecil dari Filipina dan Thailand - kelompok teror jihad tidak perlu angka besar atau dukungan dari sebuah negara untuk bertahan hidup dan plot serangan teroris sukses.

Sinai sangat luas dan kasar. Hanya beberapa ribu tentara Mesir telah ditugaskan untuk menjaga ketertiban dan melindungi pipa gas alam pasca revolusi yang menggulingkan Mubarak. Ada laporan bahwa teroris telah mundur ke kamp-kamp kecil di pegunungan wilayah tengah Sinai, yang dapat mencapai ketinggian lebih dari 8.000 kaki.
Pembasmian teroris ini akan menjadi misi yang sangat sulit bagi pasukan Mesir tanpa kekuatan udara. Yang lebih utama dari itu, ada populasi dari beberapa ratus ribu orang Badui di sepanjang semenanjung, yang bisa memberikan baik bantuan dan persembunyian kepada kelompok militan (http://www.liveleak.com/view?i=31e_1311619311 ). Menurut beberapa laporan, orang Badui sudah berperan aktif dalam transfer senjata di seluruh Sinai, dimaksudkan untuk mempersenjatai Gaza.

Penerus Bin Laden dan pemimpin Al Qaeda saat ini, Ayman al-Zawahiri, mengambil catatan pembuka bagi Al Qaeda diciptakan oleh Pergolakan Arab di Mesir dan sekitarnya. Dalam video yang dirilis di internet kemarin, Zawahiri menyerukan untuk para Jihadis di seluruh dunia, seperti yang diposting di Fox News:
"Di Tunisia dan Mesir, kesempatan untuk berkhotbah telah terbuka dan hanya Tuhan yang tahu sampai kapan kesempatan ini akan bertahan," katanya. "Oleh karena itu, Muslim dan mujahidin harus mengambil manfaat dan keuntungan dari mereka untuk mengungkapkan kebenaran."

Apakah Mesir terus berupaya untuk memperkuat teroris di Sinai atau tidak, AS dan Israel harus tetap menutup mata di semenanjung itu, kalau-kalau bergabung daftar terkenal dari tempat yang sebelumnya biasa-biasa saja yang sekarang berlabuh para jihadis dengan ambisi globalnya. Stabilitas di semenanjung Sinai mungkin seperti "burung kenari di tambang batubara" bagi keamanan Mesir, aspirasi demokratis, dan hubungan masa depan dengan negara Israel.

Kamis, 11 Agustus 2011

Kerajaan dan Kekuatan


By. Herb Hirt
10 Agustus 2011
IMG



   Nabi Daniel dulu tinggal dalam jaman huru hara. Dalam hidupnya ia melihat dan mengalami kehancuran kerajaan Yehuda di tangan Babylon dan kehancuran Babylon oleh Medo-Persia. Selama kehebohan ini. ketika kekuatan super saat itu saling berhadapan satu dengan yang lain, bersaing mengontrol Ancient Near East*, Tuhan menyatakan kepada Daniel bahwa semua dibawah kuasa Dia dan atas dasar rencanaNya bagi Israel dan bagi kedatangan Kerajaan Tuhan ke dunia.
  Selama abad ke-6 dan 7 B.C., kerajaan Yudea terperangkap dalam konflik antara 3 kerajaan besar: Asyur, Babylon dan Medo-Persia. Kerajaan Asyur, berbasis di Niniwe, menguasai Ancient Near East di jaman Tiglath-Pileser III pertengahan abad 8 B.C. Bangsa ini menaklukkan Samaria dan mengambil kerajaan utara Israel sebagai tahanan di tahun 722 B.C. Pada akhir abad berikutnya, Babylon pelan-pelan melanggar Asyur.
  Di tahun 609, koalisi pasukan Asyur dan Mesir berusaha mengendalikan orang Babylon di Karkemis, akan tetapi 4 tahun kemudian dibawah kendali Nebukadnezar, Babylon berhasil meraih kemenangan; dan Yehuda tunduk kepada kerajaan Babylon. Di tahun itu Nebukadnezar mengambil orang-orang Yudea sebagai tahanan termasuk Daniel. Nebukadnezar melakukannya lagi di tahun 597 sesudah Raja Yoyakim memberontak. Yoyakim mati di Babylon; penerusnya Yoyakhin ditahan (bersama dengan nabi Yehezkiel); dan Zedekia menjadi raja. Akhirnya, di tahun 586, sesudah Zedekia memberontak, Raja Nebukadnezar membakar Yerusalem, merusak Bait Allah dan membuang sisa bangsa-bangsa Yahudi. Sejak Babylon mengontrol kerajaan utara Israel, yang pernah dikuasai Asyur, saat itu justru jumlah golongan Yahudi mendominasi total penduduk.
  Kerajaan Babylon, walau penuh kegembiraan, akan tetapi bertahan hanya sebentar. 13 tahun kemudian sesudah kematian Nebukadnezar, koalisi Medes dan Persia dibawah Raja Persia Koresy menaklukkan Babylon dengan mengalihkan sungai Efrat dan menyerbu ke dalam kota melalui sungai pada 20 Oktober 539 B.C. Koresy kemudian memutuskan bahwa seluruh bangsa tawanan dibawah Babylon bisa kembali ke rumah. Demikianlah awal Kerajaan Persia menguasai dari India hingga Laut Mediterania lebih dari 200 tahun.
  Sehingga Daniel tinggal selama waktu kekacauan politik yang luar biasa, dengan tunduknya bangsa Yahudi ini kepada kekuatan yang lebih besar. Buku Daniel mengajarkan bahwa dunia tidak pernah di luar kendali Tuhan dan semua bangsa tunduk kepadaNya,

Buku Daniel

  Walaupun Alkitab menempatkan Daniel diantara Nabi-Nabi utama, Kitab Yahudi meletakkannya dengan Penulisan (Lihat notes lain "Daniel atau Denial"). Ini mungkin karena Daniel bekerja sebagai seorang Babylon dan kemudian sebagai offisial pemerintahan Persia, jadi buku tersebut ditempatkan antara Ester dan Ezra/Nehemia dengan tulisan-tulisan lain dari masa pasca pembuangan.
  Wahyu-wahyu Daniel merentang hampir 7 dekade dan menspesifikasi tahun-tahun kerajaan ketika ia menerima penglihatan. Buku tersebut ditulis dalam bahasa Ibrani (1:1--2:4a; 8:1--12:13) dan Aramik (2:4b--7:28), bahasa internasional sehari-hari, mengatakan pada kita bahwa Daniel menulis kepada bangsa Yahudi dan non Yahudi.
  Fungsi Daniel 1 sebagai introduksi. Daniel ditempatkan sebagai seorang buangan Yudea di Babylon. Karakter Daniel dan berkat-berkat Tuhan kepada dia dan teman-temannya karena kesetiaan mereka juga ditunjukkan.Pasal 2 hingga 7 adalah dalam bahasa Aramik, artinya pesan mereka ditujukan terutama untuk bangsa-bangsa non Yahudi.
  Pasal 2 dan 7 menyatakan 4 kerajaan-kerajaan non Yahudi dalam 2 bentuk, Di pasal 2 (mimpi Nebukadnezar), tiap kerajaan digambarkan sebagai satu tipe dari metal dalam sebuah image akan seorang laki-laki yang akhirnya dihancurkan oleh kedatangan Kerajaan Tuhan. Di pasal 7, 4 kerajaan itu dilukiskan sebagai 4 makhluk jahat. Firman Tuhan mengidentifikasi 3 kerajaan pertama sebagai Babylon (2:37), Medo-Persia (8:20), dan Yunani (ayat 21), dan yang keempat umumnya dikenali sebagai Kerajaan Roma--dimana cocok secara historis.
  Dengan jalan yang sama, kesepuluh jari kaki dari image itu di 2:41-43 berhubungan dengan 10 tanduk dari 4 makhluk jahat di 7:7, 24. Wahyu tambahan di 7:8, 24 adalah, sebuah tanduk kecil tumbuh tinggi di antara 10 tanduk yang mengutuk Tuhan. Allaha Maha Tinggi kemudian menghakimi  tanduk kecil itu melalui Anak Manusia, dan kerajaan itu diberikan kepada orang-orang kudus.
  Pasal 3 dan 6 berhubungan satu dengan yang lain dimana mereka mendemonstrasikan pemeliharaan Tuhan akan iman dibawah penguasa-penguasa non Yahudi ini. Pasal 3 adalah cerita terkenal dari Sadrakh, Mesakh dan Abednego, dan cerita tentang perlindungan Tuhan  dari api panas ketika mereka menolak tunduk kepada Nebukadnezar. Dengan jalan yang sama, Tuhan melindungi Daniel (pasal 6) di kandang singa akibat pelanggarannya terhadap hukum Medes dan Persia. Kedua cerita itu tidak hanya menginstruksikan orang-orang pilihan Tuhan untuk setia kepadaNya walau berada dibawah kekuasaan non Yahudi, akan tetapi juga menyuruh penguasa-penguasa non Yahudi tunduk kepada Tuhan.
  Penolakan ini kemudian menjadi tema dari pasal 4 dan 5. Pasal 4 adalah deskripsi otobiografi Raja Nebukadnezar akan kekerasan hatinya terhadap Tuhan. Cerita itu mengisahkan harga diri Nebukadnezar dan kerendahan hatinya melalui 7 tahun masa kesukaran, ketika ia tinggal dalam pengasingan sebagai seekor binatang di belantara hingga ia mengakui bahwa kerajaan dan kekuatannya datang dari Tuhan.
  Pasal 5 menceritakan fitnahan Raja Belsyazar dan respon Tuhan ketika Belsyazar menggunakan perkakas suci dari Bait Suci Yerusalem dalam pesta minum-minumnya. Keduanya memeperingatkan penguasa-penguasa non Yahudi untuk mengenali kekuasaan yang menaungi Israel berasal dari Tuhan. Mereka harus menghormati Sang Maha Kuasa dan orang-orangNya, jika tidak mereka akan dihukum.
  Pasal 8 hingga 12 terdiri atas 3 visi, atau penggenapan, ditulis dalam bahasa Ibrani dan berkaitan dengan masa depan Israel dibawah 4 kerajaan non Yahudi. 3 fokus itu berlanjut pada penghakiman atau penderitaan di tangan non Yahudi hingga Kerajaan Tuhan datang. Pasal 8 ini adalah visi yang dinyatakan di tahun 551 B.C. di saat masa penindasan oleh Antiochus IV (Epiphanes), Raja Seleukia dari Kekaisaran Yunani, ketika ia mencemarkan Bait kedua yang akan dibangun di Yerusalem di tahun 167 B.C., sehingga memicu pemberontakan Maccabi**. Raja ini juga dilukiskan di visi ayat 21-35 pasal 11.
  Pasal 9 adalah respon Tuhan kepada Doa Daniel di 539-538 B.C. tentang ramalan Yeremia dimana orang Yahudi akan dibuang selama 70 tahun (Yer. 25:11-12;29:10). Daniel sadar bahwa saat itu adalah waktunya pembuangan Yahudi digenapi (609-539 B.C.).
  Tuhan menyatakan pada Daniel bahwa 70 kali 7 tahun dari penghakiman diputuskan bagi Yerusalem hingga semua bertobat. Di akhir tahun ke 483 dari tahun lamanya pembuangan Mesias disingkirkan (Dan. 9:26), meninggalkan satu minggu final (periode 7 tahun) dari penghakiman sebelum berakhir (ayat 24-27).
  Visi final yang terekam di pasal 10-12, diberikan di tahun 536-535 B.C. dan berkenaan dengan bangsa Israel di hari-hari terakhir (10:14). Pasal 11 menggambarkan konflik antara Seleukia dan Ptolemia selama waktu pemerintahan Kekaisaran Yunani dimana memuncak di  pengrusakan Antiochus Epiphane di Bait Allah (11:31). Akan tetapi Antiochus Epiphane dilukiskan sebagai satu tipe penguasa besar dan penguasa masa depan: si Antichrist, yang akan memuliakan dirinya di hadapan Tuhan. Buku Daniel berakhir dengan pengesahan kekuasaan Tuhan dan upah kebangkitan bagi mereka yang setia.
  Di dalam Buku Daniel terdapat satu pesan untuk Israel dan bangsa-bangsa non Yahudi. Untuk Israel, pesan itu adalah untuk tetap beriman kepada satu Tuhan daripada menderita dibawah kekuasaan non Yahudi selama menunggu Mesias Tuhan dan KerajaanNya. Bagi non Yahudi, pesan itu adalah untuk mengenali Tuhannya Israel sebagai Sang Maha Tinggi dan mengakui rencanaNya untuk Israel dan dunia. Tuhan layak dipuji dan disembah. Seperti Nebukadnezar akui, "Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaanNya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaanNya turun temurun" (4:34).

Tuhan Yesus Memberkati.



*Ancient Near East : peradaban awal di masa modern Timur Tengah: Mesopotamia (modern Irak dan Siria Timurlaut, Mesir kuno, Iran kuno (Elam, Media, Parthia and Persia, Anatolia (modern Turki) dan Levant (modern Siria, Lebanon, Israel/Palestina, Yordan, Cyprus, dan Crete).

**Maccabi : pasukan pemberontak Yahudi jaman dulu yang mengambil alih kontrol atas Yudea, dimana saat itu bagian dari Kekaisaran Seleukia.