Saturday, May 18, 2013

Sejarah Martir Otranto Di Roma

17 Mei 2013
Sumber : Wiki





Paus Francis pada hari Minggu kemarin melakukan ritual suci dalam memperingati ratusan martir abad ke-15 yang dipenggal kepalanya karena menolak masuk Islam sebagai bagian dari upacara kanonisasi pertamanya di Lapangan Santo Petrus.

"Martir Otranto" adalah suatu kejadian pembantaian 813 orang Italia yang tewas di kota Italia selatan pada tahun 1480 karena menentang tuntutan penjajah Turki yang menyerbu benteng untuk meninggalkan keKristenan mereka.

Paus Francis mengatakan kepada orang banyak bahwa martir adalah sumber inspirasi, utama bagi "begitu banyak orang Kristen, yang, disaat ini dan di banyak bagian dunia, masih mengalami tindak kekerasan." Dia berdoa agar mereka menerima "keberanian loyalitas dan untuk menanggapi kejahatan dengan kebaikan. "

Di bawah ini akan diceritakan sekilas sejarah Martir Otranto, latar belakang hingga dampak dari kejadian ini.



Pada tanggal 14 Agustus 1480, suatu pembantaian terjadi di atas sebuah bukit di luar kota Otranto, Itali Selatan. Lebih dari 800 orang laki-laki diambil dari kota itu dan dibawa ke sbuah tempat yang bernama Bukit Minerva, dan satu persatu dipenggal kepalanya di hadapan seluruh tawanan. Tempat itu dikenal sebagai Bukit Martir.



Dalam perang abad pertengahan sesudah masehi, eksekusi berdarah dari suatu populasi kota sudah menjadi kebiasaan, akan tetapi apa yang terjadi di Otranto adalah unik. Korban-korban tersebut dibunuh bukan karena musuh politik atau bahkan menolak menyerahkan kotanya. Mereka mati karena menolak meninggalkan Kristen dan menganut Islam. 800 orang Otranto itu menjadi martir, korban-korban awal atas penguasaan Itali dan keKristenan oleh pasukan Kekaisaran Ottoman. Karena pengorbanan mereka, invasi Ottoman menjadi lambat dan Roma terhindar nasib yang sama yang menimpa Konstantinopel 27 tahun sebelumnya.

Mehmet Si Penakluk

Pada 29 Mei 1453, kota Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Bizantin sejak ditemukan oleh Konstantin di abad 4, jatuh ke tangan 250 ribu pasukan Turki Ottoman di bawah komando Sultan Mehmet II yang masih berusia 21 tahun. Dengan gelar el-Fatih (sang penakluk), Mehmet melengkapi perang berkepanjangan melawan Bizantin dan merubah kota Kristen itu menjadi ibukota baru bagi kekaisaran Islamnya dan meluncurkan rencana-rencana terbarunya untuk mendominasi negara-negara Barat.

Pasukan Ottoman melakukan pergerakan menuju jantung Eropa. Mehmet mengepung kota Belgrade, tapi pasukannya dilawan orang-orang Hungaria. Meskipun demikian, kampanye itu berakhir dengan penaklukan Serbia dan secara strategis berpengaruh terhadap sisa negara-negara Balkan, termasuk Wallchia (Rumania) dan Moldavia. 

Mehmet tetap tidak berhenti di situ. Dikalahkan di tahun 1475 oleh Stephen sang pembesar Moldavia di Perang Vaslui, Sultan Mehmet II menunggu hingga tahun berikutnya untuk melancarkan serangan balasan. Saat itu ia menghancurkan Moldavia di Perang Valea Alba. 

Mehmet berencana untuk menyelesaikan misinya yang ia tetapkan di tahun 1453. Setelah jatuhnya Konstantinopel, Mehmet menamai dirinya (selain el-Fatih) Kaysen -i Rum (Kaisar Roma) dengan dasar bahwa ia adalah penerus kesuksesan mahkota Kekaisaran Bizantin dan juga seorang keturunan dari Theodora Kantakouzenos (putri dari Kaisar Bizantin John VI Kantakouzenos) yang menikah dengan Sultan Orhan I (1326-1359). Mehmet menyerukan maksudnya untuk menginvasi Itali, menaklukan Roma dan membawa serta kedua Kekaisaran Roma tersebut.

Kampanye itu juga menandai kekalah final dari orang Kristen di Eropa dengan konversi kota yang dikenal sebagai kota para Paus.
St. Peter Basilica pun digunakan sebagai markas pasukan berkuda Ottoman.

Rencana-Rencana Sultan Untuk Itali

Mehmet menghentikan pengepungan Rhodes - secara brilian dipertahankan terus oleh Pasukan Ksatria Rhodes - dan memerintah pasukan darat dan laut Turki untuk berlayar ke semenanjung Itali. Inisial targetnya adalah kota Brindisi, di Puglia (atau Apulia), ujung tenggara dari semenanjung sepanjang Laut Adriatic.

Cuaca di Adriatic tidak bersahabat, meskipun begitu angin memaksa armada lautnya berlabuh bukan di Brindisi namun 50 mil arah selatan, di Roca, dekat kota Otranto. Kota ini berada di lokasi tepi laut timur dari sub-semenanjung Salento. Di tahun 1480, area itu adlaah Neapolitan/Aragonese, artinya berada dibawah kontrol United Kingdoms of Naples dan Aragon.

Pagi hari tanggal 29 Juli, sebuah pandangan yang tidak menyenangkan terlihat dari dinding-dinding kota Otranto. Armada Ottoman berlabuh tidak jauh dari kota. Ribuan pasukan dan pelaut berbaris ke arah kota, dimana pasukan garnisun kota hanya berjumlah 400 orang.
Benteng kota tidak memiliki meriam, dan pemimpin pasukan kota Francesco Largo menyadari limit persediaan dan air. Menyerah adalah sebuah pilihan yang mungkin, karena tidak akan mungkin bertahan dalam keadaan dikepung. 

Keadaan Tragis Akibat Menyerah

Bagi penduduk Otranto, kekalahan Konstantinopel masih dalam benak mereka. Ketika di tahun 1453 pasukan Ottoman bergerak ke sebuah gereja termasyur yaitu Hagia Sophia di Turki. Setelah merobohkan pintu gerbang gereja, pasukan Turki itu menemukan gerombolan orang yang sedang berdoa berharap suatu mukzijat datang. Orang-orang Kristen itu ditangkap dan dipisah berdasarkan usia dan jenis kelamin. Bayi-bayi dan orang-orang tua secara brutal langsung dibunuh, laki-laki diangkut dengan gerobak kereta ke pasar budak, dan para wanita dan anak gadis diambil para prajurit atau dijadikan budak.

Di Otranto, syarat-syarat yang diajukan Pasha untuk menyerah ditolak mentah-mentah oleh sisa orang-orang Kristen Otranto yang masih bertahan di benteng. Dengan hanya menggunakan panah serta air dan minyak panas yang dituangkan dari atas benteng, mereka terus bertahan melawan 18 ribu pasukan Ottoman yang terus berusaha memanjat dinding benteng. 

Usaha itu akhirnya berakhir pada tanggal 12 Agustus setelah terus berjuang selama 2 minggu. Orang-orang Ottoman berhasil menghancurkan satu sisi dari dinding benteng dengan meriamnya dan kemudian dengan membabi buta masuk ke dalam kota dan membunuh setiap orang yang ada di hadapan mereka. 

Pembantaian Dan Perbudakan 

Di saat kejatuhan Konstantinopel di tahun 1453, di dalam gereja Hagia Sophia, pasukan Ottoman memerintah uskup besar Stefano Agricoli untuk membuang salibnya, menyangkal imannya dan memeluk Islam. Ketika ia menolak, kepalanya langsung dipenggal di hadapan jemaat gereja yang saat itu sedang bersama-sama berdoa. Demikian juga yang terjadi dengan uskup Pendinelli dan Count Largo (disinyalir dipotong menjadi dua). Sesudah seluruh pendeta dibunuh katedral dibersihkan dari seluruh unsur Kristiani, dan dirubah menjadi kandang kuda.

Nasib orang-orang Otranto hampir sama dengan yang dialami orang-orang Konstantinopel. Semua laki-laki diatas usia 50 tahun dibantai, para wanita dan anak-anak dibawah usia 15 tahun juga ikut dibunuh atau dibuang ke Albania menjadi budak. Berdasarkan sumber-sumber yang ada, total yang mati diatas 12 ribu orang, dan yang dijadikan budak hingga 5 ribu orang.

Kematian Akibat Kemurtadan

Pasha Ahmet memerintahkan orang-orang Otranto - yaitu 800 orang yang sudah kelelahan, orang-orang yang dipukuli dan orang-orang yang masih hidup sesudah pertempuran - dibawa kedepannya. Pasha memberitahukan mereka bahwa hanya ada satu pilihan, yaitu mati atau mengkonversi ke Islam. Untuk meyakinkan mereka, ia menginstruksikan seorang pendeta Itali yang murtaad bernama Giovanni untuk berkotbah. Pendeta itu menyerukan demi kelangsungan hidup orang Otranto untuk meninggalkan iman Kristiani mereka, menolak gereja, dan menjadi Muslim. Sebagai imbalan, Pasha akan menghormati mereka dan menjanjikan banyak keuntungan.

Salah seorang dari orang-orang Otranto, seorang tukang pakaian bernama Antonio Primaldi (atau Antonio Pezzulla) maju ke depan dan berbicara kepada seluruh orang yang selamat. Ia berseru bahwa ia siap seribu kali untuk mati bagi Kristus. Ia berkata, "Saudara-saudaraku, hingga hari ini kita telah berjuang untuk bangsa kita, menyelamatkan nyawa kita, dan untuk Tuhan kita; kini tiba saatnya bahwa kita berperang untuk menyelamatkan roh kita untuk Tuhan, yang mati di kayu salib untuk kita, hal yang baik bahwa kita mati untuk Dia, tetap teguh dan konstan dalam iman, dan dengan kematian awal ini kita sudah seharusnya memenangkan hidup abadi dan glory untuk martir." (Historia della guerra di Otranto del 1480)

Orang-orang Otranto pun menangis dengan tetap memegang teguh iman mereka. Kemarahan Pasha berakibat keputusan final : mati.

Pagi harinya, tanggal 14 Agustus, 800 tahanan dikumpulkan bersama dan diikat dengan tali dan digiring ke Bukit Minerva. Mereka terus mengulangi janji mereka untuk beriman kepada Kristus. Pilihan eksekusi pertama jatuh kepada Antonio Primaldi.

Si tukang pakaian itu menyerukan peringatan akhirnya kepada teman-temannya dan berlutut di hadapan eksekutor. Darah tertumpah dan kepalanya terpenggal. Namun berdasarkan penulis kronik Saverio de Marco (Compendiosa istoria degli ottocento martiri otrantini - The Brief History of the 800 Martyrs of Otranto), badan tanpa kepala itu tetap tegak. Mayat itu sudah seharusnya tidak bergerak, dan memang tetap dalam posisi yang sama selama eksekusi terjadi. Kejadian yang dianggap mukjizat ini membuat salah seorang eksekutor justru tertegun dan malah mengkonversi dirinya sendiri, dan tanpa ampun ia pun ikut dibunuh. Mayat-mayat itu dikumpulkan dalam kuburan massal, dan orang-orang Turki bersiap untuk memulai barisan mereka bergerak ke semenanjung menuju Roma. Otranto pun hening, populasinya hilang, laki-lakinya mati dan dibuang di parit, seakan terlupakan.

Pengorbanan Yang Menyelamatkan Itali

Pada tanggal 3 Mei 1481, tiba-tiba Sultan Mehmet II mati di usianya yang ke 49 di markas besarnya di Gebze ketika sedang mempersiapkan rencana perang berikutnya. Disinyalir ia diracun oleh orang Venesia.

Setelah Pasha Ahmed pun akhirnya ditangkap dan dieksekusi di Adrianopel, ambisi Ottoman di Itali berakhir. Jika saja Otranto menyerah kepada orang Turki, sejarah Itali mungkin bisa jadi lain, karena pembantaian ini adalah alarm bagi seluruh Itali sehingga membuat kota-kota di seluruh Itali mempersiapkan pasukan sucinya melawan Turki, bahkan Hungaria dan Perancis juga ikut bergabung. Namun kepahlawanan orang-orang Otranto lebih dari sebuah pendirian yang tegas. Apa yang membuat pengorbanan Otranto begitu hebatnya adalah kerelaan untuk mati untuk mempertahankan iman daripada menolak Kristus.

Martir Otranto tidak dilupakan orang-orang yang pulang ke Apulia sesudah perang berakhir. Tulang-tulang dari para martir dikumpulkan dalam kotak penyimpanan dan ditempatkan di dalam kapel tepat di depan altar utama di dalam katedral setempat. Beberapa peninggalan juga dikirim ke gereja Santa Caterinadi Formello di Naples.