Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2013

Apa Cara Kelompok Palestina Merespons Pembunuhan Anggotanya Oleh Hamas? Dengan Meluncurkan Roket ke Israel!

24 Juni 2013
Sumber : The New York Times

Para anggota Palestina Islam Jihad marah setelah Hamas membunuh salah seorang komandan militer mereka akhir pekan kemarin. Tahu bagaimana Jihad Islam tersebut menanggapi pembunuhan terhadap pemimpin divisi unit roket mereka? Dengan menembakkan enam roket ke Israel selatan Senin malam kemarin!!

Palestina Maan News Agency melaporkan, "Peluncuran roket itu trerjadi setelah pengumuman hari Minggu bahwa Jihad Islam untuk sementara menangguhkan hubungan dengan Hamas, menuduh pihak berwenang Gaza bertanggung jawab atas kematian salah seorang anggota kelompok mereka."

The New York Times menulis bahwa serangan itu mungkin telah dipicu oleh perselisihan internal di Gaza antara pihak Hamas - kelompok militan Islam yang menguasai wilayah pesisir - dan ekstrimis Islam Jihad, dimana salah satu anggotanya tewas ketika polisi Hamas datang untuk menangkapnya. "

Sebagai tanggapan terhadap peluncuran roket itu, Angkatan Udara Israel menargetkan dua fasilitas penyimpanan senjata dan satu pusat peluncuran roket di Gaza, Angkatan Pertahanan Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan.

"IDF tidak akan mentolerir upaya untuk membahayakan warga negara Israel, dan tentara kami akan terus bertindak terhadap siapapun yang terlibat dalam teror terhadap Negara Israel," kata IDF.

Polisi Hamas melaporkan mencoba untuk menahan salah satu anggota Jihad Islam senior untuk diinterogasi pada Sabtu ketika ia ditembak di kepala saat mencoba melawan. Dia meninggal pada hari berikutnya.

Menurut New York Times, Jihad Islam operatif, Raed Jundiyeh, "dicari Hamas sehubungan dengan penculikan seorang penduduk Gaza. Dia juga rupanya diburu Israel karena perannya dalam serangan-serangan roket. "

Sayap militer Jihad Islam Brigade Al-Quds mengatakan dalam sebuah pernyataan: "Raed Jundiya hari ini menyerah pada luka yang dideritanya kemarin ketika polisi pemerintah Gaza  menembaknya di kepala di rumahnya."

"Pembunuhan Raed Jundiya merupakan suatu pelayanan utama untuk musuh Zionis, yang tersedia tanpa imbalan, baik sengaja atau tidak, karena martir itu, seperti semua orang tahu, adalah daftar target Zionis teratas saat ia memimpin Brigade Unit roket."

Kementerian Dalam Negeri Hamas membantah tuduhan "pembunuhan" tersebut, mengatakan Jundiya telah menembak ke arah polisi, yang pada gilirannya menanggapinya dengan balas menembak.

Letnan Kolonel Peter Lerner dari kantor Juru bicara IDF mengatakan serangan roket ke Israel adalah "tindakan yang tidak dapat ditolerir akan agresi terhadap Israel dan warga sipil."
"Hamas bertanggung jawab atas semua tindakan terorisme yang berasal dari Jalur Gaza," tambah Lerner menurut New York Times.

Tidak ada laporan korban luka dari serangan roket di Israel selatan atau respon IDF ke Gaza.

Meskipun gencatan senjata yang dimediasi Mesir mengakhiri permusuhan antara Israel dan Hamas pada bulan November, setidaknya ada 36 roket Palestina atau mortir ditembakkan ke Israel dari Gaza tahun ini, menurut sebuah daftar yang diperbarui secara teratur di Wikipedia yang mengandalkan sumber media Israel dan Palestina.

Menurut Times of Israel, sayap militer Jihad Islam adalah kelompok bersenjata terbesar kedua di Gaza, dengan anggota sekitar 8.000 jiwa.

Sabtu, 22 Juni 2013

Mengapa Cina Bicara Dengan Taliban?

22 Juni 2013
Sumber : Andrew Small FP


Minggu ini Pemerintahan Obama akan mengadakan pertemuan dengan Taliban sebagai langkah untuk menciptakan perdamaian atas perang panjang. Akan tetapi Hamid Karzai tidak mendukung langkah ini, menyebabkan harapan Washington DC menjadi buram. Anehnya kekecewaan Amerika juga diikuti Beijing Cina. 






Cina menyambut baik terobosan dalam proses Qatar, dan melihat penyelesaian politik di Afghanistan semakin penting bagi kepentingan ekonomi dan keamanan di wilayah tersebut. Timbal baliknya, dukungan Cina untuk rekonsiliasi antara Kabul dan Taliban menjadi perangkat diplomatik terhadap masa depan Afghanistan hingga 2014.

Selama tahun lalu, Cina memperluas kontak langsung dengan Taliban terkait isu-isu keamanan  di wilayah Xinjiang - daerah yang berbatasan dengan Afghanistan - terhadap perlindungan investasi sumber daya Cina. 

Sementara Beijing berharap pembicaraan rekonsiliasi berhasil dalam mencegah Afghanistan jatuh kembali dalam perang saudara dan bersiap untuk menghadapi bentuk kekuatan politik lain yang akan muncul sesudah Amerika menarik pasukannya dari Afghanistan.

Sesudah serangan 9/11, Beijing diam-diam menjalin hubungan dengan Quetta Shura, dewan kepemimpinan Taliban yang berbasis di seberang perbatasan Pakistan. Salah satu mantan ofisial Cina menyatakan bahwa selain Pakistan, Cina adalah satu-satunya negara yang menjalin kontak ini. Selama 18 bulan terakhir hubungan keduanya semakin terjalin, dan Cina mulai mengakui keberadaan Taliban dalam pertemuan dengan pemerintah Amerika.
Sumber yang sama mengatakan bahwa wakil-wakil Taliban telah mengadakan petemuan dengan para pejabat Cina baik di Pakistan maupun di Cina sendiri. Meskipun kemungkinan Cina lebih mendukung upaya perdamaian, tampaknya fokus lebih dipersempit pada kelonggaran masalah kemanan daripada rekonsiliasi.

Riwayat hubungan Cina dan Taliban telah lama berlangsung. Gerakan kemerdekaan Uighur  Muslim minoritas Cina selalu menjadi perhatian terbesar. Pada akhir tahun 1990-an, Beijing kawatir pemerintah Taliban di Kabul menyediakan tempat perlindungan bagi militan Uighur yang melarikan diri dari Xinjiang dan mendirikan camp pelatihan di Afghanistan. 

Dalam pertemuan di bulan Desember 2000 di Kandahar, pemimpin Taliban Mohammed Omar meyakinkan Duta Besar Cina untuk Pakistan Lu Shulin bahwa Taliban tidak akan membiarkan kelompok manapun menggunakan wilayahnya untuk melakukan operasi melawan Cina. Sebagai gantinya, Omar meminta 2 hal dari Cina : pengakuan politik formal dan perlindungan dari sanksi PBB.

Tidak ada pihak yang memberikan hasil memuaskan. Taliban tidak mengusir militan Uighur dari wilayahnya walapun melarang Uighur mengoperasikan camp mereka sendiri. Pada saat yang sama, Cina bersikap abstain di Dewan Keamanan PBB atas sanksi yang menargetkan jaringan perdagangan Taliban, bahkan Cina tidak menggunakan hak vetonya. Beijing menangguhkan keputusannya untuk mengakui Taliban secara diplomatik. 

Bagaimanapun juga mereka menyadari bahwa mereka bisa melakukan bisnis bersama. Cina bahkan menandatangani  kesepakatan ekonomi di Kabul di saat serangan terhadap Menara Kembar dan Pentagon terjadi. Sejak itu Cina telah menjalin hubungan kerja yang baik dengan pemerintah Karzai tanpa pernah dikaitkan dengan pemberontakan.

Saat ini, prioritas Cina tetap kepada wilayah di bawah kendali Taliban tidak akan berfungsi sebagai basis gerakan bagi kelompok-kelompok militan Uighur. Sisa-sisa kelompok pejuang Uighur - mungkin sekitar 40 orang - terutama yang berada di daerah Waziristan Utara Pakistan, wilayah terpencil di bawah pengaruh seorang komandan yang memiliki hubungan baik dengan Taliban Afghanistan dan Pakistan.

Cina mencari jaminan bahwa keberadaan militan Uighur tidak akan berkembang pada skala yang lebih besar lagi. Ini juga dimaksudkan untuk melindungi investasi multi-miliar dolar di Afghanistan dari serangan Taliban.  Proyek ekonomi terbesar Beijing, tambang tembaga Aynak, berada di wilayah jaringan Haqqani, sebuah kelompok pemberontak yang bersekutu erat dengan Taliban.

Minggu, 16 Juni 2013

Mesir Memutuskan Hubungan Diplomatik Dengan Suriah

15 Juni 2013
Sumber : TheBlaze/AP


KAIRO - Presiden Islamis Mesir mengumumkan Sabtu bahwa ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Suriah dan menutup kedutaan Damaskus di Kairo, keputusan yang dibuat di tengah meningkatnya suara garis keras ulama Sunni di Mesir dan di tempat lain untuk meluncurkan "perang suci "melawan rezim Suriah.






Mohammed Morsi mengatakan kepada ribuan pendukungnya di Kairo bahwa pemerintahnya juga menarik misi diplomatis Mesir dari Damaskus. Dia meminta Hizbullah Libanon untuk meninggalkan Suriah, di mana kelompok militan Syiah yang didukung Iran telah berjuang bersama pasukan yang setia kepada Presiden Bashar Assad melawan pemberontak yang sebagian besar Sunni.

"Hizbullah harus meninggalkan Suriah. Ini pembicaraan serius: Tidak ada bisnis atau tempat untuk Hizbullah di Suriah, "kata Morsi, Presiden Mesir terpilih pertama secara bebas.

Kata-kata Morsi ditujukan khususnya pada Hizbullah untuk meninggalkan Suriah, dan retorika berapi-api yang digunakan oleh ulama terkenal akhir pekan ini yang mengarah ke persepsi meningkatnya konflik Suriah sebagai sektarian atau berpihak pada satu aliran saja. Setidaknya 93.000 orang tewas sejak kerusuhan terjadi lebih dari dua tahun yang lalu.

Para Islamis garis keras yang setia kepada presiden Mesir menyerukan hal ini untuk menunjukkan solidaritas dengan rakyat Suriah. Namun, Morsi juga menggunakan kesempatan itu untuk memperingatkan lawan-lawannya di Mesir dalam menggunakan kekerasan sebagai bagian dari aksi protes yang direncanakan pada tanggal 30 Juni mendatang.

Morsi mengulangi tuduhan bahwa orang-orang Mesir yang setia kepada rezim Hosni Mubarak berada di balik protes yang direncanakan itu.
"Beberapa orang yang berada dalam delusi ingin mencegah aksi revolusi Januari (2011) dan berpikir bahwa mereka dapat merusak stabilitas yang berkembang setiap hari atau melemahkan tekad bahwa orang-orang telah dipaksa menerima keinginan mereka," ujar Morsi.

Pemerintah Morsi secara luas dianggap telah gagal untuk mengatasi salah satu masalah yang tampaknya tak berujung yang dihadapi negara Mesir, dari pemadaman listrik dan kejahatan bergelombang hingga pengangguran, harga yang naik curam dan kekurangan pasokan bahan bakar.Deklarasi protes 30 Juni tersebut adalah untuk memaksa Morsi mundur dan mengadakan pemilihan presiden lebih awal.

Sekutu Morsi mengatakan, protes itu tidak memiliki dasar hukum dan berbentuk kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Mereka telah menyerukan para pemimpin oposisi untuk memasuki dialog politik nasional untuk menyelesaikan krisis, tapi oposisi telah menolak tawaran itu, mengklaim bahwa putaran sebelumnya dialog tidak menghasilkan apa-apa.

Ujung tombak oposisi terhadap kekuasaan Morsi sekarang adalah sebuah gerakan protes pemuda Tamarod, atau pemberontak, yang mengklaim telah mengumpulkan jutaan tanda tangan dari orang-orang Mesir yang ingin Morsi untuk mundur. Penyelenggara mengatakan mereka bertujuan untuk mengumpulkan tanda tangan yang lebih banyak daripada mereka yang memilih Morsi dalam Pemilu 2012 Juni.

Senin, 10 Juni 2013

Remaja Suriah Ditembak Mati Di Hadapan Orangtuanya Karena Dianggap Menghina Sang Nabi

10 Juni 2013
Sumber : ABC

Seorang remaja di Aleppo, Suriah, dilaporkan dieksekusi karena mengklaim bahwa ia tidak akan memeluk Islam - suatu pelanggaran yang dilihat ekstrimis Muslim sebagai "kutukan" pada Nabi Muhammad.








Dalam sebuah laporan yang diterbitkan oleh ABC.net.au, dilaporkan bahwa Mohammad Qataa, seorang pedagang kopi jalanan berusia 15 tahun terdengar mengatakan, "Bahkan jika Nabi Muhammad turun (dari langit), aku tidak akan menjadi orang percaya. "

Kata-kata demikian, menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi yang berbasis di Inggris, yang menyebabkan radikal menembak Qataa di wajah dan leher, membunuh dia. Pembunuhan keji ini dilakukan di depan kerumunan orang termasuk orang tua anak itu.

Sementara berdebat dengan seseorang, remaja itu awalnya  membuat komentar anti-Islam. Ketika pernyataan ini sampai hingga kelompok radikal yang terkait dengan Front Nusra (afiliasi al-Qaeda), nasib tragisnya pun diputuskan.

ABC melaporkan, Observatorium mengatakan para Islamis mengambil Qatta pada hari Sabtu dan membawanya kembali hidup pada dini hari Minggu, dengan tanda memar dan luka cambuk terlihat pada tubuhnya.

"Orang-orang berkumpul di sekelilingnya dan seorang anggota brigade pertempuran berkata: 'warga dermawan Aleppo, mendustakan Allah adalah kemusyrikan dan mengutuk nabi adalah kemusyrikan. Siapa mengutuk bahkan sekali saja akan dihukum seperti ini ', "kata observatorium.

"Dia kemudian menembakkan dua peluru dari senapan otomatis di hadapan orang banyak dan di depan ibu dan ayah anak itu, lalu masuk ke mobil dan pergi."

Sementara orang tua anak itu memohon si pembunuh untuk tidak mengambil nyawa anak mereka, permintaan mereka tidak digubris.

Sebuah foto yang dirilis oleh Observatorium menunjukkan wajah Qataa dengan mulut dan rahang berdarah dan hancur serta luka tembak di lehernya.

Sejak tahun lalu, sebagian besar kota telah jatuh di bawah kendali brigade Islam, termasuk Al Qaeda Nusra Front, serta unit pemberontak lainnya.

Lebih dari 94.000 orang telah tewas dan 1,6 juta warga Suriah telah melarikan diri negara itu sejak perang saudara dimulai pada Maret 2011 setelah tindakan keras terhadap protes terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad.


Jumat, 24 Mei 2013

Muslim Muda Dari AS Dan Eropa Ikut Berperang Bersama Al-Qaeda Di Suriah Dan Afrika

24 Mei 2013
Sumber : Theblaze

"Setiap kali mereka berhasil dalam serangan, terlepas di mana lokasi kejadiannya, membuat pekerjaan mereka berhasil untuk meradikalisasi orang di sini."



Sebuah tren yang berkembang dari muslim muda yang bepergian dari Amerika Serikat dan Eropa ke Suriah dan Afrika, untuk berlatih dan berjuang bersama Al-Qaeda mendorong badan-badan intelijen Barat untuk meningkatkan pengawasan di bandara, pelabuhan dan penyeberangan perbatasan di tengah kekhawatiran bahwa para pejuang yang sudah terlatih ini akan kembali ke negaranya untuk memulai serangan teror.

Ketakutan itu semakin terkuak Rabu kemarin ketika dua jihadis Islam membantai seorang tentara Inggris di jalan London  dan pemboman bulan April lalu di tengah-tengah Lomba Marathon di Boston oleh dua orang muda kelahiran Chechnya Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan saudaranya. Serangan-serangan teroris menyisakan pertanyaan-pertanyaan apakah kelompok-kelompok ini bertindak sendiri atau mereka mengikuti perintah dari pusat Al-Qaeda, atau salah satu dari kelompoknya?

Satu hal yang pasti: ini tidak akan menjadi akhir dari serangan-serangan teror tampaknya, acak dan sulit untuk diprediksi, dikatakan para pejabat AS. Dan dengan meningkatnya perang di Suriah dan kelompok ekstrimis Islam mendapatkan momentum di Afrika, penegakan hukum Barat harus bekerja keras memperhatikan pejuang yang terlatih ini kembali dari zona perang tersebut ke Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya.

"Kita tahu orang-orang muda yang meninggalkan London, Amerika Serikat dan bagian lain Eropa dengan tas medis, peralatan taktis dan perlengkapan lainnya ke Suriah, dan beberapa sedang menuju ke Afrika untuk berperang di tempat-tempat seperti Somalia, Aljazair dan Mali," kata seorang pejabat Barat, yang mendapat informasi langsung dari investigasi teror. "Sayangnya, kelompok pemberontak dimana mereka bergabung memiliki ikatan yang kuat dengan al-Qaeda dan kelompok ekstrimis lainnya. Mereka akan diindoktrinasi - apa jadinya ketika mereka pulang, siap untuk melawan dan membenci barat "?

Masalahnya adalah bahwa banyak dari pejuang ini cukup terampil untuk tidak dideteksi oleh penegak hukum "dan menyelinap melalui celah-celah - Suriah bukanlah satu-satunya negara yang kita peduli," tambah pejabat itu.


Perang Melawan Teror

Dalam pidato Presiden Obama pada hari Kamis, ia mempersempit definisi "perang melawan teror", ia mengatakan "di luar Afghanistan, kita harus mendefinisikan upaya kami bukan sebagai 'perang global melawan teror' yang tak terbatas - melainkan sebagai upaya yang gigih, menargetkan pembongkaran jaringan spesifik ekstremis yang mengancam Amerika. "

Steven Bucci, mantan wakil asisten menteri pertahanan di bawah Donald Rumsfeld, mengatakan masalah utama adalah bahwa Pemerintahan Obama meremehkan keseriusan ancaman-ancaman ini.
Administrasi Obama menjelaskan banyak insiden ini sebagai tindakan "serigala tunggal" dan pidato Obama Kamis, menegaskan ketidakmampuan pemerintah untuk memahami kekuatan musuh.
"Dia benar-benar berada dalam delusi tentang" perang yang mereda, "kata Bucci. "Saya tidak tahu apakah dia menyadari bahwa orang-orang jahat tidak ingin berhenti - berpikir tentang London."

Di London, salah satu pria, yang diidentifikasi dalam laporan berita Inggris adalah Adebolajo, mengatakan kepada penonton yang menyaksikan serangan itu "ia bersumpah demi Allah  kita tidak akan pernah berhenti memerangi kamu," sambil memegang pisau daging dan parang di tangannya.

Laki-laki itu memperlakukan tentara Inggris itu seperti "sepotong daging," kata saksi mata kepada media. Seorang saksi mata mengatakan salah satu pria mengatakan kepada mereka, "satu-satunya alasan kami melakukan ini karena umat Islam meninggal setiap hari. Tentara Inggris ini merupakan mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kalian tidak akan aman. "


Jihadis Muslim Mengadakan Perjalanan Ke Suriah

Seorang pejabat militer AS, dengan informasi langsung dari jaringan teror di Afghanistan dan Afrika, kata para pejabat militer, menyadari tren jihadis muda Muslim Barat bepergian ke garis depan di Suriah dan Afrika.

"Hal ini sangat membahayakan ketika ekstremis ini akhirnya kembali ke rumah dengan keterampilan yang dibawa dari zona pertempuran ke pintu depan rumah kami dan membahayakan cara hidup kita," kata seorang pejabat militer. "Ini luar negeri di mana mereka mendapatkan pengetahuan untuk membuat bom, menggunakan senjata, berhubungan dengan para pemimpin dalam gerakan jihad. Bukan masalahnya kita akan menghadapi ancaman teror ini, tapi masalahnya kapan ini akan terjadi. "

Sejak 2008, para pejabat FBI telah memantau perjalanan beberapa pria Somalia yang telah meninggalkan AS untuk berjuang bersama pasukan pemberontak di bekas tanah air mereka. Beberapa pejuang muda digunakan sebagai pelaku bom bunuh diri, sementara yang lain direkrut dibawah sayap afiliasi al-Qaeda Somalia, Al-Shabaab Mujahidin.

Juru bicara FBI Kathleen Wright mengakui bahwa penegak hukum menyadari akan ancaman itu, merujuk pada kesaksian yang diberikan kepada Kongres oleh Direktur FBI Robert Mueller di bulan Maret, di mana ia menjelaskan mengapa radikalisasi di AS adalah lebih sering terjadi sekarang daripada di masa lalu.

"Pertama, ekstrimis Amerika tampaknya tertarik untuk perang di luar negeri," kata Mueller. "Kita telah melihat sejumlah orang Amerika bepergian ke luar negeri untuk berlatih dan berperang bersama kelompok ekstrimis. "
Pada tahun 2010, FBI dan DHS yang memonitor perbatasan Meksiko AS ketika ada informasi bahwa 23 warga Somalia, sebagian yang memiliki hubungan dengan Al-Shabaab, merencanakan untuk masuk secara ilegal Amerika Serikat setelah keliru dibebaskan dari tahanan oleh ofisial Meksiko.

Para pejabat AS tidak tahu berapa jumlah pemuda yang telah meninggalkan AS untuk berjuang bersama kelompok pemberontak Suriah, tetapi di Eropa ratusan pemuda telah kembali ke tanah air mereka untuk berperang, menurut pejabat intelijen Eropa dan laporan berita dari daerah.


Merekrut Para Teroris

Kelompok Al-Qaeda bekerja sama di zona perang di luar negeri - berbagi informasi dan merekrut anggota baru, menurut pejabat intelijen AS yang berbicara kepada The Blaze dan Bucci.

Klaim oleh Obama bahwa al-Qaeda "disebarluaskan," memberikan kekuatan kepada para teroris di sini di rumah dan mengurangi penjagaan Amerika dan Eropa yang menjadi sasaran utama kelompok itu, kata Bucci.

"Mengatakan bahwa al-Qaeda berkurang, dan mencoba untuk lebih spesifik Anda gigit jari untuk itu, itu tidak jujur​​," kata Bucci, yang kini direktur Douglas dan Sarah Allison Pusat Studi Kebijakan Luar Negeri di Heritage Foundation. "Jaringan al-Qaeda ini bekerja sama di Mali, Libya, Aljazair, Yaman, Suriah, Somalia, Irak dan menjalin hubungan dengan pengikut-pengikutnya di seluruh dunia. Mereka adalah kelompok teroris transnasional yang bertukar keahlian dan narasi. "

Rabu, 22 Mei 2013

Yordania Menolak Masuknya Ribuan Pengungsi Suriah


21 Mei 2013
Sumber : Jpost


AMMAN - Yordania telah menolak ribuan pengungsi Suriah dalam seminggu terakhir dalam tindakan keras pertama sejak krisis di Suriah dimulai lebih dari dua tahun lalu, para diplomat, aktivis dan pekerja bantuan mengatakan pada hari ini.

Yordania, karena menjadi tuan rumah konferensi internasional tentang Suriah pada Rabu, telah menerima 473.587 pengungsi Suriah dari total 1,5 juta yang melarikan diri dari konflik empat bulan terakhir, angka PBB menunjukkan.


Keempat titik persimpangan digunakan oleh pengungsi mencoba melarikan diri dari pemboman di provinsi selatan Deraa telah ditutup sejak enam hari terakhir, pengungsi dan pekerja bantuan mengatakan, meskipun perbatasan resmi Jaber tetap terbuka.

Mereka mengatakan keluarga-keluarga Suriah yang mencoba untuk masuk ke Yordania dari desa-desa perbatasan yang dikuasai pemberontak Nasib dan Tel Shehab telah ditolak tanpa alasan yang diberikan oleh Yordania.


"Pihak berwenang Yordania telah berhenti menerima pengungsi apapun keadaan mereka, kecuali yang terluka," Abu Hussein al-Zubi, seorang pekerja bantuan Suriah dihubungi melalui telepon di Nasib, di mana ia mengatakan sedikitnya 1.000 pengungsi terdampar.
"Sekarang ada banyak pengungsi berkumpul di perbatasan berusaha untuk memasuki Yordania dan menunggu perbatasan untuk dibuka," katanya.

Eksodus diantara pemberontak Suriah dan pasukan Yordania di kedua sisi perbatasan hanya ditandai oleh kawat berduri dan penghalang Yordania penjaga menara.
Seorang diplomat dari negara Barat mengkaitkan penutupan tersebut dengan langkah-langkah keamanan sebelum pertemuan "Sahabat Suriah" pada Rabu di Amman, dimana menteri luar negeri Barat dan negara-negara Teluk yang menentang Assad akan membahas pencarian solusi politik di Suriah.


"Orang Yordania khawatir tentang masalah keamanan (dan) yang mengirimkan sinyal kepada komunitas internasional menyoroti beban pengungsi yang besar yang sekarang mereka pikul," katanya.
Yordania telah lama berusaha untuk mencari lebih banyak bantuan luar untuk memperjuangkan solusi masuknya pengungsi dalam jumlah besar.



Di Jenewa, seorang pejabat PBB mengatakan adalah penting jika Yordania menjaga perbatasannya tetap terbuka untuk pengungsi.
"Tentu saja kita bicarakan dengan semua orang, kita berdiskusi dengan pemerintah Yordania untuk memastikan bahwa orang dapat menyeberang tanpa menghadapi kesulitan untuk mencapai keselamatan di manapun mereka berada," kata Panos Moumtzis, koordinator regional badan pengungsi PBB UNHCR, pada konferensi pers.

Perwakilan UNHCR di Yordania, Andrew Harper, menegaskan kepada Reuters bahwa aliran pengungsi telah melambat dalam beberapa hari terakhir, tapi mengatakan tidak ada alasan yang jelas.


"Apa yang kami cukup yakini bahwa para pengungsi tidak datang ke perbatasan. Saat ini akses jalan menuju perbatasan ditutup," katanya.

Harper mengatakan kurang dari 30 pengungsi telah tiba di tiga hari terakhir, dibandingkan dengan yang biasa 1.000 hingga 2.000 per hari, tapi katanya Yordania telah memberitahu UNHCR mereka tidak memulangkan kembali para pengungsi.

"Orang Yordania mengatakan aliran pengungsi dibatasi di sisi lain ... dan orang-orang tidak benar-benar mencapai ke perbatasan, apakah itu benar atau tidak," katanya.

Para pejabat Yordania tidak berkomentar secara publik.
Badan-badan PBB mengatakan secara pribadi mereka tidak dapat memverifikasi apa yang terjadi di perbatasan karena mereka hanya mendaftar pengungsi ketika mereka tiba di kamp Zaatari, yang menampung lebih dari 100.000 orang dan kamp pengungsi Suriah terbesar di kawasan ini.

Harper mengatakan sangat diperlukan untuk memperluas upaya bantuan di dalam wilayah Suriah selatan untuk meringankan beban Yordania, dimana sumber-sumber bantuan sangat kurang.






Selasa, 21 Mei 2013

Fatah Dan Organisasi Pembebasan Palestina


21 Mei 2013
Sumber : unknown



Fatah adalah fraksi Palestina terbesar dalam Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), memiliki orientasi nasionalisme Arab sayap kiri. Dengan demikian dianggap sekuler.
Mahmoud Abbas adalah pemimpin Fatah, PLO, dan Otoritas Palestina. Fatah didirikan pada tahun 1959 oleh almarhum Yasser Arafat. Arafat menciptakan PLO pada tahun 1964 sebagai organisasi payung paramiliter untuk berbagai fraksi militan Palestina. 


Sekitar 100 negara mengakui PLO sebagai wakil dari rakyat Palestina. Sebelum tahun 1991 dan setelah 2004, AS menganggap PLO sebagai organisasi teroris. Namun, pada tahun 1993, PLO mengakui hak Israel untuk eksis - yang kemungkinan salah satu alasan utama mengapa Hamas, saingan Fatah, bukan merupakan bagian dari PLO.


Pendiri filosofis PLO adalah Amin al-Husaini, Mufti Agung Yerusalem, kadang-kadang disebut sebagai "Hitler Mufti." Al-Husaini adalah pemimpin pemberontakan Palestina 1936 melawan mandat pemerintahan Inggris. Ia menerima bantuan keuangan dari Fasis Italia dan Secret Service Nazi. Di bawah kepemimpinannya, Arab Komite Tinggi, proto-PLO, membunuh ratusan pemimpin Arab moderat. Siklus kekerasan dilepaskan oleh al-Husaini berlanjut hingga hari ini dalam budaya Palestina. Al-Husaini melarikan diri Palestina pada tahun 1937 ke Libanon. Setelah Perang Dunia II dimulai, al-Husaini bergabung dengan Axis, merekayasa kudeta Irak yang gagal melawan Inggris pada 10 Mei 1941. Ketika kudeta gagal, al-Husaini terbang ke Jerman. Dia mendesak Hitler untuk mempercepat "Solusi Akhir" untuk memusnahkan Yahudi Eropa. Al-Husaini juga membantu merekrut Muslim Bosnia ke-13 Waffen SS Divisi, merupakan bagian dari elit mesin perang Nazi yang bertanggung jawab atas pembunuhan sekitar 80% dari 14.000 orang Yahudi Bosnia.


Dalam salah satu siaran propaganda Nazi al-Husaini untuk dunia Arab, katanya, "Arab, muncul sebagai salah satu manusia dan memperjuangkan hak-hak suci. Bunuh orang-orang Yahudi di mana pun Anda menemukan mereka. Ini menyenangkan Tuhan, sejarah, dan agama. Ini menghemat kehormatan Anda. Allah menyertai kamu. " Setelah perang, al-Husaini melarikan diri ke Mesir, di mana ia membantu mengatur Komando Lapangan Palestina - cikal bakal PLO. Dia meninggal pada tahun 1974, dihukum atas kejahatan perang. Almarhum Ketua PLO Yasser Arafat adalah sepupu dari al-Husaynis. Arafat belajar di bawah bimbingan Mufti, dimana ia belajar banyak dari anti-Semitisme langsung dari kontemporer Hitler. Setelah upaya Arab gagal untuk menghancurkan Israel pada kemerdekaannya pada tahun 1948, dan kemunduran militer Arab di tahun 1967 dalam "Perang Enam Hari", Palestina sengaja membentuk pengungsi. Tidak ada bangsa Arab mengasimilasi mereka, malah melihat sebagai bahaya bagi stabilitas mereka sendiri serta sebagai senjata untuk mempertahankan serangan terhadap Israel.


Dari tahun 1969 sampai 1970, Yordania mengizinkan PLO untuk menyerang Israel dari pangkalannya dalam "Perang Atrisi." Tindakan balasan Israel dan semakin kuatnya PLO membuat raja Yordania memerintahkan pasukannya untuk mengeluarkan PLO pada bulan September 1970, yang dikenal sebagai "Black September." Sebagian besar PLO pindah ke Libanon, dimana mereka mencerai beraikan demografi dan keseimbangan politik bangsa, menyiapkan perang sipil Lebanon. Pada tahun 1982, teror serangan terhadap Israel dari Lebanon menjadi begitu parah sehingga Israel menginvasi negara itu. AS campur tangan untuk menyelamatkan PLO, mengirim banyak pemimpin ke Tunisia. Ironisnya, intervensi Israel di Libanon yang dianggapa para analis justru menumbuhkan jaringan Hezbollah, kelompok teror yang bertanggung jawab atas pemboman 1983 barak Marinir Beirut dan Kedutaan Besar AS. Terjepit di antara kegagalan ini, Yasser Arafat mulai melakukan langkah tentatif pertama ke arah perdamaian dengan Israel pada pertengahan 1970-an. Pengasingan di Tunisia membuat PLO kurang efektif, dan pada tahun 1987, ketika "Intifada Pertama," atau pemberontakan  terjadi di Tepi Barat dan Jalur Gaza, PLO menemukan dirinya keluar dari tekanan. Pada tahun 1987, dengan kerusuhan yang dipimpin non-PLO ini, bahwa Hamas lahir dari frustrasi Palestina dengan impotensi dan korupsi PLO.


Orang Israel Terkejut Melihat Bendera Nazi Berkibar Dekat Mesjid Palestina


21 Mei 2013
Sumber : Theblaze


Di pagi hari Senin kemarin di sekitar pemukiman Israel mendadak menjadi perhatian orang Israel ketika mereka melihat bendera merah-swastika berkibar dekat sebuah masjid di Beit Omar, sebuah desa Palestina di luar Hebron.



Ribuan warga permukiman Yahudi di dekat Hebron dan Betlehem di Yudea (Tepi Barat selatan) melakukan perjalanan ke dan dari tempat kerja di jalan dimana bendera itu terlihat.


The Tazpit News Agency, yang memfoto bendera Nazi itu, melaporkan warga "terkejut" melihat simbol pembantaian jutaan orang Yahudi selama Perang Dunia II itu sedang berkibar.

Uri Arnon, yang melihat bendera itu, mengatakan kepada kantor berita Tazpit: "Saya merasa kami kembali 75 tahun yang lalu, kehilangan kendali atas tanah kami. Orang-orang Arab tidak lagi merasa canggung untuk menyembunyikan kecenderungan mereka yang kejam, mengumumkan dengan suara keras bahwa mereka ingin menghancurkan kami. "


Aryeh Savir dari Kantor Berita Tazpit mengatakan kepada TheBlaze, "Kantor Koordinasi Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT) untuk IDF [Pasukan Pertahanan Israel] merespon bahwa mereka menunggu karyawan perusahaan listrik Palestina untuk datang dan menurunkannya karena berada pada jaringan listrik. "

Beit Omar, juga dikenal sebagai Beit Ummar, terletak di bagian Tepi Barat yang dikenal sebagai area dimana Otoritas Palestina berurusan dengan kepentingan sipil sehari-hari, sedangkan IDF bertanggung jawab untuk isu-isu terkait militer dan keamanan nasional.

Ada riwayat simpati Nazi di kalangan rakyat Palestina. Yang paling terkenal, pemimpin Palestina Haji Amin al Husseini yang menjabat sebagai Mufti Agung Yerusalem selama 1920-an dan 1930-an, adalah seorang kolaborator Nazi vokal dan bahkan bertemu dengan Adolf Hitler. Dia juga merekrut Muslim untuk melayani di SS. Ini foto terkenal dengan Hitler diambil pada tahun 1941.





Baru minggu lalu, Profesor Columbia University Joseph Massad secara lugas dikritik karena menulis artikel di sebuah kolom di situs Al Jazeera dimana ia mengklaim bahwa Zionisme adalah anti-Semitis dan bahwa ada "kesamaan antara Nazi dan Zionis." Karena banyaknya  kritik, Al Jazeera menghapus kolom tersebut.


Kamis, 22 Maret 2012

Dampak Revolusi Mesir Bagi Minoritas


By. Josua Sihotang
21 Maret 2012



  Telah memasuki tahun kedua ketika tuntutan Revolusi di Mesir mulai berkumandang. Revolusi yang biasa dikenal "Arab Spring" merambah ke seluruh negara-negara Arab bahkan negara-negara mayoritas Muslim. Dari Maroko hingga Mesir, dari Yaman hingga Siria. Ribuan orang telah menjadi korban, belum lagi korban material yang tak terhitung nilainya. Ketika kekosongan kepemimpinan ini terjadi suatu bangsa akan mengalami masa transisi menuju suatu bentuk pemerintahan yang (mungkin) baru. Bangsa Indonesia juga telah mengalami masa-masa suram ketika Revolusi 1965 terjadi. Demonstrasi rakyat di jalan-jalan akibat krisis ekonomi dan ketidakstablian kondisi keamanan nasional adalah reaksi nyata menuntut transformasi secara fundamental.

  Banyak orang percaya revolusi adalah buah dari demokrasi, dimana rakyat memiliki hak untuk mengekspresikan pendapatnya. Pemberontakan di Mesir ini dianggap telah membangkitkan kembali semangat hubungan dasar dan historis antara massa pemberontak dan demokrasi. Namun apakah demokrasi ini berlaku bagi seluruh rakyat Mesir?

  Kenyataannya revolusi ini justru membuat 8 juta orang Kristen ketakutan. Di bulan Oktober 2011, 8 bulan setelah penggulingan Presiden Mubarak, 26 orang anggota Gereja Coptic terbunuh di Maspero. Ribuan orang Kristen turun ke jalan menuntut keadilan akibat pembakaran, pengrusakan bahkan usaha pemboman Gereja yang terjadi sebelumnya. Pasukan keamanan Mesir menembak secara membabi buta ke arah demonstran, bahkan 3 mobil baja polisi merangsek ke arah demonstran. Bahkan satu orang mati tergilas. Ironisnya, kejadian ini berlangsung setelah sekumpulan orang Muslim melemparkan batu dan bom molotov ke arah demonstran.

  Grup dibalik Revolusi di Mesir ini adalah Muslim Brotherhood (Ikhwanul Muslimin). Dibentuk di Mesir pada tahun 1928, IM adalah suatu gerakan Islam yang global dan revolusional yang didisain untuk membuka jalan bagi Khalifa Islam (Global Islamic Caliphate) dibawah hukum Shariah. Awalnya gerakan ini bertujuan untuk menyebarkan moral-moral dan pekerjaan-pekerjaan baik secara Islam, akan tetapi kemudian berubah dan ikut berpartisipasi di politik, terutama sekali perjuangan untuk menyingkirkan pengaruh Inggris dan negara Barat dari Mesir. Setelah usaha mereka untuk membunuh Preisden Gamal Abdul Naser di tahun 1954 gagal, IM dilarang eksis dan kemudian ribuan anggotanya dipenjara dan disiksa. Sejak saat itu IM bergerak bawah tanah.
IKhwanul Muslimin menyuarakan 5 garis fundamental:
*Allah adalah tujuan kami; Nabi Muhammad adlaah penuntun kami; Qur'an adalah konstitusi kami; Jihad adalah jalan kami; Martir bagi kebesaran Allah adalah ambisi terbesar kami.

  Ketakutan orang-orang Kristen di Mesir semakin nyata karena signal IM akan mengubah sistem pemerintahan yang sekuler menjadi Shariah telah menggaung di seluruh Mesir. Di bulan Januari 2012, Associated Press (AP) melaporkan bahwa "Grup fundamentalis ini telah meredakan isu akan legislasi secara Islamic, akan memfokus pada perbaikan ekonomi Mesir." Namun di bulan Februari 2012, Reuters menggambarkan situasi lain "sesudah berbulan-bulan meredam kritikus sekuler, politisi Islam di Tunisia dan Mesir telah mulai menandai bagaimana Muslim cenderung menginginkan agama lebih dari sebelumnya."

  Dengan tenggat waktu menuju politik, koalisi Tunisia dipimpin oleh partai reformis Islam Ennahda dan kepala persaudaraan Muslim Mesir yang berpengaruh menyatakan penekanan kuat pada Islam dalam pemerintahan. Partai tersebut juga menyatakan "menggunakan Shariah Islam sebagai dasar prinsip dari undang-undang akan menjamin kebebasan, keseimbangan sosial, konsultasi, hak azasi manusia dan bartabat semua orang baik laki-laki dan perempuan." Namun tidak dikatakan bagaimana ketat atau longgarnya peraturan terkait.

  Hingga saat ini setidaknya IM beroperasi di 80 negara termasuk USA. Ironisnya pemerintahan Obama menilai bahwa IM bukan gerakan radikal seperti yang dikatakan James Clapper (Director of National Intelligence) di bulan Februari 2011, "sebuah grup yang heterogen, sekuler dan jauh dari kekerasan." Hal ini kontradiksi dengan realita, dimana IM mendukung dan mempromosikan gerakan penggulingan kekuasaan otoriter secara radikal di Mesir, Libya bahkan di Siria.

  Populasi Kristen di Mesir yang berjumlah + 10% dari total, telah mengalami persekusi secara dramatis. Tekanan bahkan kekerasan yang lambat laun semakin meningkat mengakibatkan banyak orang Kristen yang melarikan diri dari Mesir. Rif'at Al-Said, pemimpin partai Al-Tagammu, sebuah partai sekuler progresif, setuju bahwa tidak ada pihak yang menjamin keamanan Coptic Christians, dan beberapa sudah meninggalkan Mesir. Ia berkata tentang 'perjanjian aneh' antara IM dengan Salifis, menggembar gemborkan Osama Bin Laden dan mengibarkan bendera Taliban, mencatat kemudian bahwa IM berdiri tanpa lawan terhadap 'Tentara Salib" di Tahrir Square.

Kamis, 01 Maret 2012

Sekelumit Tentang IDF (Israel Defense Forces)

By. Josua Sihotang
29 Februari 2012
Sumber : IGM




Situasi 1.
Misi anda adalah meledakkan sebuah rumah di dalam teritori musuh yang diduduki oleh teroris. Di dalam mereka menimbun amunisi yang besar yang semata-mata akan digunakan melawan negara anda. Beberapa detik  sebelum anda membom, anda menyadari dari pesawat anda bahwa orang-orang sedang berkumpul di atas rumah tersebut. Apa tindakan anda? Apakah anda tetap berencana membom rumah itu dan beresiko membunuh orang-orang lain? Apakah anda menunda misi tersebut? Anda punya '8 detik' untuk memutuskan.

Situasi 2.
Misi anda menembakkan misil dan menghancurkan sebuah jeep yang membawa sebuah grup teroris yang telah membunuh banyak rakyat anda. Tiba-tiba jeep tersebut mulai bergerak ke arah sebuah gedung di daerah teritori musuh. Anda tidak tahu menahu mengenai gedung itu. Apakah gedung itu sebuah gedung sekolah? Rumah penampungan? Siapakah di dalam? Apa yang harus anda lakukan? Apakah anda membom kendaraan tersebut dan meresiko pembunuhan banyak orang? Apakah anda menunda misi? Anda hanya punya 8 detik untuk memutuskan.

Situasi 3.
Misi anda membunuh satu teroris yang dikenali di dalam teritori lawan yang melarikan diri dengan senjata AK-47 nya. Ia tahu lokasi anda, tiba-tiba ia lari memutar  ke sebuah grup anak-anak yang sedang menunggu bus sekolah. Dengan tangan kanannya, ia merenggut seorang anak dan menjatuhkannya ke tanah. AK-47 di tangan, anak di tangan lain, ia lari berlindung di antara kerumunan, menggunakan anak itu sebagai tameng. Apa yang anda akan lakukan? Apakah anda menembak dan beresiko membunuh anak tersebut? Apakah anda menunda misi? Anda hanya punya kurang dari 8 detik untuk memutuskan.

   Semua contoh di atas adalah situasi riil yang dialami anggota militer Israel setiap hari. Di setiap kasus, pasukan Israel diwajibkan bertindak untuk mencegah adanya korban sipil Palestina. Bahkan, lebih dari 600 orang melihat langsung cuplikan film dari 3 situasi tersebut. Seperti diketahui, 600 juta Muslim mengelilingi 5,6 juta Yahudi Israel. Jadi, Israel harus selalu bertempur untuk melindungi dirinya sendiri dari musuh yang dipersenjatai lengkap yang bersumpah untuk menghancurkan Israel.

   Sebagai tambahan singkat, Israel Defense Force (IDF) adalah angkatan bersenjata untuk Israel, dalam bahasa Ibrani secara akronim Tzahal. Terdiri dari  angkatan darat, angkatan udara dan angkatan laut, IDF adalah sayap militer satu-satunya dari Israeli Security Forces. IDF tidak memiliki jurisdiksi sipil di dalam Israel sendiri, dan dikepalai oleh Panglima Angkatan Bersenjata Ramatkal, subordinat ke Menteri Pertahanan Israel Ray Aluf Benny Gantz. IDF dibentuk menyusul pengesahan 'State of Israel', setelah Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri David Ben-Gurion menyerukan perintah pada tanggal 26 Mei 1948. Perintah itu adalah untuk mengesahkan IDF dan membubarkan semua angkatan bersenjata Yahudi lainnya. IDF berbeda dibandingkan dengan mayoritas angkatan bersenjata lain di dunia. Perbedaan tersebut termasuk wajib militer untuk wanita dan strukturnya, dimana menekankan relasi yang dekat diantara angkatan darat, laut dan udara. IDF juga adalah satu dari institusi terkemuka di Israel yang memiliki pengaruh terhadap ekonomi negara, kultur dan politik. Sejak dibentuk, IDF didisain untuk situasi keamanan Israel yang unik.

   Kol. Bentzi Gruber, seorang veteran IDF, memiliki 20.000 pasukan dibawah komandonya, telah banyak berkecimpung langsung dalam pertempuran, dan ia tahu betul bagaimana tekunnya Israel melindungi rakyat sipil lawan meskipun berita-berita di media melaporkan sebaliknya bahwa rakyat Israel  adalah pembunuh. Dalam usahanya membawa kebenaran, ia mempresentasikan "Etika di Lapangan" dalam satu kunjungannya di New Jersey, US. Ia menggunakan lokasi area yang disorot langsung dari pesawat Israel (drone), dalam banyak kasus film semacam ini sering direkam orang-orang Palestina disaat misi bom bunuh diri sedang berlangsung.

   "Kami tidak ingin membunuh orang sipil," kata Gruber. Jadi berdasarkan situasi 1, dimana sebuah gedung di Gaza menjadi target, para pasukan IDF menjatuhkan dari helikopter ribuan selebaran dalam beberapa bahasa, 48 jam sebelum penyerangan dilakukan. Hal itu dimaksudkan untuk memberitahu rakyat Palestina ketika gedung itu akan dibom dan menganjurkan mereka untuk mengevakuasi diri. Setelah itu, pasukan Israel menelpon dan mengirimkan pesan sms. Biasanya mereka memperoleh sejumlah orang-orang di antara lingkungan mereka sendiri. Ini adalah standart prosedur Israel.

"Tak terpikirkan," kata Gruber, "bagi sebuah pasukan untuk memberitahu lawan sebelumnya ketika anda akan menyerang. akan tetapi kami melakukannya untuk mencegah kehancuran total. Kami meresikokan nyawa kami untuk melindungi orang Palestina."
Meskipun begitu, rakyat Palestina tahu bagaimana mengambil kesempatan dari belas kasihan Israel. Ketika mendekati waktu penyerangan, mereka berkumpul di atas atap dari gedung yang ditargetkan, karena mereka tahu bahwa IDF takkan melakukan pengeboman. Jadi Israel menciptakan sebuah prosedur yang dinamakan "knocking on the roof." Ditembakkan sebuah roket pada puncak atap sebagai tanda warning bahwa bom yang lebih besar akan segera datang. Dengan cara demikian orang Palestina akan menyebar.

   Dalam situasi 2, ketika jeep yang terisi teroris berputar ke arah carport, pasukan Israel yang bertugas mempunyai 8 detik untuk mengalihkan roket; dan meledak di daerah tandus. "Ini terjadi berulang kali," lanjut Gruber. Akibatnya teroris bisa melarikan diri. "Kami ambil resiko tersebut. Sasarannya bukan untuk membalas dendam, akan tetapi untuk mencegah teroris itu dari tindakan yang akan dilakukan suatu hari nanti."

  Di situasi 3, teroris yang merenggut anak kecil itu juga bisa melarikan diri. Ketika teroris tahu bahwa mereka sedang dibuntuti di jalan, "mereka mengirimkan anak-anak Palestina keluar untuk bermain sepakbola karena mereka tahu bahwa mereka tidak akan ditembak," demikian kata Gruber. Ia menjelaskan bahwa Israel memiliki 2 aturan utama mencegah kehancuran total: (1) gunakan kekuatan hanya untuk menyelesaikan misi dan (2) jangan sakiti yang tak bersalah - artinya wanita, anak-anak, rakyat sipil dan orang yang tak ikut berperang.
Meskipun demikian, menjelaskan siapa saja orang yang tak ikut berperang tidaklah selalu mudah. Orang Palestina, kata Gruber, sengaja menggunakan jeans, T-shirts, dan apa saja yang membuat mereka tak terdeteksi di antara kerumunan. Mereka tidak berpakaian seperti pasukan tentara, seperti pasukan Israel. Kemudian, ketika salah seorang terbunuh atau terluka, mereka seketika itu membuang senjata mereka dengan dalih seakan-akan IDF menembak rakyat sipil yang tidak bersenjata. Itu semua terdapat di film.

   Gruber juga menunjukkan rekaman dari - yang umumnya - sebuah kamar mandi di dalam sebuah rumah di Gaza Strip hingga Pasukan IDF  membongkar bak mandinya, dan terdapat sebuah lorong dan ratusan bahan peledak, termasuk liquid TNT. Penghuni tersebut juga membuat jebakan di dapur. Smuggling-tunnels (lorong-lorong penyelundupan) adalah bisnis besar. 4 keluarga  di Rafah, daerah selatan dari Gaza Strip, mempunyai 900 tunnels yang begitu besar hingga orang Palestina dapat mengemudi kendaraan membawa alat-alat persenjataan. "Lorong-lorong itu seperti Holland Tunnel" di kota New York, kata Gruber.

   Gruber juga menunjukkan cuplikan film dari mobil - yang dicap - Ambulance UN (PBB) dimana terdapat 2 teroris di dalamnya. 7 orang lagi dengan senjata juga ikut naik. Ia berkata bahwa PBB memberikan dana bantuan di Gaza sebesar $1,3 miliar per tahun, dan disamping itu juga diberikan gaji bagi pengemudi Ambulance plus bahan bakarnya. "Kami mengrimkan banyak ke Gaza," kata Gruber., "termasuk makanan dan obat-obatan. 35% dari saluran listrik di Gaza diperoleh dari pusat listrik Ashkelon Israel, dimana mereka juga berusaha setiap hari untuk menghancukannya dengan roket.

   Negara kecil Yahudi tidak akan berkompromi dengan prinsipnya atau membungkuk terhadap teroris. Kol. Gruber berkata, paska-trauma stres adalah masalah serius, dan negara kehilangan 45 pasukannya per tahun akibat bunuh diri - hampir sama dengan 2500 pasukan Amerika. Kebanyakan karena kehancuran total yang tak terhindarkan sehingga mereka tak dapat hidup dengan memori gelap itu. "Ketika anda membunuh seorang tak bersalah, anda membawa orang tersebut di pundak anda selama hidup," kata Gruber.

   Bahkan, Kol. Gruber membentuk sebuah organisasi bernama Chesed (bahasa Ibrani berarti "kebaikan hati" atau "belas kasihan") di lapangan dimana misinya untuk mengumpulkan para pasukan IDF dengan orang-orang yang terluka atau lemah untuk berbagi pengalaman dan inspirasi. "Ketika pasukan kami adalah orang-orang baik, saaat itulah ketika kami memiliki pasukan kuat dan dapat melindungi negara," Gruber katakan di websitenya (bentzigruber.com). Lanjutnya, "Ketika anda mendengar kebohongan, anda butuh semangat untuk berdiri tegak. Adlaah sebuah kebanggaan bagi saya, berada di IDF untuk melindungi keluarga saya, melindungi Israel dan melindungi dunia barat."

Jumat, 20 Januari 2012

Jurnalis Saudi: Polisi Agama Membiarkan 15 Murid Perempuan Mati Terbakar Karena Tidak Memakai Hijab


19 Jan 2012


Dalam interview yang disiarkan oleh Dream2TV Mesir pada 10 Januari lalu, Jurnalis Saudi Nadin Al-Badir menceritakan kembali perlakuan kejam hingga pembunuhan yang mengerikan - termasuk memaksa lebih dari satu lusin anak-anak perempuan sekolah terbakar hidup karena tidak memakai pakaian resmi tradisional Islam penutup kepala pada saat kejadian - dilakukan oleh polisi agama setempat atau dinamakan "Otoriti Untuk Kebijakan Promosi" (Authority for the Promotion of Virtue). Jurnalis tersebut juga menyatakan bahwa kebanyakan dari polisi-polisi itu adalah mantan pelaku kriminal baik itu pemakai obat-obat terlarang atau pengedar.

Al-Badir menjelaskan, "Bahkan Sheik Abd Al-Muhsen Al-Abikan, penasehat pengadilan negara menyarankan bahwa Otoriti tersebut seharusnya dibubarkan." Ia menambahkan, "Ia berkata bahwa kebanyakan dari mereka dulunya adalah pengedar obat-obat terlarang, juga pemakainya, pencuri dan mantan kriminal jalanan yang telah bertobat secara tiba-tiba dan kini lebih ekstrim kasar. Orang-orang ini, menurut Sheik Al-Abikan, seharusnya tidak diijinkan memiliki akses di setiap otoritas, karena mereka melakukannya dengan cara yang tidak benar."

Di segmen awal, Al-Badir menceritakan kisah 28 tahun Hassan Nabil Hmeid, yang dipukul berkali-kali hingga mati karena membiarkan rambutnya hinga panjang.
"Pada akhirnya, semua hal yang mereka tuju adalah sesuatu yang dangkal." Al-Badir mengatakan, "Yang pasti bahwa hidup laki-laki ini berakhir akibat orang-orang yang sensitif untuk bereaksi, yang ingin membawa jaman ini kembali ke ratusan tahun yang lalu. Saya tidak percaya situasi pada saat itu lebih buruk dari yang mereka inginkan terjadi."

Al-Badir juga mengingatkan akan insiden mengerikan ini ketika kebakaran terjadi di sekolah perempuan Arab Saudi itu, akan tetapi seluruh murid perempuan yang ada di dalam dipaksa untuk tinggal di dalam gedung yang terbakar hingga mereka juga ikut mati terbakar, karena mereka tidak memakai hijab.
"Akan lebih mudah untuk memadamkan api tanpa seorang pun terluka. Tetapi anggota dari Otoriti itu berdiri di depan pintu dan mencegah murid keluar, dikarenakan para murid sedang tidak memakai hijab."
"Bagaimana mereka bisa memakai hijab ketika sekolah sedang dilalap api?" lanjutnya. "Mereka juga mencegah orang tua untuk masuk ke area."
"Akan tetapi adalah sebuah kewajiban untuk menyelamatkan mereka dari kematian. Siapa yang peduli kalau mereka memakai abaya atau tidak? Misi mereka adalah menyelamatkan orang dari api neraka, bukan dari kematian," Al-Badir merespon. "Mereka percaya bahwa anda akan mati secara martir. Saya tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka saat itu."Al-Badir melanjutkan:
Saya bicara tentang murid sekolah usia 13 tahun, bukan mahasiswa. Mereka ini murida perempuan. 15 murid mati akibat Polisi Otoriti tersebut, bukan karena api. Mudah saja para murid diselamatkan. Apakah anggota Otoriti itu diadukan ke pengadilan? Tidak yang saya lihat. Departemen Pendidikan untuk Anak Perempuan dianeksasi ke Kementerian Pendidikan, namun Otoriti tidak pernah bertanggung jawab. Menghukum, tapi tidak pernah dihukum sendiri. Anda tidak pernah bisa mendapatkan keadilan. Bahkan jika mereka menusuk atau membunuh Anda, tidak ada yang bisa menahan mereka bertanggung jawab. 
Al-Badir berkata, komplain yang telah diajukan terhadap Otoriti menjadi sia-sia, dimana tidak ada aksi pengadilan telah diambil. Ia juga menggarisbawahi bahwa rata-rata dari "semua bentuk tindakan pelecehan seksual adalah yang tertinggi."
"Otoriti itu adalah musuh masyarakat. Bagaimana bisa mencegah hal itu??

Sumber :

Rabu, 11 Januari 2012

Pengungsi Palestina Akibat Konflik


By. Josua Sihotang
10 Jan 2012



Di bulan Mei 1948 populasi lokal Arab bergabung dengan 7 negara-negara Arab (Lebanon, Siria, Mesir, Yordania, Irak, Arab Saudi dan Irak) sebagai aksi untuk  menghancurkan pendirian kembali negara baru Yahudi.
Negara-negara tersebut menjanjikan kemenangan bagi penduduk lokal Arab tersebut yang pada kenyataannya berakhir dengan kekecewaan. Sekitar 500 ribu penduduk Arab itu mengungsi ke Yordania, Lebanon dan Siria.

Angka itu tidak sebanding dengan jumlah 850 ribu pengungsi Yahudi dari Yaman, Mesir, Iran, Irak, Maroko, Algeria, Tunisia dan Libia yang dipaksa keluar dari rumahnya. Yahudi tidak diakui kewarganegaraannya, hingga milik properti mereka juga ikut disita.

Kebalikannya, 160 ribu penduduk Arab saat itu disaat Israel diakui kedaulatannya di tanah mereka justru diperbolehkan menetap. Angka itu kini telah mencapai 1,25 juta dan memperoleh hak-hak penuh sebagai warganegara yang tinggal di Israel.

Kini justru muncul pertanyaan, pernahkah kita mendengar "kampung pengungsi Yahudi"?
Sepertinya tidak. Karena mereka diterima di negara-negara non Arab seperti USA dan Eropa. Kontras dengan keadaan pengungsi-pengungsi Palestina yang tidak diterima baik di negara-negara Arab lain. Jumlah 500 ribu itu kini membengkak hingga 4,7 juta. Faktanya sangat menyedihkan, misalnya ; tidak menerima status warganegara (kecuali di Yordania), dihalang-halangi untuk bekerja sebagai profesional, restriksi akan kepemilikan properti tanah, restriksi berkendaraan dan penolakan akan pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Sir Alexander Galloway (1895-1977), mantan direktur UNRWA (Badan untuk pengungsi Palestina) di Yordania bereaksi keras terhadap diskriminasi ini,
"...bangsa-bangsa Arab tidak ingin menyelesaikan masalah pengungsi Arab. Mereka ingin membiarkannya sebagai 'luka terbuka' sebagai senjata untuk melawan Israel.." (April 1952)
Pernyataan itu semakin diperkuat oleh Presiden Mesir Nasser, yang menganggap penolakan pengungsi-pengungsi Palestina itu akan memaksa mereka kembali ke Israel, sehingga akan menjadi benalu dan merusak Israel dari dalam dengan menanamkan rasa kebencian di setiap generasi pengungsi,
"..jika pengungsi-pengungsi itu kembali ke Israel, Israel akan habis.." (1 Sep 1960)

Lalu apa peran PBB saat itu? Sayangnya nyaris tidak ada. Di saat semua kasus yang berhubungan dengan pengungsi berada di bawah naungan UNHCR, badan khusus untuk pengungsi Palestina UNRWA justru dibentuk. Dengan harapan para pengungsi Palestina mendapat jaminan kehidupan baru dari UNRWA seperti yang dilakukan UNHCR terhadap pengungsi-pengungsi Bosnia atau Sudan malah berujung kekecewaan.
Misalnya;
  • Melalui UNHCR status pengungsi akan berubah menjadi warganegara di negara yang menerima, melalui UNRWA sebaliknya
  • Melalui UNHCR, para pengungsi tidak dapat mewariskan status pengungsi dari generasi ke generasi, melalui UNRWA bisa
  • UNHCR mendukung pengungsi untuk berintegrasi di negara yang baru, UNRWA justru mencegah kebijakan tersebut
Di lain hal, sebelum pembentukan PA(Palestinian Authority), negara-negara Arab menunjuk ke dilema pengungsi Palestina sebagai simbol konflik, menggunakannya sebagai perangkat untuk mengalihkan perhatian dari kelemahan domestik mereka. Gagasan pengembalian penuh ke rumah mereka telah tertanam dalam jiwa pengungsi Palestina. Hari ini, dengan generasi ketiga dari pengungsi Palestina menuntut pengembalian penuh, masalah ini semakin campur aduk. Sedangkan pada tahun 1950, hanya ada lebih dari 700.000 pengungsi yang terdaftar, sekarang jumlah ini hampir lima juta.

Jika pengembalian penuh itu terjadi, para pengungsi ditambah warga Palestina Israel akan melebihi jumlah Yahudi Israel. Meskipun dalam negosiasi sebelumnya dengan Israel, Palestina menerima kembalinya sejumlah pengungsi di bawah reunifikasi keluarga, mereka tetap dituntut untuk mempertahankan prinsip "hak untuk kembali" dalam setiap perjanjian damai. Khawatir bahwa suatu hari nanti dapat menghidupkan kembali Palestina isu "hak untuk kembali", Israel terus menolak setiap referensi untuk itu untuk memastikan mayoritas Yahudi yang berkelanjutan dan mempertahankan identitas negara Yahudi.

Dengan biaya pengeluaran yang 3 kali lebih besar dari UNHCR, UNRWA praktis tidak menyumbangkan solusi atau kontribusi bagi jutaan pengungsi. Ironis bagi pengungsi-pengungsi Arab abad 20 ini, di saat mereka terjebak antara kepentingan pemimpin-pemimpin Arab yang menolak saudara-saudara mereka sendiri dan UNRWA yang tidak bersandar kepada prinsip universal terhadap para pengungsi.

Inikah keadilan?